Gen-Z & Digital (Analisadaily/istimewa)
DISRUPSI digital. Masalah atau bukan ? Ini masih dibicarakan sejak beberapa waktu lalu sampai kini. Dari berbagai perspektif sisi.
Tak cuma di kampus atau dalam forum ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tatkala pakar dan publik menelaah kemajuan iptek yang berdampak dalam aneka aktivitas kehidupan keseharian. Pula, bukan cuma aktivitas kegiatan biasa, melainkan sampai juga urusan bisnis.
Generasi muda menjadi satu dari bagian publik yang serius dalam membicarakan ini. Fokus makin melebar. Disinggung teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sebutan populer, akal imitasi (= AI). Tak cukup disitu. Media massa juga kebagian ini. Seberapa media masif dalam hal itu ?
Medium ini bagai tak habis-habisnya berkaitan dengan hal itu. Ya. Menguatkan media dalam operasional atau meningkatkan kualitas sajian ? Atau akses masuk kancah edukatif.
Generasi-Z (Gen-Z) tak diam begitu saja. Banyak pihak menyebut, generasi ini mampu menjadi penerobos dalam literasi digital. Bukan main ! Benarkah ? Lagi-lagi media dihubungkan dalam hal ini. Sejumlah pemangku kepentingan (stakeholders) ambil bagian, tak kecuali media.
Kalau begitu bagai satu jaringan saling melengkapi. Siapa itu ? Tak lain gen-Z, media dan pemangku kepentingan. Di sini, informasi yang bergulir menjadi hal penting bersamaan dengan literasi digital yang melanda gen-Z.
Semua pihak seolah senada. Gen-Z dan milenial menjadi pengguna dominan dalam kemajuan iptek, sebut saja untuk akal imitasi (AI). Suatu hal agaknya menggembirakan, kesibukan dalam aktivitas itu masih dalam koridor positif yakni seumpama pendidikan dan hiburan.
Dari sisi lain. Dampak negatif juga banyak. Para pakar teknologi dengan gamblang menyebut teknologi kecerdasan buatan (akal imitasi/AI) tetap masih melahirkan sisi jelek. Misal, data atau informasi yang tak valid.
Media massa mengambil sisi manfaat besar dari teknologi digital. Meski dengan catatan seberapa sungguh-sungguh tetap siap melakukan verifikasi. Sisi ini yang terus juga dipermasalahkan berbagai publik bersamaan dengan masalah capaian tingkat literasi di semua lapisan publik.
Mungkin. Dibutuhkan keberanian dengan pertimbangan langkah matang dalam penanganan penggunaan teknologi digital. Patut pula diperhatikan, lapisan masyarakat dengan berbagai tingkat latar belakang berbeda, menentukan pencapaian akhir.
Artinya : 1. Tatkala media massa menggunakan teknologi digital. Apalagi dengan prinsipil agar tak tertinggal. 2. Lahirnya teknologi digital yang secara menggoda gen-Z dan milenial dalam aneka platform digital. 3. Literasi digital belum maksimal, meski terus menerus diterapkan pada gen-Z dan milenial. 4. Disrupsi digital masih dibicarakan dengan harapan mestinya menguatkan media.
Dari setidaknya empat butir itu, semua pihak yang saling terkait diharapkan dapat melakukan langkah-langkah memberi nilai berarti bagi keselarasan dunia teknologi digital. Bukan mustahil pula ada sisi yang saling menguatkan untuk mencapai suatu hasil terbaik.
Generasi muda dalam era digital melalui media atau bersama media berupaya meraih satu target tertentu. Apa itu. Tentu macam-macam. Silakan saja.
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa










