IR Songket Siapkan Inovasi Wastra Melayu Deli di KKSU 2026 (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Di tengah derasnya arus modernisasi, ketika banyak warisan budaya perlahan terpinggirkan, IR Songket (Songket Deli) justru membuktikan bahwa tradisi dapat berkembang seiring zaman. Berawal dari semangat melestarikan budaya Melayu Deli, usaha yang kini dikelola Irfania Ramadhani Lubis atau akrab disapa Fanny itu tumbuh menjadi salah satu UMKM wastra unggulan binaan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara yang berhasil membawa Songket Deli tampil hingga panggung internasional
Dari proses tersebut lahirlah motif Daun Tembakau Deli yang kini menjadi identitas khas Songket Deli.
"Yang menginspirasi kami adalah keinginan untuk memperkenalkan kembali budaya Melayu Deli yang mulai terlupakan. Kami melihat masyarakat Melayu Deli memiliki warisan budaya yang sangat kaya, penuh filosofi, dan memiliki nilai yang penting untuk terus dilestarikan," ujar Fanny, saat ditemui Analisa, Jumat (17/7).
Pada akhir 2014, setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta, Fanny kembali ke Medan dan mulai membantu usaha yang dirintis sang ibu. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2016, ia dipercaya mengambil alih pengelolaan usaha karena sang ibu mulai disibukkan dengan aktivitas lainnya.
Di bawah kepemimpinannya, IR Songket tidak hanya mempertahankan proses tenun tradisional, tetapi juga mulai mengembangkan inovasi. Motif-motif songket kini dirancang secara digital sebelum ditenun secara manual, sehingga mampu menghadirkan desain yang lebih beragam tanpa menghilangkan nilai tradisi.
"Kami ingin menghadirkan budaya Melayu Deli ke dalam ranah yang lebih kontemporer, terutama di dunia fesyen, tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitasnya," katanya.
Selain menghasilkan produk, IR Songket juga terus menjalankan misi regenerasi penenun. Menurut Fanny, sebagian besar penenun saat ini telah berusia lanjut sehingga diperlukan upaya serius agar keterampilan tersebut tidak hilang.
"Kami rutin melatih penenun baru karena regenerasi menjadi perhatian utama kami. Harapannya keterampilan menenun tetap hidup dan budaya Melayu Deli terus diwariskan kepada generasi berikutnya," ujarnya.
Perjalanan usaha tersebut mendapat titik penting ketika pada 2015 IR Songket bergabung sebagai UMKM binaan Bank Indonesia. Menariknya, proses itu berawal dari sebuah unggahan di media sosial Facebook yang menarik perhatian salah seorang pegawai Bank Indonesia.
Setelah melakukan kunjungan dan diskusi ke galeri, IR Songket resmi menjadi UMKM binaan Bank Indonesia melalui program pembinaan tenun. Baru pada 2025 usaha tersebut bergabung dalam program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI).
Menurut Fanny, pembinaan yang diberikan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan usahanya.
"Awalnya kami menjalankan usaha hanya berdasarkan pengalaman. Setelah menjadi binaan Bank Indonesia, kami mendapatkan pelatihan manajemen, sertifikasi, pendampingan, hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran. Itu sangat membantu perkembangan usaha kami," ungkapnya.
Melalui fasilitasi Bank Indonesia, IR Songket pernah mengikuti pameran di Singapura pada 2017 dan New York pada 2018. Pengalaman tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus memperkenalkan Songket Deli kepada dunia internasional.
Tak hanya itu, IR Songket juga aktif mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI), tergabung dalam ekosistem Industri Kreatif Syariah (IKRA), serta memperoleh berbagai program pendampingan usaha seperti MUBI.
Pada 2021, CV IR Kriya Melayu yang menaungi IR Songket juga berhasil memperoleh Sertifikasi SNI ISO 9001:2015 dan Sertifikasi SNI Produk melalui fasilitasi Bank Indonesia.
"Bagi kami, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting karena menunjukkan bahwa produk tradisional juga mampu memenuhi standar mutu nasional," katanya.
Kini Songket Deli tidak lagi identik hanya dengan pakaian adat. Berbagai inovasi dilakukan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, mulai dari layanan custom order, pilihan warna pastel, hingga koleksi ready to wear yang menyasar perempuan karier.
Perubahan tren juga terlihat dari konsumennya. "Kalau dulu yang datang biasanya orang tua untuk membeli songket pernikahan anaknya. Sekarang justru calon pengantin muda yang datang langsung memilih desain sesuai keinginan mereka. Bahkan banyak anak muda yang mulai tertarik menggunakan songket dalam berbagai kesempatan," ujar Fanny.
Menurutnya, sejumlah merek fesyen nasional juga mulai melirik Songket Deli. Salah satunya melalui kerja sama dengan Buttonscarves yang memesan kain songket menggunakan motif khas mereka.
KKSU 2026
Momentum tersebut kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) 2026 yang digelar Bank Indonesia. Tahun ini IR Songket kembali menjadi bagian dari rangkaian pameran sekaligus menampilkan koleksi terbaru dalam ajang Medan Fashion Trend.
Fanny mengatakan, IR Songket akan membuka booth pameran selama KKSU serta berkolaborasi dengan Nauli Ecoprint pada pergelaran busana 24 Juli.
"Kami sedang menyiapkan koleksi baru khusus untuk fashion show. Selain menghadirkan motif baru, kami juga memperbanyak stok tenun dengan warna-warna yang sedang menjadi tren serta menyiapkan lebih banyak koleksi ready to wear," katanya.
Selain mengelola IR Songket, Fanny yang kini tergabung dalam Indonesian Fashion Chamber (IFC) juga ikut terlibat dalam pelaksanaan Medan Fashion Trend sebagai bagian dari tim penyelenggara.
Baginya, KKSU merupakan ruang yang terus berkembang dalam mendorong UMKM naik kelas.
"Saya mengikuti KKSU sejak pertama kali diselenggarakan. Awalnya skalanya masih kecil, sekarang jauh lebih besar dan dampaknya semakin luas. Dulu belum ada fashion show, sekarang menjadi salah satu daya tarik utama. Bank Indonesia tidak hanya membantu pengembangan bisnis, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan," ujarnya.
Ia mengakui, keikutsertaan dalam KKSU juga berdampak nyata terhadap penjualan.
"Kalau dihitung secara harian, selama mengikuti KKSU penjualan bisa meningkat sekitar 50 persen dibandingkan hari biasa," katanya.
Bagi Fanny, keberhasilan IR Songket bukan semata-mata tentang pertumbuhan bisnis, melainkan bagaimana warisan budaya Melayu Deli tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ia berharap KKSU 2026 menjadi jembatan yang semakin memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara kepada generasi muda.
"Tantangan terbesar sekarang adalah mengenalkan wastra Indonesia kepada generasi milenial, Gen Z hingga Gen Alpha. Harapan saya, melalui KKSU semakin banyak masyarakat mengenal, memahami, dan menghargai proses panjang di balik setiap karya wastra Indonesia," pungkasnya. (WITA)











