RSI Kerja Sama Fakultas Pertanian USU dan Pemprovsu, Kolaborasi Tentang Kelestarian Ekosistem Danau Toba

RSI Kerja Sama Fakultas Pertanian USU dan Pemprovsu, Kolaborasi Tentang Kelestarian Ekosistem Danau Toba
RSI Kerja Sama Fakultas Pertanian USU dan Pemprovsu, Kolaborasi Tentang Kelestarian Ekosistem Danau Toba (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Regal Springs Indonesia (RSI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) untuk bekerja sama dalam pengelolaan keberlanjutan ikan pora-pora sebagai kekayaan hayati dalam mendukung kelestarian ekosistem Danau Toba.

Penandatanganan MoU (nota kesepahaman) itu dilakukan saat Focus Discussion Group (FGD) dengan tema, "Sinergi dan Kolaborasi dalam Pengelolaan Keberlanjutan Ikan Pora-Pora sebagai Bentuk Kekayaan Hayati untuk Mendukung Kelestarian Danau Toba", Selasa (4/8) di Gedung Bina Graha.

MoU ditandatangani oleh Pj Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu), Sulaiman Harahap, diwakili Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, Sabar Jaya Telaumbanua SPi MSi dan Dekan Fakultas Pertanian USU, Dr Rulianda Purnomo Wibowo SP MEc serta Rachmat Hidayat selaku Head of Corporate Affairs & Sustainability RSI.

Sabar Jaya Telaumbanua mewakili Pj Sekdaprovsu dalam sambutannya menyoroti kondisi ikan pora-pora saat ini di Danau Toba.

Dahulu katanya, para nelayan dapat menangkap ikan pora-pora antara 300 kg hingga 400 kg setiap harinya. Namun beberapa tahun belakangan, populasi ikan pora-pora yang merupakan ikan khas perairan Danau Toba terus mengalami penurunan cukup drastis, bahkan terancam punah.

"Jika tidak ada upaya penyelamatan, jelasnya, maka populasi ikan pora-pora di perairan Danau Toba sudah berkurang hingga 80%. Tentunya isu ini menjadi atensi kita bersama untuk bagaimana bersikap kita dapat berkolaborasi dan bersinergi dalam meningkatkan kembali populasi ikan pora-pora demi keberlanjutan ekosistem Danau Toba," ujar Sabar Jaya.

Sabar Jaya mengungkapkan hasil investigasi yang dilakukan menyebutkan beberapa faktor penyebab turunnya populasi ikan pora-pora tersebut, di antaranya penangkapan ikan pora-pora yang tidak sesuai aturan, penggunaan alat tangkap ikan pora-pora yang tidak sesuai aturan, dan pemasangan alat tangkap ikan pora-pora di muara sungai.

Untuk mengatasi masalah tersebut kata Sabar Jaya, Pemprovsu melalui Dinas Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan verifikasi lapangan sebagai tindakan pengawasan ke pesisir Danau Toba tujuh kabupaten.

"Selain itu, Dinas Kelautan dan Perikanan juga telah melaksanakan operasi rutin di kawasan Danau Toba terkait pemberantasan ilegal fishing ikan pora-pora," ungkapnya.

Sementara Rachmat Hidayat mengatakan, ikan pora-pora merupakan salah satu sumber daya perikanan darat yang dimiliki oleh Provinsi Sumatra Utara. "Ikan ini spesifik sangat digemari, rasanya yang gurih dan juga masyarakat luas sangat menggemari. Mungkin spesies seperti ini ada di Sumatra Barat dan juga dimiliki oleh Sumatra Utara. Cuma karena spesies ini sangat digemari, maka ternyata populasinya belakangan ini semakin terancam. Bahkan di tahun 2020, UICN yang merupakan lembaga internasional yang memantau mengenai keanekaragaman hayati di dunia, telah memasukkan spesies ikan pora-pora ini dalam spesifikasi rentan," ungkapnya.

Rachmat mengungkapkan bahwa hasil kajian ekologis menemukan bahwa ikan pora-pora mampu menurunkan kadar polutan di danau yaitu kadar fosfor yang timbul itu dari proses metabolisme kehidupan yang ada di Danau Toba.

"Regal Springs Indonesia berkomitmen untuk dapat terus membantu pemerintah untuk bagaimana mewujudkan kelestarian ekosistem di Danau Toba pada khususnya. Regal Springs Indonesia bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatra Utara serta Fakultas Pertanian USU akan melakukan studi dan kajian untuk menentukan metode terbaik dalam melestarikan ikan pora-pora," tegas Rahmad Hidayat.

Sedangkan Dr Rulianda Purnomo Wibowo, mengatakan bahwa kerja sama tersebut akan melahirkan komitmen bersama antara perguruan tinggi, industri dan pemerintah dalam membangun ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Provinsi Sumatera Utara.

Universitas kata Rulisnda memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengetahuan, industri memberikan pengalaman. Sedangkan pemerintah memiliki peran strategis dalam membuat kebijakan yang berperan dalam pembangunan yang berkelanjutan.

"Ketika ketiga unsur tersebut bersinergi, maka inovasi akan tumbuh dengan cepat dan manfaatnya akan dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Danau Toba, merupakan salah satu aset terbesar yang dimiliki Sumatra Utara dan menjadi kebanggaan sebagai destinasi wisata kelas dunia. Tapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sektor perikanan, pertanian dan berbagai aktivitas sektor ekonomi lainnya. Oleh karena itu, keberlanjutan Danau Toba bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pelaku usaha saja. Tapi juga menjadi kami sebagai dunia akademik. Salah satu contoh nyata adalah ikan pora-pora," ujarnya.

Meskipun ikan pora-pora memiliki ukuran yang lebih kecil kata Rulisnda, keberadaan ikan ini memiliki arti yang sangat besar. Ikan ini telah menjadi sumber pendapatan bagi nelayan, mendukung ketahanan pangan masyarakat, sekaligus sebagai komponen penting dalam ekosistem Danau Toba.

Namun di sisi lain lanjut Rulianda, meningkatnya pemanfaatan ikan pora-pora ini juga mengingatkan kita bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya konservasi. Karena itulah, akademik menjadi unsur penting dalam menjaga keberlanjutan ini.

"Kita memberikan data yang akurat, analisis yang komprehensif dan rekomendasi kebijakan yang berbasis ilmiah. Melalui pendekatan bioekonomi, kita dapat memahami bagaimana sumber daya perikanan dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengurangi kemampuan alam untuk memperbaharui dirinya. Melalui proses ekonomi, kita juga dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Melalui pendekatan ekonomi based fishery management, kita belajar bahwa pengelolaan perikanan tidak hanya berbicara tentang ikan," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Rulianda Purnomo Wibowo memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap Regal Springs Indonesia dan Pemprovsu atas kerja sama yang terjalin tersebut. Dia berharap sinergi tersebut menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan dunia industri mampu menghasilkan inovasi yang berdampak terhadap masyarakat.

FGD tersebut diikuti perwakilan tujuh pemerintah daerah yang wilayahnya meliputi Danau Toba, dinas dan badan terkait Pemprovsu, dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian USU, media dan lainnya.

(RRS/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi