Danau Toba. (Analisadaily/Istimewa)
Oleh: Tetty Naibaho
Dari Pusuk Buhit untuk Dunia Kabut pagi perlahan menyingkap puncak Pusuk Buhit di Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir. Dari ketinggian, hamparan Danau Toba membentang luas, dikelilingi tebing-tebing kaldera yang megah. Bagi wisatawan, panorama ini menghadirkan ketenangan yang sulit dilupakan.
Di sekitar Pusuk Buhit berdiri berbagai situs budaya yang hingga kini tetap dijaga masyarakat, seperti Batu Hobon, Aek Sipitu Dai, Sopo Guru Tatea Bulan, Batu Parhusipan, Batu Sawan, Aek Siboru Pareme, Hadabuan Nai Sogop, hingga kawasan Huta Sianjur Mula-Mula. Situs-situs tersebut memperlihatkan bahwa bentang alam Kaldera Toba tidak hanya menyimpan sejarah geologi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya peradaban yang masih hidup hingga kini. Keunikan itulah yang menjadikan kawasan Danau Toba berbeda dengan banyak destinasi wisata lainnya. Di satu tempat, wisatawan dapat mempelajari proses geologi yang membentuk salah satu kaldera terbesar di dunia, sekaligus mengenal budaya Batak yang tumbuh dan berkembang di atas tanah vulkanik yang sama.
Inilah esensi Toba Caldera UNESCO Global Geopark. Sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menghubungkan ilmu pengetahuan, budaya, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat dalam satu kesatuan yang utuh. Namun, pengakuan dunia tersebut bukanlah perjalanan yang terjadi dalam semalam.
Di baliknya terdapat proses panjang yang melibatkan pemerintah, akademisi, ilmuwan, hingga masyarakat. Salah satu sosok yang berada di garis depan perjuangan tersebut adalah Ir. Theodora Sihotang, S.H., M.A.P.A., mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Samosir yang menjadi salah satu penggagas pengembangan Geopark Kaldera Toba. Saat diwawancari penulis, Theodora mengenang bahwa awal perjalanannya justru bermula dari sebuah dokumen sederhana. Ketika baru menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Samosir, ia menemukan buku dan notulen rapat mengenai konsep geopark. Istilah tersebut saat itu masih asing, bahkan belum banyak dipahami di Indonesia. Rasa ingin tahu membuatnya mempelajari setiap dokumen yang ada. Ia kemudian mengikuti berbagai diskusi yang mempertemukan pelaku pariwisata dengan para ahli ilmu kebumian.
"Dari diskusi-diskusi itu kami mulai memahami bahwa Danau Toba tidak bisa hanya dipromosikan sebagai objek wisata. Yang kita miliki adalah laboratorium geologi dunia. Nilai ilmiahnya sangat besar," kenangnya.
Pemahaman itu mengubah cara pandangnya terhadap pembangunan pariwisata. Menurutnya, keindahan Danau Toba hanyalah pintu masuk. Nilai sesungguhnya terletak pada kisah yang tersimpan di balik bentang alam tersebut—kisah tentang letusan supervulkan sekitar 74 ribu tahun lalu yang mengubah wajah bumi dan meninggalkan warisan geologi yang kini dipelajari para ilmuwan dari berbagai negara.
Perjuangan itu mendapat dukungan penuh dari Bupati Samosir saat itu, Ir. Mangindar Simbolon. Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah Kabupaten Samosir membuka ruang kolaborasi dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah di kawasan Danau Toba, perguruan tinggi, hingga para peneliti internasional.
Bagi Theodora, dukungan kepala daerah menjadi fondasi penting karena pengembangan geopark tidak mungkin dilakukan oleh satu instansi saja.
"Pak Mangindar memberikan ruang bagi kami untuk belajar, berdiskusi, dan membangun jejaring. Ketika konsep geopark masih belum banyak dikenal, beliau tetap memberikan dukungan agar Samosir menjadi bagian dari gerakan besar memperkenalkan Kaldera Toba kepada dunia," tuturnya.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika bertemu dengan vulkanolog asal Amerika Serikat, Prof. William Chesner, yang selama bertahun-tahun meneliti Supervulkan Toba. Bersama mahasiswa-mahasiswanya, Chesner melakukan pengambilan sampel batuan dan tanah di berbagai titik di Pulau Samosir, termasuk kawasan Huta Tinggi.
Hasil penelitian tersebut semakin memperkuat bukti ilmiah bahwa Kaldera Toba merupakan salah satu peninggalan letusan gunung api terbesar dalam sejarah bumi. Temuan-temuan itu menjadi bagian penting dalam memperkuat argumentasi bahwa kawasan Danau Toba memiliki nilai universal yang layak memperoleh pengakuan internasional.
Namun bagi Theodora, tujuan utama perjuangan itu bukanlah sekadar memperoleh status UNESCO.
"Pengakuan dunia akan berarti jika masyarakat ikut menjaganya dan merasakan manfaatnya. Geopark harus menjadi milik masyarakat, bukan hanya milik pemerintah," katanya. Pemikiran tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun konsep pengembangan geopark di Samosir. Konservasi harus berjalan bersama edukasi. Pariwisata harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Budaya harus tetap menjadi identitas. Dan inovasi harus menjadi jembatan yang menghubungkan semuanya.
Dari lereng Pusuk Buhit, sebuah gagasan besar pun mulai tumbuh. Gagasan yang tidak hanya membawa Kaldera Toba menuju pengakuan dunia, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya model pariwisata yang menjadikan warisan geologi sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Ketika Geologi, Budaya, dan Inovasi Menjadi Satu Kekuatan Bagi banyak orang, Danau Toba identik dengan panorama alam yang memesona. Namun bagi Ir. Theodora Sihotang, S.H., M.A.P.A., keindahan itu hanyalah permukaan dari sebuah kisah yang jauh lebih besar. Di balik bentangan air seluas lebih dari seribu kilometer persegi tersimpan rekam jejak salah satu peristiwa geologi paling dahsyat dalam sejarah bumi. Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan gagasan bahwa Danau Toba tidak boleh dipasarkan hanya sebagai destinasi wisata. Kawasan ini harus diperkenalkan sebagai laboratorium geologi dunia yang hidup, tempat ilmu pengetahuan, budaya, dan kehidupan masyarakat saling terhubung. Menurut Theodora, konsep geopark menawarkan cara pandang baru dalam membangun pariwisata. Jika selama ini wisata lebih banyak berorientasi pada keindahan alam, geopark justru mengajak wisatawan memahami cerita di balik bentang alam tersebut.
"Geopark bukan sekadar batu atau gunung. Yang dijual adalah cerita. Mengapa batu ini ada? Bagaimana danau ini terbentuk? Bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan alam selama ribuan tahun? Semua itu menjadi pengalaman yang tidak dapat diperoleh di tempat lain," jelasnya.
Pemahaman tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun arah pengembangan Geopark Kaldera Toba. Bersama berbagai pemangku kepentingan, Theodora mendorong agar setiap geosite tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu narasi besar tentang terbentuknya Kaldera Toba.
Di Kabupaten Samosir terdapat lima geosite utama, yaitu Geosite Tele, Geosite Pusuk Buhit, Geosite Huta Tinggi–Sodihoni, Geosite Ambarita yang mencakup kawasan budaya Huta Siallagan, serta Geosite Tomok yang terintegrasi dengan kawasan wisata Tuktuk Siadong. Kelima geosite tersebut memiliki karakter yang berbeda. Tele menjadi lokasi terbaik untuk memahami bentuk kaldera raksasa dari ketinggian. Pusuk Buhit menghadirkan perpaduan antara nilai geologi dan sejarah asal-usul masyarakat Batak. Huta Tinggi–Sodihoni memperlihatkan fenomena geologi yang masih aktif melalui sumber air panas dan manifestasi panas bumi. Sementara Ambarita dan Tomok menjadi bukti bahwa kebudayaan Batak berkembang di atas bentang alam hasil letusan supervulkan.
Menurut Theodora, kekuatan terbesar kawasan ini justru terletak pada kemampuan menghubungkan seluruh geosite tersebut dalam satu pengalaman wisata yang utuh. Karena itu, ia menilai pengembangan Geo-Cultural Trail menjadi salah satu inovasi yang perlu terus diperkuat. Wisatawan tidak hanya diajak berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga mengikuti perjalanan yang menjelaskan hubungan antara proses geologi, sejarah, budaya, kuliner, kerajinan, hingga kehidupan masyarakat.
Dengan konsep tersebut, wisatawan yang memulai perjalanan dari Tele dapat memahami bentuk kaldera secara menyeluruh, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pusuk Buhit untuk mengenal asal-usul budaya Batak, mengunjungi Huta Tinggi–Sodihoni untuk mempelajari aktivitas geologi, lalu menikmati peninggalan budaya di Ambarita dan Tomok. Setiap lokasi menjadi bagian dari satu kisah besar yang saling melengkapi.
Selain memperkuat narasi wisata, inovasi juga perlu memanfaatkan perkembangan teknologi. Menurut penulis, interpretasi di setiap geosite dapat diperkaya melalui kode QR, aplikasi digital, audio guide multibahasa, maupun teknologi augmented reality (AR) yang memungkinkan wisatawan melihat simulasi letusan Supervulkan Toba atau proses terbentuknya kaldera secara interaktif.
Pemanfaatan teknologi tersebut bukan untuk menggantikan peran pemandu wisata, melainkan memperkaya pengalaman pengunjung dan menjangkau generasi muda yang akrab dengan media digital.
Namun, Theodora menegaskan bahwa inovasi secanggih apa pun tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat.
Oleh karena itu, sejak awal pengembangan geopark, edukasi menjadi salah satu prioritas utama. Sosialisasi dilakukan ke sekolah-sekolah agar anak-anak mengenal sejarah Kaldera Toba sejak dini. Mereka diajak memahami bahwa kawasan tempat mereka tinggal merupakan warisan dunia yang memiliki nilai geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Semangat tersebut kini terus berkembang melalui berbagai program seperti Geopark to School, yang mengenalkan geopark kepada pelajar melalui pembelajaran interaktif, pengenalan geodiversitas, biodiversitas, serta literasi budaya. Program Geopark Youth juga membuka ruang bagi generasi muda untuk menjadi pemandu wisata, relawan konservasi, dan duta geopark yang mampu memperkenalkan Kaldera Toba kepada dunia.
Bagi Theodora, pendidikan merupakan investasi jangka panjang.
"Kalau anak-anak sudah mencintai geopark sejak sekarang, mereka akan menjadi penjaga terbaiknya di masa depan," katanya.
Edukasi tidak hanya diberikan kepada pelajar. Pemerintah bersama Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark juga memperkuat kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemandu wisata, pengelola homestay, dan pelaku UMKM. Mereka dibekali pengetahuan mengenai pelayanan wisata, interpretasi geosite, kewirausahaan, hingga pentingnya menjaga kelestarian kawasan.
Konsep konservasi yang diperjuangkan Theodora juga melampaui pelestarian bentang alam. Ia percaya bahwa produk lokal merupakan bagian dari identitas geopark yang harus dijaga. Salah satu contohnya adalah Kopi Arabika Typica Samosir, varietas kopi yang tumbuh di tanah vulkanik Kaldera Toba dan telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian sebagai varietas lokal.
Menurutnya, kopi tersebut bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bukti bagaimana warisan geologi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Wisatawan yang menikmati secangkir Kopi Arabika Typica Samosir sejatinya sedang menikmati hasil dari tanah yang terbentuk akibat letusan supervulkan puluhan ribu tahun lalu. Inilah hubungan erat antara geologi, pertanian, budaya, dan pariwisata yang menjadi ciri khas geopark.
Melalui konsep tersebut, konservasi tidak lagi dipahami sebagai upaya membatasi pemanfaatan alam, melainkan mengelolanya secara bijaksana agar tetap lestari sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Theodora, inilah makna sesungguhnya dari pariwisata berkelanjutan: ketika alam tetap terjaga, budaya semakin dihargai, ilmu pengetahuan terus berkembang, dan masyarakat menjadi penerima manfaat utama dari warisan yang mereka miliki.
Ketika Geopark Mengubah Wajah Samosir
Pengakuan Toba Caldera UNESCO Global Geopark bukan sekadar prestasi internasional. Di Kabupaten Samosir, status tersebut perlahan menjadi penggerak perubahan yang terlihat pada pembangunan infrastruktur, meningkatnya kesadaran masyarakat, hingga pertumbuhan sektor pariwisata.
Bagi Ir. Theodora Sihotang, S.H., M.A.P.A., sejak awal tujuan pengembangan geopark memang bukan mengejar pengakuan dunia semata. Pengakuan tersebut harus menjadi pintu masuk bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Kalau masyarakat tidak merasakan manfaatnya, maka geopark hanya akan menjadi sebuah nama. Yang kita inginkan adalah masyarakat menjadi pelaku utama, bukan penonton di daerahnya sendiri," katanya.
Pemikiran tersebut kini mulai menunjukkan hasil.
Data Pemerintah Kabupaten Samosir memperlihatkan bahwa sektor pariwisata mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam lima tahun terakhir. Setelah pandemi COVID-19, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat dari 663.848 orang pada 2021, menjadi 860.892 orang pada 2022, kemudian 1.008.731 orang pada 2023. Pada 2024 jumlah kunjungan melonjak menjadi 1.777.132 wisatawan, dan kembali meningkat menjadi 2.451.269 wisatawan pada 2025, terdiri dari 2.432.707 wisatawan nusantara dan 18.562 wisatawan mancanegara.
Artinya, hanya dalam waktu lima tahun, kunjungan wisatawan meningkat sekitar 269 persen atau hampir 3,7 kali lipat. Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Samosir semakin mengukuhkan diri sebagai destinasi utama di kawasan Danau Toba sekaligus bagian penting dari Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Peningkatan kunjungan tersebut juga berdampak terhadap perekonomian daerah. Pada tahun 2025, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata mencapai sekitar Rp14,19 miliar, melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah. Pendapatan tersebut berasal dari pengelolaan berbagai objek wisata milik pemerintah, sekaligus menjadi bukti bahwa pariwisata telah menjadi salah satu penggerak ekonomi Kabupaten Samosir.
Pertumbuhan tersebut tidak hadir begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pembangunan dilakukan untuk memperkuat daya saing kawasan. Pengembangan Waterfront City Pangururan, penataan Menara Pandang Tele, revitalisasi Air Terjun Efrata, Pantai Pasir Putih Parbaba, Huta Siallagan, dan Tomok, serta peningkatan konektivitas jalan dan pelabuhan menjadi bagian dari upaya memperkuat pengalaman wisata di kawasan Danau Toba.
Namun, bagi masyarakat Sianjur Mula-Mula, perubahan itu tidak hanya terlihat dari angka statistik. Pardiman Limbong, warga Kecamatan Sianjur Mula-Mula, mengatakan bahwa sejak nama Geopark Kaldera Toba semakin dikenal, kawasan Pusuk Buhit mengalami banyak perkembangan.
Menurutnya, pembangunan akses menuju kawasan wisata semakin baik. Sarana dan prasarana pendukung mulai dibangun, sementara pelatihan kepada pelaku usaha, pemandu wisata, dan masyarakat semakin sering dilakukan.
"Kami merasakan perubahan. Jalan menuju objek wisata semakin baik, masyarakat mulai mendapatkan pelatihan, dan wisatawan yang datang juga semakin banyak. Geopark membuat masyarakat sadar bahwa alam dan budaya adalah kekuatan yang harus dijaga," ujarnya.
Meski demikian, Pardiman berharap pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur. Menurutnya, pembinaan kepada masyarakat harus terus dilakukan agar warga semakin siap menerima wisatawan dan mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang ada.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Theodora. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi menarik wisatawan datang ke Samosir, melainkan membuat mereka tinggal lebih lama dan berbelanja lebih banyak pada produk serta jasa masyarakat lokal.
Rata-rata lama tinggal wisatawan di Samosir masih sekitar 1,5 hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi kawasan belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika lama tinggal dapat ditingkatkan menjadi tiga hingga empat hari melalui paket wisata yang terintegrasi, dampaknya akan langsung dirasakan oleh pelaku homestay, pemandu wisata, UMKM, petani kopi, perajin ulos, hingga pelaku seni budaya.
Karena itu, penguatan geopark perlu diarahkan pada inovasi yang mampu memperpanjang pengalaman wisatawan. Salah satunya adalah pengembangan Geo-Cultural Trail, yakni jalur wisata yang menghubungkan lima geosite utama di Samosir dengan desa wisata, situs budaya, sentra kerajinan, kebun Kopi Arabika Typica Samosir, serta atraksi budaya.
Selain itu, digitalisasi interpretasi geosite melalui kode QR, aplikasi telepon pintar, audio guide multibahasa, dan teknologi augmented reality (AR) dapat memperkaya pengalaman wisata tanpa mengurangi peran pemandu lokal. Inovasi ini akan membuat wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga memahami sejarah geologi, budaya, dan kehidupan masyarakat yang membentuk identitas Kaldera Toba.
Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat harus terus diperkuat melalui pelatihan bagi Pokdarwis, UMKM, pengelola homestay, dan pemandu wisata. Masyarakat bukan hanya penyedia layanan, tetapi juga menjadi penjaga utama warisan dunia ini.
Keberhasilan geopark pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya papan informasi atau bangunan yang berdiri, melainkan dari tumbuhnya kesadaran bahwa setiap batu, setiap pohon, setiap cerita rakyat, hingga setiap cangkir Kopi Arabika Typica Samosir merupakan bagian dari identitas yang harus dijaga bersama.
Inilah makna sesungguhnya dari inovasi dalam geopark: menghadirkan pembangunan yang tidak mengorbankan alam, menjadikan budaya sebagai kekuatan, dan memastikan kesejahteraan masyarakat tumbuh seiring dengan meningkatnya kualitas pariwisata
Merawat Warisan Dunia, Membangun Masa Depan
Pengakuan Toba Caldera UNESCO Global Geopark pada tahun 2020 merupakan tonggak penting bagi Indonesia. Namun, bagi Ir. Theodora Sihotang, S.H., M.A.P.A., pengakuan tersebut bukanlah garis akhir dari sebuah perjuangan. Justru sejak saat itulah tanggung jawab yang lebih besar dimulai.
"Status UNESCO bukan untuk dibanggakan semata. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan pengakuan itu melalui kerja nyata dalam menjaga alam, melestarikan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa geopark bukan sekadar label internasional. Geopark adalah komitmen jangka panjang yang menuntut kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan generasi muda.
Perjalanan panjang yang diawali dari diskusi sederhana mengenai konsep geopark, didukung oleh Ir. Mangindar Simbolon sebagai Bupati Samosir saat itu, kemudian diperkuat melalui berbagai penelitian ilmiah, hingga akhirnya membawa Kaldera Toba memperoleh pengakuan UNESCO, telah membuktikan bahwa kolaborasi mampu menghasilkan perubahan besar.
Kini tantangan telah berubah. Jika dahulu fokus utama adalah memperoleh pengakuan dunia, maka saat ini tantangan terbesar adalah memastikan bahwa status tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap memenuhi standar UNESCO.
Dalam konteks itu, inovasi menjadi kata kunci.
Inovasi bukan hanya berarti membangun fasilitas baru, tetapi menghadirkan pengalaman wisata yang lebih bermakna. Pengembangan Geo-Cultural Trail yang menghubungkan lima geosite utama di Kabupaten Samosir dapat menjadi model wisata terpadu yang mengajak pengunjung memahami hubungan antara geologi, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Jalur ini dapat diperkaya dengan interpretasi digital, aplikasi berbasis lokasi, audio guide multibahasa, hingga teknologi augmented reality yang menjelaskan proses terbentuknya Kaldera Toba.
Di sisi lain, penguatan storytelling perlu menjadi identitas baru pariwisata Samosir. Setiap pemandu wisata hendaknya tidak hanya menjelaskan lokasi, tetapi mampu mengisahkan perjalanan bumi, asal-usul masyarakat Batak, filosofi adat, hingga keterkaitan tanah vulkanik dengan kualitas Kopi Arabika Typica Samosir. Wisatawan masa kini tidak hanya mencari pemandangan, tetapi juga pengalaman dan makna.
Edukasi juga harus terus diperluas. Program Geopark to School, Geopark Youth, pelatihan bagi Pokdarwis, UMKM, pengelola homestay, dan pemandu wisata perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tetap menjadi pelaku utama dalam pengelolaan geopark. Ketika masyarakat memahami nilai warisan yang dimiliki, konservasi akan tumbuh dari kesadaran, bukan karena kewajiban.
Demikian pula dengan pelestarian produk lokal. Kopi Arabika Typica Samosir, tenun ulos, seni ukir, kuliner tradisional, hingga berbagai tradisi masyarakat Batak harus terus diperkuat sebagai bagian dari identitas geopark. Produk-produk tersebut bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi representasi hubungan erat antara manusia dengan bentang alam Kaldera Toba. Harapan itu juga disampaikan Pardiman Limbong, warga Sianjur Mula-Mula. Menurutnya, kehadiran geopark telah membawa perubahan nyata melalui pembangunan infrastruktur, meningkatnya kunjungan wisatawan, dan semakin banyaknya pembinaan bagi masyarakat. Namun ia berharap semangat menjaga alam dan budaya tidak luntur oleh perkembangan pariwisata.
"Kami ingin anak cucu kami tetap bisa melihat Pusuk Buhit seperti sekarang. Alamnya tetap terjaga, budayanya tetap hidup, tetapi masyarakatnya juga semakin sejahtera," katanya.
Harapan tersebut mencerminkan esensi dari pariwisata berkelanjutan. Keberhasilan sebuah geopark bukan diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara konservasi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Data pertumbuhan pariwisata Kabupaten Samosir selama periode 2021–2025 menunjukkan bahwa arah tersebut mulai memberikan hasil. Lonjakan kunjungan wisatawan hingga lebih dari 2,45 juta orang pada tahun 2025 serta meningkatnya Pendapatan Asli Daerah menjadi bukti bahwa konsep geopark mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi. Namun, keberhasilan itu harus terus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan produk wisata berbasis pengalaman, serta upaya memperpanjang lama tinggal wisatawan agar manfaat ekonomi semakin luas dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, kisah Toba Caldera UNESCO Global Geopark bukan hanya tentang letusan supervulkan yang terjadi sekitar 74 ribu tahun lalu. Kisah ini juga tentang manusia yang memilih belajar dari sejarah bumi, menghargai budaya yang diwariskan leluhur, dan membangun masa depan melalui inovasi yang tetap menghormati alam.
Di lereng Pusuk Buhit, setiap batu, setiap pohon, setiap situs budaya, dan setiap cerita yang diwariskan masyarakat menjadi pengingat bahwa warisan dunia bukanlah sesuatu yang diwarisi begitu saja. Warisan dunia adalah amanah yang harus dirawat dengan pengetahuan, kolaborasi, dan kepedulian.
Perjuangan yang dirintis oleh Ir. Theodora Sihotang, S.H., M.A.P.A. bersama berbagai pemangku kepentingan, dengan dukungan Ir. Mangindar Simbolon, telah membuka jalan bagi pengakuan dunia terhadap Kaldera Toba. Kini, tugas generasi berikutnya adalah memastikan bahwa pengakuan tersebut terus hidup dalam tindakan nyata. Sebab kekuatan Toba Caldera UNESCO Global Geopark tidak hanya terletak pada kaldera raksasa yang terbentuk puluhan ribu tahun silam, tetapi pada komitmen masyarakat untuk menjadikan warisan geologi sebagai sumber ilmu pengetahuan, kebanggaan budaya, dan fondasi kesejahteraan yang berkelanjutan. Dari Pusuk Buhit untuk dunia, kisah itu akan terus hidup selama manusia memilih menjaga, bukan sekadar menikmati, warisan bumi yang tak ternilai harganya.
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Artikel Jurnalis “The 7th GeoFestival 2026”
Toba Caldera UNESCO Global Geopark
Daftar Pustaka:
• UNESCO Global Geoparks Programme.
• UNESCO Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
• Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
• Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
• Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
• Pemerintah Kabupaten Samosir.
• Data Statistik Pariwisata Kabupaten Samosir Tahun 2021–2025.
• Hasil wawancara dengan Ir. Theodora Sihotang, S.H., M.A.P.A.
• Hasil wawancara dengan Pardiman Limbong, warga Sianjur Mula-Mula.
• Literatur ilmiah mengenai Supervulkan Toba, termasuk penelitian Prof. William Chesner.
Berita kiriman dari: Tetty Naibaho (Jurnalis di Samosir)











