Menghidupkan Marsialap Ari, Jurus LPHD Sugi Natama Bentengi Era Modern dengan Gotong Royong

Menghidupkan Marsialap Ari, Jurus LPHD Sugi Natama Bentengi Era Modern dengan Gotong Royong
Menghidupkan Marsialap Ari, Jurus LPHD Sugi Natama Bentengi Era Modern dengan Gotong Royong (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Tapsel - Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD ) Sugi Natama di Desa Sugi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) merupakan dampingan Green Justice Indonesia (GJI) dalam mengelolaan Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Desa (HD) yang menerapkan pengelolaan membudayakan kearifan lokal (local wisdom) yakni "marsialap ari".

"Saat ini kita sedang melakukan pengelolaan perhutanan sosial dengan skema hutan desa dengan membudi daya kopi robusta dan arabika, pola pengelolaan yang kita terapka dalam kelompok LPHD Sugi Natama adalah "marsialap ari",” kata Ketua LPHD Sugi Natama, Rinuan Sahati, Selasa (11/8/2026).

Marsialap ari adalah kearifan lokal berupa tradisi gotong royong saling membantu secara bergiliran dalam menggarap lahan pertanian (sawah atau ladang) yang diwariskan oleh leluhur di Tapanuli Selatan serta sekitarnya. Masyarakat bekerja tanpa diupah melainkan dengan kewajiban moral untuk saling membalas bantuan secara bergiliran di hari-hari lain.

"Kami kelompok LPHD Sugi Natama saat ini sedang menggalakkan tradisi leluhur yang mulai hilang yakni "marsialap ari", dalam pengelolaan hutan desa kami kami menerapkan sistem gotong royong, saling bergantian dalam mwngelola lahan masing-masing anggota LPHD Sugi Natama secara bergiliran, kami melakukan "marsialap ari" setiap hari kamis setiap minggunya," ungkap Rinuan Sahati.

Dalam "marsialap ari" memiliki konsep sistem bergantian, masyarakat berkumpul dan bekerja bersama di lahan milik salah satu anggota hari ini, lalu bergiliran pindah ke lahan anggota lain di hari berikutnya.

Di samping, mereka melakukan "marsialap ari" tanpa upah material. Tenaga yang diberikan didasari rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan tolong-menolong tanpa pamrih, bukan transaksi gaji.

"Kami melakukan "marsialap ari" berkumpul dan bekerja bersama di lahan milik salah satu anggota hari ini, lalu bergiliran pindah ke lahan anggota lain di hari berikutnya. Kami juga melakukan ini tanpa upah yang didasari rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan tolong menolong tanpa pamrih," jelas Rinuan Sahati.

"Marsialap ari" dapat membentuk ikatan sosial, dimana masyarakat atau sesama anggota yang ikut dalam tradisi ini bisa mempererat rasa persaudaraan, memelihara harmoni, dan menekan potensi konflik antarwarga karena tingginya intensitas interaksi.

Menghidupkan Marsialap Ari, Jurus LPHD Sugi Natama Bentengi Era Modern dengan Gotong Royong
"Dengan melakukan "marsialap ari" kami satu sama lain dapat saling memahami dan saling mengerti sehingga mempererat rasa persaudaraan serta harmonipun terpelihara dengan baik," Rinuan Sahati menerangkan.

"Marsialap ari" tidak hanya sebagai sisitem dalam memepertahankan tradisi luhur, jauh dari hal tersebut "marsialap ari" sangat relevan dalam memgahadapi zaman Modern yang hampir mengikis tradisi-tradisi kearifan lokal. Soal lain "marsialap ari" juga dapat dijadikan sebagai alat untuk menghadapi individualisme.

"Dalam zaman saat ini "marsialap ari" dapat dijjadikan sebagai alat unruk benteng penahan sifat egois, pragmatis, dan materialistik yang kerap muncul di era modern," ungkap Hendra Hasibuan, Koordinator Advokasi Green Justice Insonesia (GJI).

Kegiatan "marsialap ari" dapat juga dikategorikan sebagai bentuk adaptasi bantuan dan menjaga solidaritas. Praktik "marsialap ari " tidak hanya terbatas pada aktivitas menanam atau memanen padi, tetapi kadang diperluas untuk kegiatan sosial lain seperti kerja bakti memperbaiki rumah warga yang tidak layak huni.

"Walaupun sebagian masyarakat beralih menggunakan mesin pertanian atau sistem buruh upahan, nilai dasar kebersamaan dari "marsialap ari" tetap dipertahankan untuk menjaga keharmonisan hidup pedesaan, begitu juga yang dilakukan LPHD Sugi Natama saat ini.

“Bentuk adaptasi bantuan dan menjaga solidaritas seperti kerja bakti memperbaiki rumah warga yang tidak layak huni dapat digunakan dalam kehidupan di desa,” terang Hendra Hasibuan yang juga Ketua Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumut, dan Koordinator Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal (JAMM).

Lebih lanjut Hendra Hasibuan menuturkan, tradisi leluhur "marsialap ari" patut dipertahankan dan dibudayakan ke depan, karena tradisi ini memiliki nilai-nilai kemanusian dan solidaritas yang sangat tinggi.

Tradisi "marsialap ari" diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen yang patut dicontoh di berbagai desa-desa dan daerah-daerah lain dalam pengelolaan lahan-lahan pertanian, kebun, dan saling tolong menolong dalam hal kegiatan sosial kemasyatakatan.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi