Dari Pelatihan ke Pasar, UMKM Binaan PTAR Kian Berkembang (HIH)
Analisadaily.com, Batang Toru - Pendampingan PT Agincourt Resources (AR) mendorong pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) binaan di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) meningkatkan omzet sekaligus memperluas pemasaran produk.
Dampak tersebut dirasakan Dian Anggriani Siregar, pelaku UMKM Eza Cake yang telah mendapat pendampingan PT AR sejak 2023.
Melalui program pemberdayaan masyarakat itu, Dian mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari kuliner dan pastry, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, fotografi produk hingga public speaking.
"Setelah didampingi PT AR, omzet saya meningkat. Awalnya sekitar Rp1 juta sampai Rp 2 juta per bulan, sekarang bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta per bulan," ujar Dian kepada Analisadaily.com di Batang Toru, Rabu (19/8).
Menurut Dian, dukungan PT AR juga mencakup bantuan oven berkapasitas besar dan kemasan snack box.
Pendampingan tersebut membuat produk yang dihasilkannya semakin beragam.
"Awalnya saya hanya membuat cake ulang tahun. Setelah mendapat pendampingan, saya belajar membuat kue basah, roti dan bolu gulung yang kemudian menjadi bagian dari produk snack box," katanya.
Selain keterampilan produksi, Dian mendapat pembinaan manajemen usaha melalui pelatihan 5R, yakni ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin.
Ia juga mendapat pelatihan pembukuan sederhana dan digital marketing.
Ke depan, Dian menargetkan omzet usahanya mencapai Rp300 juta per bulan sekaligus menguasai pasar snack box di Tapsel.
Namun, untuk mencapai target tersebut, ia masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya belum tersedianya dapur produksi khusus.
Selain itu, pencatatan keuangan usaha masih bercampur dengan keuangan pribadi.
Dibantu Dapur Produksi
Pengalaman serupa dirasakan Rohima Hasibuan, pelaku UMKM keripik yang telah mendapat pembinaan PT AR sejak sekitar 2022.
Menurutnya, dukungan PTAR tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga pembangunan dapur produksi dan pendampingan pengurusan legalitas usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal.
"Dapur produksi saya sudah dibangun PTAR dan legalitas usaha juga dibantu, mulai dari NIB sampai halal," ujar Rohima di hadapan Nurlaila, Senior Supervisor SME Agincourt Resources.
Setelah mendapat pembinaan, Rohima kini berupaya memperluas pemasaran produknya agar dapat masuk ke berbagai toko dan supermarket.
Ia mengaku masih menghadapi tantangan dalam memperluas pasar, terutama menyiapkan kemasan yang aman untuk pengiriman jarak jauh.
Sebab, produk keripik rentan mengalami kerusakan selama proses pengiriman.
Meski demikian, peluang pasar mulai terbuka. Produk Rohima telah diuji coba untuk dipasarkan di salah satu toko di Padangsidimpuan.
Bahkan, produknya mendapat pesanan sebanyak 20 bungkus untuk dikirim ke Jakarta.
Rohima berharap pendampingan PTAR dapat terus berlanjut dan mendorong UMKM binaan naik kelas.
Hal senada disampaikan Dian yang berharap produk lokal Tapsel mampu menembus pasar lebih luas, termasuk supermarket dan pasar di luar daerah.
Dengan peningkatan kapasitas produksi, manajemen usaha dan pemasaran, keduanya optimistis UMKM binaan dapat berkembang sekaligus memperkuat produk lokal Tapsel.
(HIH/BR)