Tim PKM Unimed Terapkan Vacuum Packaging pada UMKM Dodol Pulut Mirna (Analisadaily/Ist)
Anailsadaily.com, Tanjung Pura - Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Medan (Unimed) melaksanakan kegiatan pendampingan dan penerapan teknologi vacuum packaging pada UMKM Dodol Pulut Mirna di Desa Pematang Tengah, Kecamatan Tanjung Pura, kemarin. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan daya simpan, kualitas kemasan, efisiensi biaya, dan nilai tambah produk dodol pulut.
Program bertajuk “Inovasi Kemasan Dodol Berbasis Vacuum Packaging untuk Meningkatkan Efisiensi Biaya dan Nilai Tambah UMKM Mirna di Desa Pematang Tengah, Tanjung Pura”. Kegitan ini diketuai Khairunnisa Harahap, M.Si., beranggotakan Ulfa Nurhayani, S.E., M.Si. dan Banu Nursanni, S.T., M.Si. Kompetensi tim mencakup bidang akuntansi, pendidikan akuntansi, dan teknik mesin.
Kegiatan diikuti Mirna Wahyuni selaku pemilik UMKM Dodol Pulut Mirna bersama seluruh pekerja yang terlibat dalam proses produksi dan pengemasan. Keterlibatan seluruh pekerja diperlukan agar teknologi dan prosedur pengemasan yang diperkenalkan dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan produksi sehari-hari.
Sebanyak lima mahasiswa dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Unimed turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Para mahasiswa membantu pelaksanaan pelatihan, pengumpulan data biaya produksi, praktik penggunaan alat, pendampingan pencatatan keuangan, serta dokumentasi kegiatan.
Pelaksanaan PKM juga didampingi Savitri Rahmadany, S.Pd., M.Li. dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unimed. Pendampingan dari LPPM dilakukan untuk memastikan kegiatan terlaksana sesuai dengan tujuan program dan memberikan manfaat langsung bagi mitra.
Khairunnisa Harahap, M.Si. menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini, tim memberikan pelatihan penggunaan mesin vacuum sealer, mulai dari pengenalan komponen alat, pengaturan proses vakum dan penyegelan, pemilihan bahan kemasan, hingga prosedur keamanan dan perawatan alat.
“Pemilik dan pekerja UMKM melakukan praktik langsung agar mampu mengoperasikan alat secara mandiri,” ujar Khairunnisa Harahap, M.Si.
“Penerapan vacuum packaging dilakukan untuk menggantikan sebagian proses pengemasan konvensional yang sebelumnya menggunakan plastik mika tanpa pengurangan udara. Kemasan konvensional dinilai kurang efisien untuk penyimpanan dan pengiriman jarak jauh karena membutuhkan ruang lebih besar serta memiliki risiko kerusakan produk yang lebih tinggi,” katanya.
“Melalui pengemasan vakum, udara di dalam kemasan dapat diminimalkan sehingga kemasan menjadi lebih rapat, rapi, dan aman. Teknologi ini diharapkan membantu mempertahankan tekstur dan mutu dodol, menekan risiko produk rusak, meningkatkan efisiensi penyimpanan, serta mendukung pengiriman ke wilayah pemasaran yang lebih luas,” jelasnya sebagai tambahan.
Selain pelatihan teknis, tim PKM memberikan pendampingan manajemen biaya dan pencatatan keuangan sederhana. Mitra dilatih mencatat biaya bahan baku, tenaga kerja, kemasan, listrik, dan biaya operasional lainnya. Data tersebut digunakan untuk menghitung Harga Pokok Produksi atau HPP sebagai dasar penentuan harga jual.
“Pendampingan ini penting karena biaya penggunaan kemasan baru perlu diperhitungkan bersama dengan manfaat ekonomi yang dihasilkan, seperti berkurangnya produk rusak, meningkatnya efisiensi distribusi, dan bertambahnya nilai jual produk. Dengan perhitungan yang tepat, mitra dapat mengetahui biaya produksi setiap kemasan dan menentukan harga jual secara lebih rasional,” pungkas Khairunnisa Harahap, M.Si.
Tim juga mendampingi mitra dalam menyusun standar operasional prosedur pengemasan yang mencakup pendinginan produk, penataan dodol dalam kemasan, proses vakum dan penyegelan, pelabelan, penyimpanan, serta distribusi. SOP tersebut diharapkan menghasilkan kualitas kemasan yang lebih seragam dan mempermudah pekerja dalam menjalankan proses produksi.
Pemilik dan seluruh pekerja mengikuti kegiatan secara aktif melalui diskusi, demonstrasi, dan praktik langsung. Mitra juga menyampaikan berbagai kendala yang selama ini dihadapi, terutama terkait keterbatasan daya simpan, risiko kerusakan produk, biaya kemasan, dan pengiriman ke luar daerah.
Melalui kegiatan ini, UMKM Dodol Pulut Mirna diharapkan mampu menerapkan teknologi vacuum packaging secara mandiri, melakukan pencatatan biaya secara teratur, menghitung HPP dengan lebih akurat, serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, LPPM, pemilik, dan seluruh pekerja UMKM menjadi langkah penting dalam mendukung keberlanjutan usaha pangan tradisional berbasis potensi lokal.
(REL/RZD)