PT AR Kembangkan Mycorrhiza Perkuat Reklamasi Lahan

PT AR Kembangkan Mycorrhiza Perkuat Reklamasi Lahan
PT AR Kembangkan Mycorrhiza Perkuat Reklamasi Lahan (HIH)

Analisadaily.com, Batangtoru - PT Agincourt Resources (AR) terus mengembangkan riset agen hayati mycorrhiza untuk memperkuat keberhasilan reklamasi dan restorasi lahan di wilayah operasional Tambang Emas Martabe, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development Agincourt Resources, Syaiful Anwar, mengatakan mycorrhiza dikembangkan untuk membantu tanaman menyerap unsur hara sekaligus meningkatkan kemampuan tumbuh, terutama pada media tanah dengan keterbatasan nutrisi.

"Penggunaan agen hayati ini penting mengingat karakteristik lahan dan kondisi lingkungan di sekitar wilayah pertambangan," kata

Syaiful saat memberikan penjelasan kepada insan pers di Area Tambang Emas Martabe, Jumat (21/8).

Menurutnya, pengembangan mycorrhiza diawali dengan pengambilan sumber mikoriza dari tanah dan akar tanaman di hutan alam Batangtoru, kemudian dilakukan isolasi dan pengayaan spora.

"Dari proses tersebut, kepadatan spora yang semula kurang dari 100 spora per 100 gram tanah dapat ditingkatkan menjadi sekitar 400 hingga 1.000 spora atau lebih per 100 gram melalui proses pengayaan," jelasnya.

Setelah itu dilakukan uji respons dengan membandingkan tanaman yang diberi inokulum mycorrhiza dengan tanaman tanpa mikoriza.

Pengujian bertujuan melihat pertumbuhan tanaman sekaligus memastikan terjadinya kolonisasi mikoriza pada akar.

"Kalau kultur menunjukkan respons pertumbuhan dan kolonisasi yang baik, selanjutnya dinyatakan layak untuk diperbanyak," ujarnya.

Syaiful mengatakan, pengembangan mycorrhiza diarahkan untuk mendukung pembibitan tanaman lokal yang digunakan dalam program reklamasi dan restorasi.

Saat ini, PT AR telah mengembangkan sekitar 76 jenis tanaman lokal untuk mendukung pemulihan ekosistem, termasuk tanaman yang menjadi sumber pakan satwa di kawasan hutan.

Ia menegaskan, reklamasi tidak hanya bertujuan menghijaukan kembali lahan bekas tambang, tetapi juga membangun ekosistem dengan keanekaragaman jenis yang mampu mendukung habitat flora dan fauna.

"Karena itu, penggunaan tanaman invasif dihindari. Perusahaan lebih mengutamakan spesies lokal yang sesuai dengan kondisi hutan alam sekitar," katanya.

Selain mendukung reklamasi, pengembangan mycorrhiza juga dipersiapkan untuk restorasi kawasan preservasi dan penelitian remediasi lingkungan.

Tim peneliti juga mengkaji potensi jenis mycorrhiza tertentu dalam membantu tanaman menghadapi kondisi tanah yang mengandung logam serta lingkungan dengan tingkat keasaman tertentu.

Syaiful menambahkan, pengembangan agen hayati tersebut masih berada pada tahap riset dan pengembangan.

Penelitian mencakup identifikasi spesies mycorrhiza melalui pengamatan morfologi serta rencana analisis molekuler atau DNA.

Hasil riset diharapkan menghasilkan formula yang tepat untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk dalam pemulihan lahan.

Lebih lanjut, PT AR melakukan pengawasan terhadap tanaman yang telah ditanam dan diinokulasi mycorrhiza melalui asesmen secara berkala.

Tanaman yang mati atau mengalami gangguan akan dilakukan penyulaman.

"Terkait keberhasilan reklamasi secara formal tetap mengacu pada penilaian dan verifikasi pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Perbanyakan Spora

Research Assistant PT AR, Lutfi Hanafi, menjelaskan, spora mycorrhiza yang diperoleh dari alam memiliki kepadatan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengembangan.

Karena membutuhkan tanaman inang untuk berkembang, digunakan tanaman tertentu yang ditanam dalam polibeg sebagai media perbanyakan.

"Mycorrhiza akan memproduksi banyak spora. Setelah jumlahnya meningkat, spora kemudian ditempatkan pada media pasir," jelasnya.

Menurut Lutfi, pasir dipilih karena lebih mudah disterilkan dibandingkan tanah.

Proses pengembangan dilakukan sekitar empat hingga enam bulan dengan perlakuan tertentu, termasuk membandingkan tanaman yang diberi mycorrhiza dengan tanaman tanpa mycorrhiza.

"Hasilnya kemudian kita evaluasi untuk menentukan apakah bisa dikembangkan dan spesies ini cocoknya ditanam di mana," katanya.

Sementara itu, Research Assistant PT AR, Ikhansul Amal, mengatakan pengendalian mutu dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas spora yang dikembangkan.

Salah satu metode yang digunakan yakni menghitung jumlah spora.

"Fokusnya produksi dan uji respons. Berikutnya kita akan mengukur akarnya, apakah spora benar-benar sudah masuk ke akar tanaman, sekaligus mengukur jumlah spora yang terdapat di dalam polibeg," ujarnya.

Sedangkan Research Assistant PT AR, Yuna Ratna Wulansari, mengatakan peningkatan skala perbanyakan mycorrhiza difokuskan untuk menghasilkan spora dalam jumlah lebih besar sehingga dapat diaplikasikan pada tanaman reklamasi.

"Fokusnya bagaimana memperbanyak spora. Ketika dikembangkan di polibeg, jumlahnya diharapkan semakin banyak," jelasnya.

Yuna menambahkan, dalam waktu sekitar enam bulan, jumlah spora ditargetkan meningkat dari ratusan menjadi ribuan.

Menurutnya, pengembangan mycorrhiza menjadi salah satu pendekatan berbasis alam untuk mendukung pertumbuhan tanaman pada lahan reklamasi dengan menyesuaikan jenis tanaman dan metode aplikasinya terhadap karakteristik lahan pascatambang.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sesi tanya jawab bersama insan media, kemudian dilanjutkan peninjauan langsung area pengembangan mycorrhiza dan nursery PT AR.

(HIH/BR)

Baca Juga

Rekomendasi