Onrizal: Tantangan Pascabencana Batang Toru, Relokasi Warga dari Zona Merah Harus Tuntas Beserta Penghidupannya

Onrizal: Tantangan Pascabencana Batang Toru, Relokasi Warga dari Zona Merah Harus Tuntas Beserta Penghidupannya
kegiatan Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pascabencana 2025 di Kabupaten Tapanuli Selatan (Analisadaily/Reza Perdana)

Analisadaily.com, Medan — Pengamat lingkungan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan pascabencana di Kabupaten Tapanuli Selatan bukan sekadar merumuskan kajian dan rekomendasi, melainkan memastikan implementasi nyata di lapangan.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pascabencana 2025 di Kabupaten Tapanuli Selatan, yang digelar di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Medan, Selasa (11/8/2026).

Menurut Onrizal, pemerintah daerah (pemda) harus mengambil langkah konkret guna mencegah warga kembali menempati kawasan yang masuk dalam zona merah atau memiliki kerawanan bencana tinggi. Ia menekankan bahwa program relokasi tidak boleh setengah-setengah.

"Bagaimana masyarakat tidak lagi berada di daerah zona merah. Jangan hanya dipindahkan rumahnya, tetapi masyarakatnya juga harus dikeluarkan dari zona merah. Itu tantangan besarnya," ujar Onrizal.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa proses relokasi yang ideal harus memastikan warga terdampak tidak hanya memperoleh hunian baru yang aman, tetapi juga jaminan sumber penghidupan yang layak di lokasi yang baru.

Onrizal mendorong agar berbagai temuan dan rekomendasi dari riset ilmiah mengenai kondisi lingkungan serta risiko bencana dapat dijadikan fondasi utama oleh pemda dalam merumuskan kebijakan pembangunan ke depan.

Dengan demikian, dokumen kajian tidak hanya berhenti sebagai arsip, melainkan menjadi panduan operasional dalam penataan ruang, pembangunan permukiman, dan sistem mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Pemerintah daerah juga dinilai perlu mengubah paradigma penanggulangan bencana dari yang selama ini bersifat reaktif (hanya merespons setelah kejadian) menjadi proaktif melalui mitigasi dan penataan wilayah berbasis risiko.

"Jadi PR besar kita buat pemerintah daerah adalah bagaimana masyarakat tidak hidup lagi di zona-zona merah ini. Sekarang sudah banyak hasil penelitian, tinggal keputusan pemerintah daerah bagaimana keberlanjutannya," tegasnya.

Keberhasilan mitigasi risiko bencana di masa mendatang, imbuh Onrizal, sangat ditentukan oleh komitmen dan keberanian politik kepala daerah untuk mengintegrasikan hasil riset ilmiah ke dalam kebijakan pembangunan jangka panjang.

Langkah tegas ini dinilai krusial agar masyarakat di wilayah rawan tidak terus-menerus terpapar siklus ancaman bencana yang sama.

(RZD/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi