Tokoh masyarakat Kabupaten Samosir, Oloan Simbolon. (Analisadaily/Tetty Naibaho)
Analisadaily.com, Samosir – Pelestarian lingkungan hidup di kawasan Danau Toba tidak hanya menjadi tanggung jawab sosial, tetapi juga merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya semangat persatuan sebagaimana terkandung dalam sila ketiga. Menurutnya, menjaga kelestarian Danau Toba tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, akademisi, dunia usaha, dan generasi muda. Pada sila keempat, Oloan mengingatkan bahwa setiap kebijakan pembangunan harus mengedepankan musyawarah serta mempertimbangkan dampak lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dinilai penting agar pembangunan berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan. Sementara itu, sila kelima mengajarkan pentingnya keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menegaskan bahwa kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat luas tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. Oloan juga menyoroti kearifan lokal masyarakat Batak yang sejak dahulu telah mengajarkan penghormatan terhadap alam melalui berbagai tradisi adat. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan semangat Pancasila dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan. Sebagai kawasan strategis nasional dan destinasi pariwisata unggulan, Danau Toba memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi yang harus dijaga bersama. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat budaya gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan. "Kelestarian Danau Toba bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan dan masa depan generasi yang akan datang," tutupnya. (TN)(WITA)











