Menjaga Danau Toba Wujud Nyata Pengamalan Nilai Pancasila

Menjaga Danau Toba Wujud Nyata Pengamalan Nilai Pancasila
Tokoh masyarakat Kabupaten Samosir, Oloan Simbolon. (Analisadaily/Tetty Naibaho)

Analisadaily.com, Samosir – Pelestarian lingkungan hidup di kawasan Danau Toba tidak hanya menjadi tanggung jawab sosial, tetapi juga merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikan tokoh masyarakat Kabupaten Samosir, Oloan Simbolon, saat menjadi narasumber dalam kegiatan penguatan nilai-nilai kebangsaan di Hotel Green Dainang Aek Rangat, Kelurahan Siogung-ogung, Kecamatan Pangururan, Samosir, Kamis (19/6/2026).

Dalam pemaparannya, Oloan menegaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila memiliki keterkaitan erat dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Menurutnya, berbagai persoalan yang saat ini mengancam kawasan Danau Toba, seperti pencemaran air, kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan persoalan sampah, harus disikapi melalui penguatan kesadaran kolektif masyarakat.

"Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga menjadi pedoman moral dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan," ujarnya.

Mantan anggota DPRD Sumatera Utara itu menjelaskan bahwa sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan manusia untuk menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan. Menurutnya, menjaga hutan, sumber air, dan ekosistem merupakan bentuk rasa syukur atas anugerah yang diberikan Sang Pencipta.

Pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Oloan menilai bahwa kerusakan lingkungan pada akhirnya berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat. Pencemaran dan kerusakan alam dapat mengancam kesehatan, ekonomi, bahkan keselamatan warga.

"Melindungi lingkungan berarti melindungi hak masyarakat untuk hidup sehat dan sejahtera," katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya semangat persatuan sebagaimana terkandung dalam sila ketiga.

Menurutnya, menjaga kelestarian Danau Toba tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, akademisi, dunia usaha, dan generasi muda.

Pada sila keempat, Oloan mengingatkan bahwa setiap kebijakan pembangunan harus mengedepankan musyawarah serta mempertimbangkan dampak lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dinilai penting agar pembangunan berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Sementara itu, sila kelima mengajarkan pentingnya keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menegaskan bahwa kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat luas tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.

Oloan juga menyoroti kearifan lokal masyarakat Batak yang sejak dahulu telah mengajarkan penghormatan terhadap alam melalui berbagai tradisi adat. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan semangat Pancasila dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.

Sebagai kawasan strategis nasional dan destinasi pariwisata unggulan, Danau Toba memiliki nilai ekologis, budaya, dan ekonomi yang harus dijaga bersama. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat budaya gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.

"Kelestarian Danau Toba bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan dan masa depan generasi yang akan datang," tutupnya. (TN)

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi