Hidayah di Balik Hewan Menjijikkan: Kisah Suwito Menyulap Maggot Menjadi ‘Emas Hitam’

Hidayah di Balik Hewan Menjijikkan: Kisah Suwito Menyulap Maggot Menjadi ‘Emas Hitam’
Suwito (48), seorang peternak di Dusun III, Karang Nangka, Perkebunan Tanah Datar, memperlihatkan maggot yang dibudidayanya (Analisadaily/Reza Perdana)

Analisadaily.com, Batubara – Bagi kebanyakan orang, belatung adalah simbol pembusukan yang menjijikkan. Namun bagi Suwito (48), seorang peternak di Dusun III, Karang Nangka, Perkebunan Tanah Datar, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, hewan-hewan menggeliat ini adalah "hidayah" yang mengubah garis hidupnya.

Berawal dari ketidaksengajaan di akhir tahun 2023, Suwito yang kala itu disibukkan dengan kegiatan bertani dan berdagang, sempat menolak tawaran Kepala Desa untuk mengikuti pelatihan UMKM yang diinisiasi oleh Asian Agri.

"Pertamanya saya menolak karena kegiatan saya sudah cukup padat. Tapi Pak Kades meyakinkan bahwa hanya saya yang bisa menjalankan ini secara berkesinambungan," kenang Suwito saat ditemui di kediamannya, pada Selasa (5/5/2026) silam.

Sepulang dari pelatihan di Buatan Kerinci, Riau, Suwito tidak membawa tangan hampa. Ia membawa 120 biji Azolla, tanaman paku air, dalam botol plastik kecil. Siapa sangka, dari jumlah mungil itu, kini Azolla telah berkembang biak memenuhi kolam-kolamnya dan menjadi rebutan para peternak sekitar.

"Azolla itu proteinnya tinggi, 20-25 persen. Rasanya bahkan agak manis-manis jambu kalau dicicipi sedikit," tuturnya sambil terkekeh. Baginya, Azolla adalah solusi nyata menekan biaya pakan ternak hingga 100 persen.

Tak puas dengan Azolla, Suwito merambah ke budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly). Dengan dukungan CSR Asian Agri berupa kandang dan mesin penetas, ia mulai mengembangkan 10 gram telur maggot menjadi ribuan larva yang rakus melahap limbah organik.

Suwito membuktikan bahwa maggot versinya bukan belatung pembawa penyakit. Maggot BSF adalah "pasukan pembersih" yang higienis. "Saya sudah uji coba, maggot yang diberi makan roti dan susu itu rasanya kayak udang kalau digongseng," ungkapnya mantap.

Maggot (Analisadaily/Reza Perdana)
Kehadiran maggot ini menjadi jawaban atas mahalnya harga pelet di pasaran. Jika pelet komersial hanya mengandung 20-25 persen protein, maggot hasil budidayanya mampu mencapai 30-35 persen protein. Hasilnya? Ternak entok jumbo miliknya tumbuh sehat dan bongsor tanpa sekali pun menyentuh pakan pabrikan.

Keberhasilan Suwito terbukti nyata pada Lebaran lalu. Dari hanya 3 ekor indukan, populasinya melonjak hingga 150 ekor entok. Sebanyak 62 ekor ludes dilelang sebelum hari raya.

"Ada yang beratnya sampai 7 kilogram per ekor. Saya jual 85 ribu rupiah per kilo. Padahal kalau entok lokal biasa, satu tahun dipelihara paling cuma 2,5 kilo," jelasnya. Keuntungan ini ia dapatkan dengan biaya pakan yang hampir nol karena hanya memanfaatkan limbah rumah tangga, Azolla, dan Maggot.

Kini, Suwito memiliki mimpi yang lebih besar. Ia ingin mengubah pola pikir masyarakat Batubara agar tidak lagi bergantung pada bantuan sosial semata, melainkan mulai bergerak menciptakan peluang UMKM sendiri.

Ia berencana memproduksi pelet organik berbahan dasar maggot dan limbah ikan. Nantinya, ia ingin mengajak warga beternak dengan sistem barter, warga menanam Azolla, dan ia akan menukarnya dengan pelet maggot buatannya.

"Saya ingin masyarakat bergerak. Jangan hanya menunggu bantuan desa yang ujung-ujungnya bikin ribut. Dengan maggot dan azolla, kita tidak hanya menghemat biaya, tapi juga membantu mengurangi sampah di lingkungan kita," pungkas pria yang kini kerap dikunjungi para petinggi perusahaan dan pejabat daerah tersebut.

Bagi Suwito, maggot mungkin tetap terlihat menjijikkan bagi mata awam, namun di tangannya, setiap geliat larva itu adalah langkah menuju kemandirian ekonomi.

Dulu Diketawai, Kini Dicari

Suwito (48), seorang peternak di Dusun III, Karang Nangka, Perkebunan Tanah Datar, memperlihatkan azolla yang dibudidayanya (Analisadaily/Reza Perdana)
Siapa sangka, tanaman air yang kerap disalahpahami sebagai gulma dan budidaya ulat (maggot) yang dulunya memancing tawa ejekan, kini justru menjadi primadona baru bagi kemandirian pangan desa.

Adalah Jarkaseh, Kepala Desa Perkebunan Tanah Datar, sosok di balik layar yang memiliki visi tajam. Ia sadar, membangun desa tidak cukup hanya dengan infrastruktur fisik, melainkan harus dimulai dari Sumber Daya Manusia (SDM).

"Saya lirik Pak Wito. Beliau ini sarjana di kampung kami, SDM-nya kuat. Jadi saat pihak CSR Asian Agri mencari satu orang untuk dilatih pada November 2023 lalu, nama beliau yang langsung muncul di kepala saya," kenang Jarkaseh saat bercerita mengenai awal mula inovasi ini.

Namun, perjalanan itu tidak mulus. Pak Wito, sang "sarjana kampung" tersebut, awalnya menolak mentah-mentah. Jarkaseh harus mengeluarkan jurus negosiasi dan dorongan berkali-kali hingga akhirnya Pak Wito luluh dan berangkat mengikuti pelatihan di Buatan melalui binaan Asian Agri.

Sepulangnya dari pelatihan, Pak Wito membawa ilmu yang asing bagi warga, yaitu budidaya Azolla dan Maggot. Tantangan pertama bukan pada teknis, melainkan pada stigma.

"Awal mula Pak Wito buat ini, diketawain orang di sini. Karena masih awam. Di Batubara, bahkan mungkin di Sumatera Utara, belum ada yang seperti ini," ujar Jarkaseh.

Warga awalnya mengira Azolla hanyalah "mata lele" atau tanaman air biasa (mata ikan) yang sering memenuhi parit. Namun, setelah dicermati, Azolla memiliki struktur berbeda; ada sedikit rumput di atasnya dan berakar kuat. Yang paling penting, kandungan proteinnya tinggi, mampu membuat ternak entok lebih cepat kenyang dan sehat.

Perlahan tapi pasti, tawa ejekan berubah menjadi rasa penasaran. Kolam-kolam terpal bantuan CSR Asian Agri mulai terisi. Pak Wito mengombinasikan pakan Azolla dengan budidaya Maggot. Hasilnya? Efisiensi pakan ternak melonjak drastis.

Azolla (Analisadaily/Reza Perdana)
Pemandangan di rumah Pak Wito saat ini tak pernah sepi. Satu dua orang mulai datang berkunjung, melihat, dan akhirnya tertarik. Tak hanya warga lokal, kades-kades dari desa tetangga pun mulai "studi banding" kecil-kecilan. Mereka pulang membawa toples berisi bibit Azolla untuk dikembangkan di wilayah masing-masing.

Meski begitu, Jarkaseh mengakui adanya kendala finansial dalam pemerintahan desa untuk mendukung penuh kebutuhan teknis budidaya yang semakin berkembang. Di sinilah peran sektor swasta menjadi kunci.

"Kami sangat berterima kasih kepada tim CSR Asian Agri. Antusiasme warga luar biasa, mereka beri jempol. Tanpa dukungan mereka, mungkin inovasi ini sulit berlari kencang," ungkapnya.

Inovasi ini bahkan sempat menarik perhatian Dinas Kesehatan saat kunjungan Camat setempat. Ada kekhawatiran mengenai dampak lingkungan atau bau dari budidaya maggot. Namun, keraguan itu sirna setelah pemeriksaan dilakukan.

"Menurut Dinas Kesehatan, ini tidak berbahaya. Sumber makanan yang dihasilkan tidak menyebabkan penyakit. Ini aman," tegas Jarkaseh.

Ke depan, Jarkaseh berencana menyisihkan 20% dana ketahanan pangan (Ketapang) desa untuk memperkuat program ini. Ia bermimpi Desa Perkebunan Tanah Datar tidak hanya dikenal sebagai desa perkebunan, tapi juga pusat inovasi pakan mandiri di Kabupaten Batubara.

"Harapan kami, kerja sama dengan media dan Asian Agri terus berkesinambungan. Ini bukan sekadar tentang ulat atau tanaman air, tapi tentang martabat dan ekonomi masyarakat kami," tutup sang Kades optimis.

(RZD/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi