Hadirkan Stasiun Air Bersih Berbasis IoT, Tim PKM Talenta USU Perkuat Ketangguhan Desa Padang Tualang Hadapi Banjir (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Langkat - Universitas Sumatera Utara (USU) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Talenta 2026 skema Mitigasi Bencana membangun stasiun air bersih terintegrasi di Dusun Mulia, Desa Padang Tualang, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat.
Kegiatan yang berlangsung Agustus hingga September 2026 ini dirancang sebagai langkah mitigasi struktural agar warga tetap memiliki sumber air bersih yang layak ketika banjir kembali melanda.
Kegiatan dipimpin Asima Manurung, S.Si., M.Si., dosen Program Studi D4 Statistika Fakultas Vokasi USU. Ia bekerja bersama tim lintas keilmuan, yaitu Reza Taqyuddin, S.Kom., M.Kom. dan Yudhistira Adhitya Pratama, S.Kom., M.Kom dari Program Studi D3 Teknik Informatika Fakultas Vokasi, serta Ir. Risma Fazillah, S.T., M.T. dari Program Studi S1 Teknik Kimia Fakultas Teknik.
Menurut Asima Manurung, perpaduan statistika, teknik kimia, dan teknologi informasi menjadi kekuatan utama tim. Kolaborasi ini memungkinkan lahirnya solusi yang tepat guna sekaligus berbasis data. Program ini berangkat dari pengalaman pahit masyarakat Langkat saat banjir besar melanda pada akhir November 2025.
Hujan deras yang memicu banjir bandang di Langkat terjadi sejak 26 November 2025, dan Padang Tualang tercatat sebagai salah satu kecamatan terdampak.
"Bupati Langkat Syah Afandin kala itu menyebut 15 kecamatan terdampak, termasuk Padang Tualang dengan ketinggian air rata-rata 50 sentimeter hingga dua meter. Bencana ini disebut sebagai yang terparah dalam dua dekade di Langkat, melampaui banjir 2006 dengan 11 warga meninggal dan 122 ribu kepala keluarga terdampak. Langkat bukan satu-satunya wilayah yang terpukul. Banjir dan longsor akhir 2025 juga meluluhlantakkan Aceh dan kawasan Tapanuli," katanya.
Dikatakan, data BNPB per 27 Januari 2026 mencatat sedikitnya 1.204 orang meninggal dan 140 orang hilang, dengan Tapanuli Tengah sebagai salah satu daerah terparah. Di balik kerusakan fisik, krisis air bersih menjadi persoalan yang paling lama dirasakan.
Di Langkat, warga di wilayah terdampak masih menghadapi krisis air bersih dan listrik padam meski jalan utama sudah pulih. Sedangkan di Aceh Tamiang, penyintas mengaku berhari-hari tidak bisa mandi karena sulitnya sumber air bersih. Dampaknya merambat ke kesehatan.
"Kementerian Kesehatan mencatat 35.975 pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terserang ISPA, sementara di Sumatra Utara juga tercatat 12.693 kasus penyakit kulit dan 2.424 kasus diare. Buruknya sanitasi, terutama ketersediaan air bersih, dinilai sebagai salah satu pemicunya," ujar Asima, Kamis (24/09/26).
Menjawab persoalan tersebut, sambungnya, tim PKM USU membangun stasiun air bersih di Kantor Desa Padang Tualang. Lokasi ini dipilih karena kantor desa merupakan titik kumpul warga saat bencana terjadi. Ketika banjir datang dan sumur warga tercemar, masyarakat tetap dapat mengakses air bersih di tempat yang sama dengan lokasi evakuasi mereka.
Stasiun ini dilengkapi sistem filter air bertingkat yang mengolah air baku secara bertahap hingga layak digunakan untuk kebutuhan dasar warga.
"Rancangan penyaringan memanfaatkan keahlian teknik kimia dalam menyusun media filter yang efektif menurunkan kekeruhan dan kontaminan, kondisi yang umum terjadi pada sumber air pascabanjir," tuturnya.
Tak berhenti pada infrastruktur fisik, lanjut Asima, tim juga menghadirkan alat pemantauan kualitas air berbasis sensor dengan teknologi Internet of Things (IoT) bersifat portabel. Alat ini dapat dibawa untuk memeriksa kondisi air, baik air hasil olahan stasiun maupun sumber air di rumah-rumah warga.
Hasil pengukuran dapat dipantau secara digital, sehingga warga dan pemerintah desa lebih cepat mengetahui apakah air aman digunakan.
Sehingga, data yang terkumpul dapat dianalisis secara statistik untuk memetakan tren kualitas air dari waktu ke waktu. Dengan begitu, penurunan kualitas air bisa terdeteksi sejak dini, bukan baru disadari setelah warga jatuh sakit dan pemerintah desa menyambut baik dan mendukung penuh program ini.
Dia menegaskan, program ini secara langsung mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).
Stasiun air bersih memperluas akses air yang aman dan terjangkau bagi seluruh warga desa, sejalan dengan target akses universal dan merata terhadap air minum layak. Filter bertingkat dan pemantauan berbasis IoT juga memperkuat pengelolaan kualitas air di tingkat komunitas, bukan sekadar menambah jumlah pasokan.
Asima menyebut, air bersih saat bencana menjadi benteng pertama pencegahan penyakit berbasis air seperti diare dan penyakit kulit yang melonjak di pengungsian pascabanjir akhir 2025.
Alat pemantauan portabel memperkuat deteksi dini risiko kesehatan, sehingga desa lebih siap menghadapi masa darurat. Dengan kata lain, program ini tidak hanya menyediakan air, tetapi juga mencegah "bencana kedua" berupa krisis kesehatan setelah banjir surut.
Membangun Desa yang Lebih Tangguh
Dengan demikian, sebutnya, melalui PKM Talenta 2026, USU menegaskan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang langsung dirasakan masyarakat.
Kolaborasi antara Fakultas Vokasi dan Fakultas Teknik ini diharap menjadi model mitigasi bencana berbasis komunitas yang dapat direplikasi di desa rawan banjir lainnya di Langkat maupun Sumatera Utara.
"Dengan stasiun air bersih yang siap digunakan dan teknologi pemantauan yang mudah dioperasikan, Dusun Mulia Desa Padang Tualang kini selangkah lebih siap menghadapi banjir, dengan air bersih yang tetap mengalir ketika paling dibutuhkan," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Padang Tualang, Arfan Lubis, berharap kehadiran stasiun air bersih mampu meminimalkan kekurangan air bersih saat bencana.
"Program ini diharapkan membuat penyediaan air bersih bagi warga menjadi lebih inklusif dan berdampak luas. Akses air bersih tidak lagi bergantung pada kemampuan ekonomi tiap keluarga, melainkan tersedia sebagai fasilitas bersama bagi seluruh warga, termasuk kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil," harapnya.
(HEN/RZD)