Datok Yan Djuna, Tokoh Pemuda Melayu Apresiasi Dialog AHY dengan 8 Kesultanan Sumut

Datok Yan Djuna, Tokoh Pemuda Melayu Apresiasi Dialog AHY dengan 8 Kesultanan Sumut
Datok Yan Djuna, Tokoh Pemuda Melayu Apresiasi Dialog AHY dengan 8 Kesultanan Sumut (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Medan - Tokoh pemuda Melayu sekaligus penyiar RRI Pro 4 FM Medan Program Resam Melayu, Datok Yan Djuna, mengapresiasi dialog Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan KewilayahanAgus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama 8 Kesultanan di Sumatera Utara yang berlangsung secara tertutup di kediaman tokoh masyarakat Sumatera Utara dan Ketua Overlanding Sumut, H. Irmansyah Lubis di Jalan Rajawali, Sunggal, Medan, pada Kamis (3/7/2026) malam, dan dikoordinasi tokoh masyarakat Sumatera Utara lainnya, H. Syarifuddin Siba.

Hal tersebut disampaikannya saat berkumpul bersama sejumlah musisi Melayu Kota Medan di Cafe Wak Bogeng, Medan Marelan, saat membahas tentang perkembangan budaya Melayu di Kota Medan dimana menyinggung sosok AHY yang pada Senin (10/8/2026) genap berusia 48 tahun dan diketahui berkunjung ke Kota Medan ketika berlangsung perhelatan internasional tahunan Gelar Melayu Serumpun (GEMES) di Lapangan Merdeka dan Rakernas XVIII APEKSI Tahun 2026 di Hotel JW Marriot Medan.

“Saya mengapresiasi dialog tersebut karena saya hadirdi acara ketika AHY bersama jajarannya menemui para Sultan dan membuka dialog. AHY datang dengan penuh keramahan dan senyuman meskipun Kota Medan saat itu sedang diguyur hujan. AHY hadir menemui para Sultan setelah melakukan penutupan Rakernas XVIII APEKSI di Hotel JW Marriott Medan,” ungkap pria yang juga merupakan bagian dari Tim Humas kampus swasta unggul Universitas Prima Indonesia (UNPRI).

Dalam kesempatan bersama Jamal Accordion, eks Lebah Begantong, pemain gitar Syahrizal, dan keyboardist Syamsul Baqi, putra almarhum Prof. Ahmad Baqi, musisi, maestro gambus, serta seniman legendaris musik Melayu dan qasidah Kota Medan yang juga merupakan pimpinan OM El-Surayya, Datok Yan Djuna mengungkapan bahwa sikap AHY yang bersedia menemui dan berdialog langsung dengan 8 Kesultanan dari Kesultanan Asahan, Deli, Langkat, Serdang, Billah, Kualuh, Panai, dan Kota Pinang di tengah kesibukannya sebagai pejabat negara merupakan pemandangan yang tidak mudah dilupakan, benar-benar menunjukkan sikap rendah hati sekaligus penghormatan dengan para pemangku sejarah dan budaya Kesultanan di Sumatera Utara.

"Apa yang dilakukan AHY ketika menemui para Sultan benar-benar tak terlupakan dan sangat layak menjadi contoh teladan bagi rakyat Indonesia, sebab memiliki sikap rendah hati dan mendengarkan aspirasi di tengah kesibukannya AHY sebagai negarawan, menteri Koordinator maupun Ketua Umum Partai Demokrat. Komunikasi antara pemerintah, Kesultanan, akademisi, budayawan, dan masyarakat dapat terus terjalin sebagai bagian dari upaya menjaga sejarah, memperkuat kebudayaan Melayu, serta mencari solusi yang adil dan sesuai dengan ketentuan hukum terhadap berbagai persoalan yang menyangkut warisan Kesultanan di Sumatera Utara,” ujarnya.

Salah satu pokok pembahasan dalam dialog tersebut adalah aspirasi delapan Kesultanan Sumatera Timur yang kini berada dalam wilayah Sumatera Utara terkait keberadaan sekitar 5.000 hektare tanah ulayat yang masa konsesinya telah berakhir. Pemerintah, melalui AHY, menyampaikan bahwa persoalan tanah ulayat perlu disikapi secara bijaksana dengan tetap berpedoman pada ketentuan hukum dan prinsip keadilan. Dalam kerangka reforma agraria, terdapat dua agenda penting, yakni pengelolaan aset pertanahan yang berkaitan dengan kepemilikan serta pengelolaan akses pertanahan yang berkaitan dengan pemanfaatan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

AHY juga menyampaikan bahwa pemerintah memahami adanya dimensi sejarah yang kuat dalam persoalan tanah ulayat Kesultanan. Karena itu, pemerintah akan melihat persoalan tersebut secara hati-hati, objektif, dan sesuai koridor hukum yang berlaku. Menurut AHY, klaim historis dapat menjadi dasar pengajuan hak apabila didukung penguasaan fisik, administratif, dan hukum atas objek tanah yang dimaksud.

Pemerintah juga akan memfasilitasi koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian ATR/BPN untuk melakukan verifikasi data dan kajian teknis secara menyeluruh. Selain persoalan tanah ulayat, AHY merespons aspirasi mengenai aset dan bangunan bersejarah Kesultanan yang masih tersisa pasca-Revolusi Sosial 1946. AHY menilai pelestarian warisan budaya merupakan bagian penting dari pembangunan nasional dan akan dikomunikasikan dengan kementerian terkait untuk menjajaki revitalisasi, rehabilitasi, maupun penguatan status cagar budaya.

“Suasana dialog dan silaturahmi semakin berkesan waktu itu karena setelah dialog, AHY beserta jajarannya sangat menikmati beragam kuliner khas Melayu Deli, seperti bubur pedas, roti jala kari kambing, gulai asam ikan baung, juga kue-kue tradisional rasidah, tempur banda, serta aneka manisan atau halwa, sembari menikmati hiburan lagu-lagu Melayu klasik dan modern dari para musisi. Saya juga bergembira hati sebab berkesempatan memberikan kenang-kenangan berupa Tengkulok Mahkota Alam beserta songket hasil dukungan dan karya para pelaku UMKM Melayu untuk AHY melalui H. Irmansyah Lubis yang menjadi tuan rumah. Tampak hadir akademisi, sejarawan, cendekiawan Muslim, dan tokoh masyarakat Sumatera Utara,” ucap Datok Yan Djuna mengakhiri percakapan.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi