Mengapa Kerokan Masih Jadi Pilihan Saat “Masuk Angin”? Ini Penjelasannya (analisa/istimewa)
analisadaily.com, Medan - Kerokan masih menjadi salah satu pertolongan pertama yang populer di tengah masyarakat Indonesia ketika tubuh terasa meriang, masuk angin, atau perut kembung.
Praktik tradisional ini umumnya dilakukan dengan menggosokkan koin yang telah diberi balsem atau minyak pada permukaan kulit hingga muncul garis-garis kemerahan.
Kebiasaan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan kerap dipercaya dapat membuat tubuh terasa lebih ringan setelah dilakukan. Namun, di balik praktik yang sederhana ini, terdapat sejumlah hal yang perlu dipahami mengenai respons tubuh terhadap kerokan.
Naomi, Bintang, Royyen, Hagaina, Eunike, Lenny, Agustina, Indri, Tessalonika, dan Cinta, dengan dosen pengampu Sry Rumondang Sitindaon, S.Kep., Ns., M.Kep, turut mengangkat kerokan sebagai bagian dari pembahasan mengenai kebiasaan kesehatan yang masih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Kerokan tetap menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia bukan karena masyarakat tidak mengenal pengobatan medis. Praktik tersebut bertahan karena telah dilakukan sejak generasi terdahulu dan diwariskan kepada anak cucu hingga menjadi bagian dari budaya dalam menghadapi keluhan kesehatan ringan.
Dalam perspektif antropologi kesehatan, cara masyarakat memilih pengobatan berkaitan erat dengan bagaimana mereka memahami penyebab suatu penyakit. Pada sebagian keluarga, keluhan seperti meriang, kembung, dan badan terasa tidak enak kerap dikaitkan dengan istilah “masuk angin”, sementara kerokan dianggap sebagai salah satu cara untuk meredakannya. Praktik serupa juga dikenal di sejumlah negara Asia Timur dengan istilah *gua sha*.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional di Indonesia meningkat dari 30,4 persen pada 2013 menjadi 31,4 persen pada 2018. Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir sepertiga rumah tangga yang disurvei memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Sementara itu, praktik seperti kerokan yang dilakukan secara mandiri di rumah tidak tercatat dalam angka tersebut.
Kerokan juga telah menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian. Salah satu uji acak yang dipublikasikan dalam jurnal *Pain Medicine* pada 2011 melibatkan 48 orang dengan nyeri leher kronis. Peserta dibagi menjadi kelompok yang menjalani *gua sha* dan kelompok yang menggunakan bantal pemanas. Hasil penelitian menunjukkan kelompok *gua sha* melaporkan penurunan nyeri setelah satu minggu.
Kajian lain terhadap tiga uji klinis mengenai nyeri punggung kronis juga menemukan adanya penurunan intensitas nyeri setelah terapi *gua sha*. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui durasi manfaat serta dampak jangka panjangnya.
Kementerian Kesehatan juga pernah mengulas penggunaan kerokan dan menyebut teknik tersebut berpotensi membantu mengurangi nyeri punggung bawah kronis. Namun, efektivitas dan keamanannya belum dapat dipastikan untuk nyeri yang disebabkan oleh cedera, saraf terjepit, kelainan tulang belakang, penyakit rematik, maupun tumor.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kerokan tidak sepenuhnya tanpa dasar ilmiah, tetapi manfaatnya juga tidak dapat disamakan dengan pengobatan terhadap penyakit tertentu. Sebagian penelitian yang ada masih berskala kecil dan lebih banyak mengamati keluhan nyeri otot, bukan kondisi yang disebut masyarakat sebagai “masuk angin”.
Garis merah yang muncul setelah kerokan juga bukan tanda bahwa “angin” keluar dari tubuh. Warna kemerahan tersebut terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit. Karena itu, kerokan tidak dianjurkan dilakukan pada bayi, orang dengan gangguan pembekuan darah, maupun pada kulit yang sedang mengalami luka.
Hal yang perlu diperhatikan justru ketika kerokan membuat seseorang menunda pemeriksaan medis. Keluhan seperti meriang, mual, lemas, atau badan tidak enak dapat muncul pada berbagai kondisi kesehatan, mulai dari demam berdarah dan tifus hingga gangguan lambung atau masalah jantung. Menganggap seluruh keluhan tersebut sebagai “masuk angin” berisiko membuat penyakit yang lebih serius terlambat dikenali.
Pilihan terhadap pengobatan tradisional juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat. Faktor jarak dan akses menjadi salah satunya. Berdasarkan Riskesdas 2018, hanya 37,1 persen rumah tangga yang menilai akses menuju rumah sakit mudah. Sementara 36,9 persen menilai aksesnya sulit dan 26 persen lainnya menyebut sangat sulit.
Selain akses, biaya dan waktu turut menjadi pertimbangan. Berobat ke fasilitas kesehatan membutuhkan biaya transportasi, waktu untuk mengantre, hingga kemungkinan harus meninggalkan pekerjaan. Sebaliknya, kerokan dapat dilakukan di rumah dengan peralatan sederhana seperti koin dan balsem.
Faktor kepercayaan dan kedekatan keluarga juga berperan. Kerokan biasanya dilakukan oleh orang terdekat yang tidak hanya memberikan sentuhan fisik, tetapi juga perhatian dan pendampingan ketika seseorang sedang merasa tidak enak badan. Pengalaman tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pemerintah sendiri tidak serta-merta menempatkan pengobatan tradisional berseberangan dengan layanan medis. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 37 Tahun 2017 mengatur pelayanan kesehatan tradisional integrasi, yaitu pelayanan yang mengombinasikan layanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional komplementer. Pelaksanaannya dilakukan melalui fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas dengan tetap mengikuti alur pelayanan kesehatan konvensional.
Salah satu penerapannya tercantum dalam pelayanan Puskesmas Kintamani III, Kabupaten Bangli, yang menyediakan pelayanan kesehatan tradisional komplementer bagi pasien yang memenuhi persyaratan.
Dengan pendekatan tersebut, tradisi tidak harus dihilangkan, tetapi dapat ditempatkan secara tepat. Keluhan ringan yang ingin diredakan dengan kerokan tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan kebersihan alat dan kondisi kulit. Namun, apabila demam berlangsung lebih dari dua hingga tiga hari, muncul sesak napas atau nyeri dada, muntah terus-menerus, tubuh sangat lemas, maupun bintik merah pada kulit, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Kerokan pada akhirnya bertahan bukan hanya karena faktor kebiasaan, tetapi juga karena dianggap mudah, murah, dekat, dan memberikan rasa nyaman. Sejumlah penelitian menunjukkan potensinya dalam membantu meredakan nyeri otot, tetapi belum membuktikan bahwa kerokan dapat mengobati penyakit yang berada di balik keluhan “masuk angin”. Karena itu, tradisi dan layanan medis dapat berjalan berdampingan selama masyarakat tetap mengenali batas kerokan dan tidak mengabaikan tanda-tanda penyakit yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
(NAI)