Pemberdayaan dan Pelatihan Pengolahan Kopi Berkualitas Pascapanen, Petani Samosir Terima Mesin Kopi

Pemberdayaan dan Pelatihan Pengolahan Kopi Berkualitas  Pascapanen, Petani Samosir Terima Mesin Kopi
Tim Pengabdian kepada Masyarakat FEB USU berfoto bersama kelompok petani kopi Desa Ronggurnihuta usai penyerahan bantuan mesin pengolahan kopi pascapanen, Minggu belum lama ini. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Samosir-Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU) hadir memberikan pendampingan bagi kelompok petani kopi di Desa Ronggurnihuta, Minggu (10/5/2026) lalu.

Program yang dipimpin Yeti Meliany Lubis, S.E., M.Si., Ak., CA, ini turut melibatkan tiga dosen lainnya, yaitu Irsad, S.E., M.Soc.Sc., Ph.D., Khairul Ali Hutasuhut, S.E., M.Si., dan Walad Altsani HR, S.E., M.Ec.
Dikatakannya Ketua Tim Yeti Meliany Lubis kepada Analisadaily.com, Senin (17/8/26) mengutarakan program ini bertujuan untuk menambah nilai ekonomi hasil kopi melalui penerapan teknologi yang sesuai serta memperkuat kemampuan petani dalam pengolahan pascapanen.
Dikatakannya, harga jual kopi yang diterima petani di Desa Ronggurnihuta, Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir, selama ini masih tergolong rendah.
Sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk buah kopi (cherry) tanpa melalui proses pengolahan pascapanen, sehingga nilai jual yang diperoleh jauh di bawah potensi sebenarnya.
Kondisi tersebut diperparah keterbatasan fasilitas pengolahan, sehingga petani belum mampu menghasilkan kopi berkualitas tinggi sesuai standar pasar.
Padahal, Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah penghasil kopi arabika di kawasan Danau Toba yang memiliki karakteristik cita rasa khas.
"Salah satu varietas unggul yang banyak dibudidayakan Sigarar Utang, yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian sebagai varietas kopi arabika unggulan nasional," ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Samosir, pada tahun 2024 kopi merupakan komoditas perkebunan dengan luas areal terbesar di Kabupaten Samosir, yakni mencapai 5.610,93 hektare dengan total produksi sebesar 2.829,22 ton.
Kecamatan Ronggurnihuta sendiri tercatat sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbesar di Samosir.
Namun, sebagian besar petani di wilayah ini masih menjual hasil panen dalam bentuk cherry sehingga nilai tambah yang diperoleh belum optimal.
"Kecamatan Ronggurnihuta sendiri tercatat sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbesar di Samosir. Namun, sebagian besar petani di wilayah ini masih menjual hasil panen dalam bentuk cherry sehingga nilai tambah yang diperoleh belum optimal," tukasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut,
Petani kopi Desa Ronggurnihuta mencoba mengoperasikan mesin pulper bantuan Tim Pengabdian FEB USU.
Kegiatan diawali dengan penyerahan satu unit mesin pulper dan satu unit mesin huller dry kepada kelompok petani kopi yang diwakili oleh ketua kelompok. Mesin pulper berfungsi mengelupas kulit buah kopi, sedangkan mesin huller dry digunakan untuk mengupas kulit tanduk kopi kering sehingga menghasilkan biji kopi hijau (green bean) yang siap dipasarkan.
Bagi para petani di Desa Ronggurnihuta, mesin pulper yang diserahkan tim pengabdian menjadi harapan baru untuk meningkatkan kualitas kopi yang selama ini hanya dijual dalam bentuk cherry. Dengan adanya mesin tersebut, petani kini memiliki peluang mengolah hasil panen hingga menghasilkan nilai jual yang lebih tinggi.
Setelah penyerahan mesin, program dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan dan perawatan alat. Peserta memperoleh bimbingan mengenai pengoperasian, pembersihan setelah penggunaan, pemeriksaan berkala, hingga penanganan gangguan teknis sederhana agar mesin dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan oleh seluruh anggota kelompok tani.
Petani mengikuti pelatihan pengolahan kopi pascapanen bersama perwakilan Indonesian Diaspora Network of America (IDN-A).
Tim pengabdian juga menyelenggarakan pelatihan teknis pengolahan kopi pascapanen berkolaborasi dengan perwakilan Indonesian Diaspora Network of America (IDN-A).
Materi yang diajarkan meliputi pemilahan buah merah, pemrosesan pulping, fermentasi, pembersihan, pengeringan, hingga hulling untuk menghasilkan green bean berkualitas ekspor.
"Pelatihan dilakukan melalui praktik langsung sehingga petani tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga bisa menerapkannya secara mandiri," ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakannya, dampak ekonomi menjadi inti dari program ini. Sebelum program berjalan, sebagian besar petani menjual kopi dalam bentuk cherry dengan harga sekitar Rp21.000 per kilogram.
"Melalui pengolahan hingga menjadi green bean berkualitas, harga jual kopi berpotensi meningkat hingga sekitar Rp110.000 per kilogram, bergantung pada mutu dan kondisi pasar," tukasnya.
Selain meningkatkan harga jual, jelasnya, pengolahan kopi hingga menjadi green bean juga memberikan berbagai manfaat lain bagi petani, antara lain harga jual yang lebih tinggi, kualitas kopi yang lebih seragam, akses pasar yang lebih luas, peluang ekspor yang meningkat, nilai tambah yang lebih banyak dinikmati petani, bukan hanya pengepul
Respons kelompok petani terhadap program ini sangat positif.
"Selain semakin terampil memanfaatkan teknologi pascapanen, mereka juga terdorong mengembangkan usaha berbasis nilai tambah. Pemanfaatan mesin secara bersama-sama diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperbaiki mutu hasil kopi, sekaligus memperkuat kolaborasi antaranggota kelompok tani," jelasnya.
Melalui penerapan teknologi pascapanen dan peningkatan kapasitas petani, program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat daya saing kopi Samosir di pasar nasional maupun internasional.
Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok tani diharapkan terus berlanjut melalui pengelolaan mesin, penerapan standar pengolahan pascapanen yang konsisten, serta penguatan akses pemasaran produk kopi. "Dengan demikian, kopi asal Kecamatan Ronggurnihuta tidak hanya memiliki kualitas yang lebih baik, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani serta mendukung penguatan ekonomi daerah," paparnya.
(ARU/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi