Investor Pasar Modal Sumut Tembus 1 Juta di Tengah Guncangan Geopolitik Global

Investor Pasar Modal Sumut Tembus 1 Juta di Tengah Guncangan Geopolitik Global
Kepala Kantor BEI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, M. Pintor Nasution (Analisadaily/Reza Perdana)

Analisadaily.com, Medan — Pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah terpaan gejolak global sepanjang tahun berjalan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berhasil menguat sebesar 4,64 persen hingga ditutup pada level 6.525,48 per Agustus 2026, setelah sebelumnya sempat menghadapi volatilitas tajam sejak awal tahun.

Momentum kebangkitan ini diungkapkan langsung oleh Kepala Kantor BEI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, M. Pintor Nasution, dalam acara pemaparan resmi di Medan, Kamis (10/9/2026).

Pergerakan pasar sepanjang tahun 2026 diwarnai oleh berbagai dinamika berat yang mendominasi indeks. Isu konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat beserta sekutunya menjadi salah satu sorotan utama.

Penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga minyak dunia, hingga aksi saling serang sempat membuat IHSG yang semula berada di kisaran level 9.000 anjlok drastis di bawah angka 4.900.

Selain itu, faktor eksternal seperti transisi kepemimpinan The Fed, tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang, serta isu domestik berupa risiko fiskal, kebijakan ekspor satu pintu, hingga perombakan kepemimpinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pengunduran diri Direktur Bursa Efek Indonesia turut memperkeruh suasana pasar.

Pintor mengungkapkan bahwa investor yang sempat panik dan melakukan aksi jual atau panic sellingpada masa-masa sulit tersebut akhirnya justru mengalami kerugian, sementara laporan keuangan fundamental emiten sesungguhnya masih tercatat dalam kondisi yang sangat baik.

"Investor yang melakukan aksi jual karena panik pada masa tersebut dinilai mengalami kerugian," ujar Pintor menegaskan bahwa pelemahan lebih disebabkan oleh sentimen eksternal semata.

Di balik berbagai ujian berat tersebut, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan tren positif per 31 Agustus 2026, ditandai dengan kenaikan nilai transaksi sebesar 20,1 persen serta peningkatan frekuensi transaksi hingga 39,6 persen yang diikuti pula oleh kenaikan volume lembar saham yang ditransaksikan.

Secara nasional, jumlah investor melonjak tajam dari angka 20 juta pada tahun 2025 menjadi 31.137.000 investor per Agustus 2026, mencatatkan pertumbuhan mengesankan sebesar 31,14 persen.

Lonjakan luar biasa ini semakin terasa dramatis apabila ditarik ke belakang sejak tahun 2012 yang saat itu baru mencatatkan sekitar 400 ribu investor nasional.

Pertumbuhan fantastis ini juga tercatat secara gemilang di tingkat regional Sumatera Utara. Jumlah investor di wilayah ini meroket dari posisinya yang hanya 15 ribu investor pada tahun 2012 dan kini resmi melampaui angka 1 juta investor.

Perkembangan ini membuktikan pemerataan literasi keuangan yang luar biasa hingga mencakup seluruh kabupaten dan kota di Sumut.

"Pada tahun 2012, jumlah investor di Sumatera Utara baru mencapai 15 ribu yang tersebar di 33 kabupaten/kota. Bahkan dulu di Kabupaten Humbang Hasundutan hanya ada satu investor. Saat ini, alhamdulillah, jumlah investor di Sumatera Utara telah melebihi 1 juta," jelas Pintor dengan penuh syukur.

Seiring dengan pertumbuhan investor, jumlah emiten asal Sumatera Utara juga bertambah dari tiga perusahaan menjadi 12 emiten.

Kendati demikian, BEI dan OJK kini memperketat aturan pencatatan demi menjaga kesehatan pasar, termasuk mewajibkan direktur keuangan memiliki latar belakang pendidikan keuangan serta keharusan mengikuti pelatihan go public bagi jajaran direksi dan komisaris guna menghindari kasus pelanggaran regulasi oleh perusahaan tercatat.

Dari sisi sebaran wilayah luar Pulau Jawa, Sumatera Utara berhasil menempati posisi teratas dalam hal nilai transaksi, jumlah emiten, hingga total investor.

Berdasarkan data per Juni, aset investor di Pulau Jawa masih mendominasi porsi nasional sebesar 94 persen atau setara dengan Rp4.579 triliun, sementara wilayah Sumatera memberikan kontribusi sebesar Rp110 triliun atau 2,28 persen.

Hingga akhir Juli 2026, Sumatera Utara menyumbang sebanyak 1.493.064 Single Investor Identification dari total 30 juta identitas nasional. Demografi investor di daerah ini didominasi oleh kaum laki-laki sebesar 63,84 persen dan perempuan 35,38 persen.

Berdasarkan kelompok umur, generasi muda usia 18 hingga 25 tahun mendominasi dari segi kuantitas sebesar 33,68 persen, disusul usia 26 hingga 30 tahun sebesar 24,38 persen, serta usia 31 tahun ke atas sebesar 24,40 persen.

"Meskipun secara jumlah investor didominasi oleh kelompok usia muda, dari segi nilai kepemilikan aset masih didominasi oleh kelompok usia 31 atau 40 tahun ke atas," tutur Pintor.

Secara geografis, sebaran investor di Sumut masih terpusat di Kota Medan dengan 396.361 identitas, diikuti oleh Deli Serdang, Langkat sebanyak 79.797 identitas, serta Simalungun dan Asahan sebanyak 59.252 identitas.

Menyongsong masa depan industri pasar modal yang semakin inklusif, manajemen bursa kini memasang target ambisius untuk mencapai 100 juta investor nasional dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Untuk mendukung target tersebut, infrastruktur pendukung di Sumatera Utara terus diperkuat dengan kehadiran 22 kantor cabang perusahaan sekuritas dari total sekitar 90 hingga 91 Anggota Bursa tingkat nasional.

Tiga sekuritas dengan nilai transaksi tertinggi di Sumatera Utara saat ini dipegang oleh Mandiri Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas, dan Panin Sekuritas, di mana Mirae Asset dikenal sebagai pelopor perdagangan daring di Indonesia dengan pangsa pasar ritel terbesar nasional meskipun baru beroperasi sekitar tujuh tahun.

Selain itu, ekosistem pendidikan pasar modal juga semakin diperkuat melalui keberadaan 28 Galeri Investasi di Sumatera Utara, dengan delapan lokasi tambahan yang saat ini sedang memproses izin legalitas guna menggenapkan total jaringan galeri edukasi publik tersebut menjadi 36 titik.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi