Direktur Perlindungan Anak FPRM Aceh, Risqiqa Aulia. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Langsa - Mengingat kasus kekerasan terhadap anak meningkat di wilayah Aceh, Forum Pembela Rakyat Miskin (FPRM) Aceh, mendesak kepada Pemerintah Aceh, untuk memfasilitasi sekaligus mendatangkan tim Psikolog ke sekolah hingga ke kampus.
Menurutnya, kekerasan terhadap anak tidak hanya dilihat dari luka fisik semata, melainkan dampak mental yang jauh lebih penting untuk direhabilitasi. "Sebab, luka fisik bisa sembuh, tapi trauma mental bisa membekas seumur hidup," katanya.
Selain itu, menyoroti kasus terakhir yang terjadi melibatkan seorang pelajar di Banda Aceh, dimana pelakunya juga masih anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa anak-anak saat ini sangat membutuhkan dampingan psikolog.
Karenanya, FPRM Aceh, mendesak Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota untuk mendatangkan Psikolog ke sekolah-sekolah hingga ke kampus.
"Kehadiran psikolog sangat penting untuk deteksi dini terhadap kondisi mental anak dan remaja yang selama ini luput dari perhatian," jelasnya seraya menambahkan angan tunggu kasus kekerasan semakin marak baru kita bertindak.
Dia mengatakan banyak anak yang bermasalah secara mental, menjadi korban bullying (perundungan), tekanan keluarga, hingga pergaulan bebas, tapi tidak ada tempat untuk bercerita atau melampiaskan curhatan hatinya (Curhat).
Selain itu, banyak pelaku kekerasan anak yang ternyata merupakan korban dari lingkungan sebelumnya dan menyimpan luka batin yang tidak pernah ditangani secara profesional.
"Artinya, Kalau di setiap sekolah maupun kampus ada psikolog, anak bisa curhat, bisa konseling. Untuk itu, perlu tenaga profesional psikolog sebagai upaya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga, lingkungan kampus mahasiswa juga rentan mengalami stres, depresi, hingga menjadi pelaku kekerasan," sebutnya.
FPRM Aceh berharap Dinas Pendidikan Aceh dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dapat segera membuat program terpadu dengan menghadirkan layanan psikolog gratis di dunia pendidikan.
"Investasi untuk kesehatan mental anak adalah investasi untuk masa depan Aceh. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dengan luka mental yang tidak pernah diobati," pungkasnya.
(DIR/WITA)











