Analisadaily.com, Medan - Meski ramai, tapi tak semuanya memiliki suasana hati yang sama. Sebagian malah memilih melipir ke sudut taman untuk menuangkan segala beban di pikirannya.
Minggu (13/9) pagi lalu, suasana Lapangan Merdeka Medan dan Taman Bunga Medan dipenuhi warga. Sebagian berjalan santai, berolahraga, bersepeda, menikmati suasana car free day, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga.
Namun, di tengah keramaian itu, ada sejumlah orang yang justru memilih menepi.
Mereka mendatangi sudut-sudut yang disiapkan dalam gerakan memperingati World Suicide Prevention Day (Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia). Tidak sedikit yang datang dengan wajah murung, kemudian duduk dan mulai bercerita.
Ada yang masih berusia muda, dari kalangan Gen Z dan mahasiswa. Ada pula orang dewasa, bahkan mereka yang usianya mendekati lanjut usia. Masalah yang dibawa pun beragam. Konflik dengan orangtua, kehilangan orang yang dicintai, tekanan kehidupan, perasaan terpuruk hingga persoalan pribadi yang selama ini hanya disimpan sendiri.
Di tempat itu, mereka tidak dituntut untuk terlihat kuat. Mereka diberi kesempatan untuk bercerita. Tidak ada ruang penghakiman. Yang tersedia adalah telinga untuk mendengarkan, psikolog untuk membantu memahami persoalan, dukungan dari para relawan, bahkan pelukan bagi mereka yang membutuhkannya.
Gerakan tersebut digelar mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB secara bersamaan di dua lokasi, yakni Lapangan Merdeka Medan dan Taman Bunga Medan. Kegiatan ini diketuai oleh Zuan Anazmi Rambe, M.Psi., Psikolog, dan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Lions Club Medan (LCM) Solidaritas, LCM Happy, LCM Cendekia, Dinas P3AKB Sumatera Utara, para fellow Lions, psikolog profesional, ilmuwan psikologi, Dosen Universitas Satya Terra (ST), Bhinneka, Dr. Agustina Eddy, Yayasan Marga Zhang Sumatera Utara Lion Danield Tanady dan Lion Suyarta, para mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi serta para relawan.
Zuan mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari keinginan sederhana, tetapi sangat penting, yakni memastikan tidak ada orang yang menghadapi penderitaannya seorang diri.
“Gerakan ini sebenarnya mau menyampaikan bahwa setiap individu yang sedang mengalami penderitaan hidup perlu dikuatkan. Mereka hebat dan berdaya. Setiap kehidupan itu sangat berharga,” ujarnya.
Menurut Zuan, pencegahan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Kadang, langkah pertama justru dengan menyediakan ruang aman bagi seseorang untuk mengeluarkan apa yang selama ini dipendam.
Karena itu, kegiatan tersebut tidak dikemas dalam bentuk seminar semata. Masyarakat yang hadir dapat langsung bertemu dan berbicara dengan psikolog.
Pendekatan yang dilakukan pun berbeda-beda, sebab menurut Zuan, setiap orang memiliki persoalan dan cara menghadapi krisis yang tidak sama.
“Pencegahan itu setiap orang memandangnya berbeda. Ada yang mengalami pertentangan dengan orangtua, ada yang menghadapi krisis karena ditinggal orangtua, dan ada berbagai persoalan lainnya,” katanya.
Suasana di dua lokasi itu menjadi gambaran bahwa persoalan psikologis dapat hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Seseorang yang terlihat sedang menikmati car free day belum tentu sedang baik-baik saja. Di balik aktivitas berjalan kaki, berolahraga dan bercengkerama, bisa saja ada seseorang yang sedang berjuang menghadapi persoalan yang tidak diketahui orang lain.
Karena itu, kehadiran gerakan ini menjadi semacam ajakan untuk berhenti sejenak dan saling memperhatikan.
Zuan menyebut, masyarakat yang merasa sedang down, mengalami tekanan atau berada dalam situasi krisis dapat datang dan bercerita. Mereka tidak harus menunggu persoalannya menjadi semakin berat.
“Ketika mereka punya gejala krisis, lewat gerakan ini mereka bisa cerita. Ada yang down bisa cerita,” ujarnya.
Para psikolog yang terlibat juga memperhatikan berbagai tanda yang muncul ketika seseorang berinteraksi. Termasuk perubahan ekspresi dan respons emosional atau mikro ekspresi yang dapat menjadi petunjuk adanya beban psikologis.
Bagi Zuan, pertolongan pertama psikologis bukan hanya soal memberikan nasihat.
Pertolongan dapat dimulai dengan mendengarkan cerita, memahami kebutuhan orang tersebut, memastikan kebutuhan dasar seperti minum, kemudian memberikan saran atau mengarahkan kepada bantuan yang sesuai.
Memilih Mendekat dan Menerima Pelukan
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah orang yang mendapatkan layanan selama kegiatan berlangsung.
Di Lapangan Merdeka, lebih kurang tercatat 55 orang menerima layanan pelukan dan 28 orang mendapatkan konseling.
Sementara di Taman Bunga, sebanyak 51 orang menerima layanan pelukan dan 12 orang mendapatkan konseling.
Angka tersebut bukan sekadar catatan jumlah peserta. Di balik setiap angka terdapat cerita, persoalan dan perjalanan hidup seseorang. Ada yang mungkin selama ini tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ada pula yang baru menemukan kesempatan untuk berbicara karena hadirnya ruang yang terbuka dan tidak menghakimi.
Gerakan tersebut turut melibatkan sekitar 50-an mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Medan, di antaranya Universitas Potensi Utama, Universitas Satya Terra Bhinneka, Universitas Medan Area dan Universitas Sumatera Utara.
Mereka bersama para relawan, fellow Lions, psikolog dan ilmuwan psikologi ikut membuka ruang interaksi dengan masyarakat.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu momentum peringatan setiap tahun. Sebab, persoalan psikologis dan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan tempat bercerita tidak mengenal tanggal.
Tidak semua persoalan harus langsung memiliki jawaban pada hari itu. Tidak semua luka dapat sembuh hanya dengan satu percakapan.
Tetapi, kesempatan untuk didengar dapat menjadi awal dari sebuah langkah berikutnya.
Zuan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Saya ucapkan terima kasih kembali kepada Ibu Rahmi dan Pak Andy Lie sudah memberikan dukungan, amanah, kepercayaan dan arahan kepada saya agar kegiatan peringatan pencegahan bunuh diri berjalan dengan lancar,” katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para fellow Lions, Dinas P3AKB, LCM Happy, LCM Solidaritas, rekan sejawat psikolog, ilmuwan psikologi, mahasiswa psikologi dan seluruh relawan yang terlibat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut telah membuka kesempatan bagi masyarakat Kota Medan yang selama ini memiliki kendala menjangkau layanan psikologi untuk mendapatkan bantuan.
“Semoga kita bisa bekerja sama di kesempatan yang lain dan memberi manfaat lebih banyak bagi masyarakat,” ujarnya.
(NS/BR)











