Mahasiswa Fasilkom-TI USU Juara Pertama Garuda Spark NextPreneur 2026 Sumut (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Belajar untuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak selalu harus berlangsung dengan cara yang monoton. Gagasan itulah yang dibawa mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (Fasilkom-TI) Universitas Sumatera Utara (USU) melalui TKA Up!, sebuah aplikasi pembelajaran berbasis permainan yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan konsep game-based learning.
Ketua Tim Mahasiswa, Yenni Theresia Zalukhu, mengatakan timnya mengusung bidang Technology & Digital Innovation dalam kompetisi yang tidak hanya menjadi ajang mencari ide bisnis, tetapi juga memberikan pembinaan kepada peserta untuk mematangkan gagasan usaha.
“Program ini tidak hanya berfokus pada perlombaan untuk mencari ide bisnis terbaik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan dan mematangkan ide usaha agar memiliki potensi untuk diwujudkan menjadi bisnis yang berkelanjutan,” ujar Yenni.
TKA Up! dirancang untuk membantu siswa kelas 6 SD, kelas 9 SMP, serta kelas 12 SMA/SMK dalam mempersiapkan TKA. Aplikasi tersebut menggunakan konsep permainan vertical climbing, sehingga siswa belajar sambil memainkan permainan dengan mekanisme memanjat dari satu obstacle ke obstacle berikutnya.
Menurut Yenni, TKA Up! juga dilengkapi AI Adaptive Learning Engine yang memungkinkan sistem menyesuaikan materi dan latihan soal berdasarkan kemampuan masing-masing siswa. Selain itu, terdapat AI Companion melalui fitur “Tahukah Kamu” yang memberikan fun facts dan tips seputar materi yang sedang dipelajari.
Fitur lainnya mencakup video pembelajaran, latihan soal interaktif, tantangan permainan, hingga sistem mastery learning yang dirancang agar siswa memahami materi sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
Gagasan itu kemudian diuji melalui rangkaian kompetisi yang diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa, fresh graduate, founder lokal hingga pelaku UMKM di Sumatera Utara. Setelah melalui seleksi administrasi, penilaian dan kurasi, panitia menetapkan lima finalis dari kategori Ide Bisnis dan lima finalis dari kategori Business Existing.
TKA Up! menjadi satu-satunya tim dari USU yang masuk dalam lima besar kategori Ide Bisnis. Pada babak final, tim tersebut bersaing dengan Sewa Tani dari Politeknik Negeri Medan, NexaCycle dari IT Del, YeXiu Studio dari Politeknik Negeri Medan dan Kisah Kita.
Sebelum memasuki babak penentuan, seluruh finalis mengikuti bootcamp selama dua hari. Pada 29 Oktober, mereka mendapat business mentoring dan pitch mentoring untuk mempertajam model bisnis, menyempurnakan pitch deck serta mempersiapkan presentasi.
Sehari berikutnya, para finalis mempresentasikan ide bisnis di hadapan dewan juri. Setiap tim mendapat waktu 15 menit untuk presentasi dan dilanjutkan sesi tanya jawab selama 30 menit.
“Setelah melalui proses mentoring, pitching, penilaian, serta tanya jawab bersama dewan juri, TKA Up! berhasil memperoleh peringkat pertama atau menjadi pemenang kategori Ide Bisnis Garuda Spark NextPreneur Sumatera Utara 2026,” kata Yenni.
Dalam pengembangan TKA Up!, tim juga mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Fasilkom-TI USU, Rossy. Pendampingan tersebut antara lain membahas kebutuhan pengguna, pengembangan fitur hingga model bisnis.
Salah satu masukan yang diperoleh tim adalah pentingnya melihat persoalan orang tua ketika mendampingi anak belajar, mulai dari keterbatasan waktu, kesulitan membangun kemauan belajar anak hingga perbedaan kemampuan setiap anak dalam memahami materi.
Masukan tersebut kemudian mendorong tim mengembangkan pembelajaran adaptif berbasis AI, sistem rekomendasi soal berdasarkan kemampuan siswa serta simulasi ujian TKA dengan lingkungan yang menyerupai kondisi ujian sebenarnya.
Yenni mengatakan, kemenangan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian dalam kompetisi. Tim berharap dukungan dari universitas dan fakultas dapat terus berlanjut sehingga TKA Up! dapat dikembangkan menjadi produk digital yang benar-benar digunakan dan memberi manfaat bagi dunia pendidikan.
“Kami berharap ide bisnis yang telah kami kompetisikan tidak berhenti pada tahap perlombaan, tetapi dapat direalisasikan menjadi produk digital yang benar-benar digunakan dan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan,” ujarnya. (WITA)











