Oleh: Syamsul Bahri Ritonga.
Membaca atau mendengar Pargumbangan dan Mandalasena pasti masih sangat asing bagi khalayak, karena belum pernah didengar dan tidak tahu apa dan dimana itu.
Pargumbangan dan Mandalasena adalah nama dua desa di Kecamatan Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan. Lebih kurang 80 km dari kota Sipirok, Ibukota Tapanuli Selatan. Lebih kurang dua kilometer sebelum Sipagimbar (Ibukota Saipar Dolok Hole), tempat yang lebih dikenal dengan Simpang Mandala mengarah ke kanan adalah jalan menuju Pargumbangan dan Mandalasena. Dapat dilalui dengan kenderaan roda dua, jika dengan roda empat (dalam keadaan jalan kering), sebab belum sepanjang jalan beraspal.
Istilah "Pargumbangan", dalam Kamus Bahasa Angkola (Arden Siregar, dan kawan-kawan), berarti "gerbang desa" yang terbuat dari dua tiang.
Kalau satu desa dimana dipintu gerbangnya terdapat dua tiang (agak miring), zaman dahulu kayu khusus, pertanda desa itu ada kelebihan atau keistimewaan.
"Mandalasena", dapat diartikan menurut dua asal bahasa. Dalam Bahasa Sansekerta atau Bahasa Kawi (Jawa Kuno), "Mandalasena" terdiri dari "Mandala" dan "Sena". "Mandala" berarti "Gelanggang" atau "Arena". Sedangkan "Sena" atau "Seno" berarti "Pemuda" atau "Remaja". Jadi Mandalasena berarti "Gelanggang Remaja".
Dalam Bahasa Angkola, berasal dari kata "Mundala" dan "Usena". "Mundala" berarti "tempat susu ternak" dan "Usena" adalah "tertumpah". Tempat susu yang tumpah.
Jarak antara Mandalasena dengan Pargumbangan lebih kurang dua kilometer, yang keduanya diarah Selatan Kecamatan Saipar Dolok dekat berbatasan dengan Kecamatan Padang Bolak, Padang Lawas Utara (Paluta).
Dalam sejarahnya, memang Mandalasena dan Pargumbangan adalah semula bagian wilayah Kecamatan Padang Bolak, ketika Kecamatan Sipirok dimekarkan sebagian menjadi Kecamatan Saipar Dolok Hole, maka Mandalasena, Pargumbangan, dan beberapa desa sekitarnya dimasukkan sebagai bagian dari Kecamatan Saipar Dolok Hole. Awalnya, Mandalasena merupakan salah satu dari 6 (enam) daerah Kedewanan yang ada di Kecamatan Saipar Dolok Hole, yaitu Dewan Negeri Mandalasena. Waktu itu Kecamatan Sipirok dan Kecamatan Padang Bolak masih sama-sama bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan.
Akses ke Portibi
Penelusuran sementara, Pargumbangan-Mandalasena sekitarnya yang saat ini masih diselimuti hutan belukar dan sungai-sungai yang jernih, termasuk Hulu Sungai Batang Pane menggambarkan daerah itu masih sejuk. Sumber kehidupan masyarakat adalah pertanian, sawah, kebun karet, dan lain-lain yang kesemuanya masih dalam pengelolaan terbatas/tradisional.
Sarana pendidikan tertinggi yang ada baru satu SMP Negeri disekitar itu dan beberapa Sekolah Dasar Negeri serta beberapa Sekolah Mengaji tingkat Awwaliyah non formal.
Jika ingin melanjutkan pendidikan harus keluar daerah atau paling dekat ke Sipagimbar atau ke Sipirok.
Keadaan alam yang masih asri demikian, selain potensi alam, sungai dengan Air Terjun (Sampuran) Aek Nabara, memiliki bebatuan (Gemstone) ternyata ditempat-tempat di sekitar kedua desa itu dan juga desa-desa lain, terdapat banyak benda-benda bersejarah yang berciri Hindu.
Sementara membandingkan keberadaan daerah ini dan dengan mengingat Candi Portibi di Padang Lawas Utara, bukan tidak mungkin ada keterkaitan antara Mandalasena dengan Portibi.
Jika ditarik garis lurus, antara Mandalasena dengan Portibi hanya lebih kurang 30 kilometer.
Jika di Portibi, sudah jelas candinya sebagai tanda, selain Mandalasena-Pargumbangan, di Saipar Dolok Hole banyak nama-nama khas yang berbau Hindu atau Jawa Kuno, seperti nama Sipagimbar sendiri, Banua, Tapus, Tolang, Batarawisnu, dan lain-lain.
Misteri Makam
Dari beberapa keistimewaan yang khas dan menyimpan misteri adalah adanya Kuburan Tua di Pargumbangan.
Menempuh desa ini, jika kita dari Mandalasena menuruni hutan dan kebun Karet penduduk ke Hulu Sungai Batang Pane.
Di sekitar sungai ini terhampar persawahan penduduk. Dilanjutkan perjalanan menuju Desa Pargumbangan, kita mendaki jalan bertangga sepanjang jalan lebih kurang 500m.
Sepanjang jalan, tangga tersebut terbuat dari Batu Tulpang, nama sejenis batu setempat, dibentuk berlubang sebagai rembesan air. Bentuknya empat segi, jadi mirip dengan bahan semen yang sudah dibentuk, ukuran sekitar 50 cm persegi. Itulah disusun sampai ke pintu gerbang Desa Pargumbangan.
Informasi dari M. Harun Dongoran, sampai tahun 1945, penduduk Desa Pargumbangan masih dihuni 80 Rumah Tangga/KK.
Namun awal tahun 1995-an tinggal 7 RT/KK yang berdiam ditempat itu. Rumah-rumah lainnya telah ditinggalkan pemiliknya.
Sedikit arah timur laut Desa Pargumbangan, dipisahkan oleh sawah dan kebun penduduk, terdapat satu tempat pekuburan/Makam Tua, bentuk empat segi. Muntan Rambe (tokoh masyarakat) setempat, tahun 1947/1948 masih pernah melihat Pekuburan dimaksud, sebelumnya diilustrasikan, berukuran 7 x 9 meter, posisi bagian depan gambar/patung manusia menghadap ke barat, dan patung Singa disetiap sudut. Di bagian atas dalam pekuburan ada lima nisan.
Tembok/dinding pekuburan, juga terbuat dari Batu Tulpang (sama dengan batu tangga yang dibuat ke bawah menuju sungai).
Kondisi pekuburan tersebut sekarang tidak jelas lagi. Namun masih sempat diabadikan antara lain adanya Patung manusia, potongan Patung berbentuk Gajah, Singa, Anjing, dan lain-lain.
Penuturan tokoh masyarakat, sekitar tahun 1971/1972, pekuburan tersebut pernah dibongkar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan maksud mencari barang/benda berharga.
Menurut ceritanya, orang yang membongkar tersebut tidak berhasil, malah ditimpa sakit.
Kisah peninggalan purba tersebut, dapat digolongkan sebagai Situs yang menyimpan sejarah. Pandangan kasat mata tofografi sekarang orang kurang percaya, tetapi tanda-tanda peninggalan yang ada, diperkirakan manusia dahulunya tiba ke lokasi itu dimungkinkan menggunakan kapal laut menyusur Sungai Batang Pane.
Butuh Penelitian
Upaya membangun dan memajukan daerah tertentu faktor alam menjadi salah satu pertimbangan. Jika daerah memiliki kekayaan alam yang beragam dan yang belum pernah dieksplorasi, apalagi didukung sektor lain, yang tidak semua daerah memilikinya, seperti misteri sejarah, benda-benda peninggalan zaman dahulu, nama-nama tempat berbau Hindu, dan sebagainya tersebut yang terdapat di Mandalasena-Pargumbangan/Saipar Dolok Hole, semakin kuat pilihan membangun daerah itu.
Untuk menggali itu diharapkan kiranya perhatian para Archeolog, bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat membuat suatu penelitian khusus, sejalan dalam rangka mengembangkan dan membangun wilayah itu dengan memanfaatkan serta memberdayakan sumber daya (manusia dan alam) yang ada dan cukup potensial.***
Penulis adalah Dosen Antropologi Budaya di PT Budi Daya Binjai.











