KPH II Siantar Ungkap Penyebab Banjir Parapat

KPH II Siantar Ungkap Penyebab Banjir Parapat
Peta kawasan hutan yang menjadi penyebab banjir di Parapat (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Parapat - Unit Pelaksana Tugas (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Pematangsiantar mengungkap adanya dua kubangan di kawasan hutan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, yang menjadi sumber banjir di Parapat.

Kedua kubangan itu berada di sekitar Huta Sualan, Nagori Sibaganding dan Bukit Bangun Dolok Parapat.

Kasi Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat KPH II Pematangsiantar, Tigor Siahaan mengatakan, pihaknya sudah turun ke kedua titik tersebut untuk mengungkap kondisi hutan yang sebenarnya.

Tigor menyebut apa yang diduga oknum tertentu terkait kerusakan hutan yang parah di Parapat mesti diluruskan. KPH II Pematangsiantar siap mengungkap fakta di lapangan bersama stakeholder terkait bila dibutuhkan.

"Yang kami lihat semalam, di titik koordinat pertama, Nagori Sibaganding, sebenarnya itu jalur air. Itu kalau ada hujan saja baru ada airnya. Kita sudah ke sana dan melihat di atasnya ada kubangan yang kerap menampung air saat hujan," kata Tigor, Senin (7/6).

Kubangan tersebut menurutnya takkan mampu menampung debit air yang besar saat hujan deras terjadi sewaktu-waktu. Itulah yang menjadi penyebab air tumpah bila sudah melewati batas ambang jenuh.

"Kalau sudah mencapai titik jenuh, itulah meluap mengakibatkan banjir dan airnya turun ke jalan," jelasnya.

Titik lainnya yang menyumbang banjir di Parapat berasal dari Perbukitan Bangun Dolok. Di atas perbukitan ini, KPH II Pematangsiantar melihat adanya kubangan penampung air hujan dan beberapa tutupan areal yang belum maksimal.

Tigor mengatakan, KPH II Pematangsiantar hanya memonitor sebagian kecil kawasan hutan. Selebihnya, kawasan hulu (daerah sumber air) merupakan wewenang Balitbang Aek Nauli yang mengelola hutan Kawasan Dengan Tujuan Khusus (KDTK).

Di Balitbang Aek Nauli tersebut, KPH II menemukan adanya penebangan hutan. Namun menurut Tigor, arealnya tak terlalu luas dan diduga penebangan terjadi sudah lama.

"Di situ kondisi tutupan lahannya agak bagus. Sempat ada penebangan di sana, cuma beberapa pohon berdiameter kecil kita lihat tumbang dengan kondisi berlumut. Kita duga terjadi sudah lama," katanya.

"Kalau menurut saya, kerusakan hutan juga memberi dampak. Di Huta Sualan, tidak ada penebangan. Tapi di Bangun Dolok Parapat yang kita lihat ada penebangan, tapi penebangan lama," terangnya.

Tigor mengatakan KPH II Pematangsiantar siap berdiskusi dengan Balitbang LHK Aek Nauli maupun Pemkab Simalungun untuk mencari solusi agar banjir di Parapat tak terjadi lagi. Apalagi Pemkab Simalungun dikabarkan berniat membuat tembok penahan dan jalur air di kedua lokasi tersebut.

Adapun total luas area hutan tersebut; Unit VI Simalungun seluas 45 ribu hektare yang berada di daerah Dolok Silau - Raya - Raya Kahean - Silau Kahean - Panombeian Panei.

Kemudian Unit XII Simalungun seluas 56 ribu hektare berada di daerah Girsang Sipangan Bolon - Hatonduhan - Ujungpadang.

(FHS/EAL)

Baca Juga

Rekomendasi