Kota Medan Diyakini Mampu Eliminasi TBC

Kota Medan Diyakini Mampu Eliminasi TBC
Sejumlah perwakilan berbagai lembaga peduli TB Kota Medan rapat di Sekretariat Penabulu Medan, Kamis (13/10/2022) siang. (Analisadaily/Zulnaidi)

Analisadaily.com, Medan - Sejumlah lembaga sosial peduli penyakit tuberkulosis (TBC) di Kota Medan mengaku optimis eliminasi TB di Kota Medan segera terwujud. Bahkan, diyakini Medan bisa menjadi pilot project dalam penanganan masalah TBC.

Demikian Samara Yuda Afianto dari Penabulu Medan dalam diskusi lintas lembaga terkait masalah TB di Kota Medan di Sekretariat Penabulu, Kamis (13/10/2022) siang. Rapat tersebut menindaklanjuti permintaan Ketua Fraksi Nasdem di DPRD Medan tentang situasi TB di Kota Medan dari pandangan lintas lembaga sosial.

Hal ini akan menjadi bahan masukan dalam Ranperda inisiatif DPRD tentang Penanggulangan Penyakit Menular melalui Udara. Rapat dihadiri perwakilan Penabulu, Yapemmas, Pesat, Peradi dan utusan Universitas Prima Indonesia.

Optimisme itu, kata Yuda, terlihat dari sinergitas yang terbangun antarlembaga sosial peduli TB, eksekutif dan legislatif. Dengan sinergitas tersebut, diyakini, berbagai permasalahan TB bisa diatasi secara masif dan bersama-sama. Baik persoalan temuan kasus, pelayanan kesehatan hingga anggaran.

Ditambahkan, mengacu pada Perpres No.67 Tahun 2021, Pergub No.22 Tahun 2019 Tentang RAD Penanggulangan TBC di Sumatera Utara, serta kebijakan / peraturan yang ada, berbagai lembaga ini mendorong lahirnya Ranperda Kota Medan tentang "Perlindungan Masyarakat dari Penyakit Menular Melalui Udara (TBC)".

Selain itu, juga diusulkan melakukan edukasi/sosialisasi terkait TBC di masyarakat melalui jejaring lintas sektor/lintas isu di Kota Medan maupun Sumatera Utara. Pelibatan aparatur pemerintah dan jajarannya dalam program penanggulangan TBC di Kota Medan.

Kemudian, jika memungkinkan pemanfaatan anggaran dana kelurahan untuk program TB di Kota Medan. Pelibatan sektor swasta dalam program TBC di Kota Medan.

Kelurahan percontohan

Bahkan, katanya, bila dibutuhkan, bisa juga dibuat satu kelurahan percontohan dalam penanggulangan TBC di Kota Medan. Selanjutnyha, penguatan kader TBC. Pembentukan Forum Multi Sektor TBC di Kota Medan.

Kemudian, lanjutnya, perlunya konselor psikososial bagi pasien TBC di Kota Medan. “Ini penting, mengingat efek samping dalam penggunaan obat TBC, maka pasien perlu mendapat konseling,” ucapnya.

Perlu juga dibuat pusat pengaduan bagi permasalahan pasien TBC. Peningkatan anggaran TBC dalam APBD Kota Medan. Termasuk juga memberikan nutrisi bagi pasien TBC. Anggaran untuk kader/pendamping sebaya dalam pendampingan pasien TBC.

Selanjutnya, adanya kegiatan pelatihan bagi kader/pendamping sebaya terkait TBC. Perlunya riset terkait TBC di Kota Medan. Dan adanya petugas pencatatan dan pelaporan di Fasilitas Kesehatan Swasta (Klinik, Rumah Sakit & Dokter Praktik Mandiri).

“Berbagai permasalahan dan usulan yang kita sepakati ini, kita coba tawarkan kepada dewan agar menjadi bahan masukan dalam pembahasan Ranperda nantinya,” sebut Yuda.

Kris Nainggolan, dari Pesat, organisasi pendamping sebaya dari mantan pasien TB RO (resisten obat) mengaku, penanganan TBC memang harus dilakukan secara serius. Soalnya, kasus TBC kini sudah merambah ke semua lini status sosial baik tua maupun anak.

“Dari yang kita dampingi pasien TBC terdiri dari berbagai profesi dan status sosial. Jadi, TBC sekarang bukan lagi penyakit orang miskin, tapi sudah merambah ke semua status sosial,” ucap Kris.

Menurutnya, pasien TBC memang perlu pendampingan, tidak saja untuk makan obat secara rutin tapi juga memberikan konseling agar pasien tetap tenang dan menjalani proses perobatan hingga tuntas.

“Saya sendiri setiap kali habis makan obat pingsan hingga beberapa jam. Begitu hebat efeknya, sehingga terasa berat. Namun karena dukungan keluarga dan berbagai pihak, proses pengobatan bisa dijalani hingga tuntas,” ungkapnya.

(NAI/JG)

Baca Juga

Rekomendasi