Cerita Mantan Pasien TBC, Diceraikan Istri dan Gagal Jadi PNS

Cerita Mantan Pasien TBC, Diceraikan Istri dan Gagal Jadi PNS
Jajaran Komunitas Penyintas TB (Kompas TB) diabadikan bersama di Hotel Putra Mulia, Medan, Selasa (22/11). (Analisadaily/Zulnaidi)

Analisadaily.com, Medan - Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok di Indonesia. Bahkan, menurut rilis badan kesehatan dunia (WHO), Indonesia menempati urutan kedua terbanyak kasus TBC di dunia.

Di Indonesia, data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, kasus tertinggi dipegang Kota Medan. Dengan jumlah estimasi kasus 18 ribuan, namuan hanya 6 ribuan kasus yang masih ditemukan hingga kwartal terakhir tahun ini.

Permasalahan TBC juga tidak melulu masalah kesehatan. Persoalan lainnya multidimensi. Mulai dari sosial, psikis, ekonomi dan lain sebagainya. Tidak jarang pasien TBC mendapatkan stigma dan diskriminasi. Termasuk stigma dari diri dan orang terdekatnya.

Seperti dialami, Kris Nainggolan.Dia seorang mantan pasien TBC. Awalnya di tahun 2015 dia berobat TBC sensitif obat (SO) dan sembuh. Kemudian, di tahun 2018, dia terpapar TBC resisten obat (RO).

Saat diketahui menderita pasien TBC RO, sebut Kris, usai pertemuan pembentukan Komunitas Penyintas TB (Kompas TB) di Hotel Putra Mulia, Medan, Selasa (22/11), dia dirawat seminggu di rumah sakit. Tujuannya untuk melihat apakah ada penyakit lain agar memudahkan dalam pengobatan TBC RO.

Pingsan

Dia kemudian mengikuti pengobatan TBC RO dengan waktu paling cepat 9 bulan. Setiap hari selama 4 bulan, dia harus disuntik. Kemudian minum obat 25 butir setiap hari. “Setiap hari sehabis minum obat, aku pingsan beberapa jam. Peristiwa ini terjadi sampai tuntas pengobatan penyakit TBC yang aku alami,” sebut Kris.

Menurutnya, ketika dia diagnosis menderita TBC RO, saat itu dia sangat membutuhkan dukungan orang terdekat. Tapi, apa yang terjadi. Dia mendapatkan stigma dan diskriminasi dari orang terkasihnya, istrinya sendiri. Istrinya tidak kuat dan memilih meminta pisah. Kris tidak bisa berbuat banyak selain mengabulkan permohonan istrinya. Merekah pisah.

“Syukurnya, keluargaku mendukung untuk perobatan. Itu yang membuatku semangat menjalani pengobatan TBC sampai tuntas,” sebut Kris lagi.

Masalah belum tuntas. Kris juga terpaksa berhenti bekerja. Sebelumnya dia sebagai guru honor di salah satu sekolah dasar. Bahkan, sudah masuk dalam kategori K2 yang bakal diangkat menjadi ASN. Tapi, karena penyakit TBC RO dan perobatan yang begitu berat, dia akhirnya melepas kesempatan emas untuk menjadi seorang pegawai negeri.

“Selain menjadi guru honor, saya juga kuliah. Karena TBC, saya juga terpaksa menghentikan perkuliahan. Semua gagal,” kenang Kris lagi.

Namun semua itu tidak membuatnya putus asa. Kris bangkit. Dia kini menjadi salah seorang pendukung pasien TBC RO. Dari 16 pasien TBC RO yang didampinginya saat ini, mereka mengalami beragam dampak dari minum obat. “Ada yang kaki kram. Kuping tidak dengar, kulit menghitam dan lain sebagainya. Setiap orang memiliki efek yang berbeda,” sebutnya.

Sebagai salah seorang anggota Pejuang Sehat Bermanfaat (Pesat) ini, Kris memanfaatkan pengalamannya untuk memberikan edukasi dan sosialisasi masalah TBC kepada dampingannya untuk berobat hingga tuntas. Soalnya, walaupun berat, penyakit TBC ini bisa sembuh. Hal itu sudah dibuktikannya. “Aku dinyatakan sembuh dan diberi surat keterangan bahwa aku sudah sembuh. Stop stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC!” tegas Kris.

Kompas TB

Selain Kris, banyak kasus stigma dan diskriminasi yang dialami pasien TBC. Tidak sedikit mereka yang mengikuti program pengobatan TBC, malah dipecat dari perusahaan tempat mereka bekerja. Seharusnya, ada perhatian dari manajemen perusahaan untuk memberikan peluang kepada karyawannya agar mengikuti program perobatan TB sampai tuntas.

Kasus stigma dan diskriminasi paling besar juga terjadi di dalam diri pasien TBC. Soalnya, mereka masih belum mendapatkan edukasi yang baik mengenai penyakit ini. Untuk itu, Yapemmas (Yayasan Peduli Kemandirian Masyarakat) didukung Accelerate Penabulu Foundation menginisiasi pembentukan Komunitas Penyintas TB (Kompas) TB Sumut.

Dari pertemuan, Selasa (22/11) di Hotel Putra Mulia, terbentuk Kompas TB Sumut dengan Ketua Tangkas Silalahi, Sekretaris Ilham dan Bendahara Bintang dan beberapa anggota lembaga.

Tujuannya, kata Direktur Yapemmas, Sri Amanah, lembaga ini bisa membantu percepatan eliminasi TBC di daerah ini. Tidak saja memberikan edukasi dan sosialisasi TBC di masyarakat, Kompas TB juga diharapkan mampu memberikan solusi termasuk menggalang dukungan materil membantu pasien TBC yang ekonomi lemah. Apalagi pasien tersebut dipecat dari pekerjaannya karena menderita TBC.

(NAI/JG)

Baca Juga

Rekomendasi