Prof Ridha Paparkan GGSI di Sekolah Al Ittihadiyah, Awas Gadget Bisa Menembus Ruang dan Waktu!

Prof Ridha Paparkan GGSI di Sekolah Al Ittihadiyah, Awas Gadget Bisa Menembus Ruang dan Waktu!
Prof Ridha Paparkan GGSI di Sekolah Al Ittihadiyah, Awas Gadget Bisa Menembus Ruang dan Waktu! (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Sekolah Al Ittihadiyah yang berlokasi di Jalan Pangkalan Mashyur Medan menjadi target sasaran Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI) kali ini.

Sang inisiator, Prof. Dr. dr. Ridha Sp BS (K) kembali mengungkapkan akan bahaya penggunaan gaget yang tidak tepat di hadapan ratusan peserta didik jenjang menengah pertama dan menegah atas pada Selasa (19/12).

Dirinya mengungkap bahaya gadget jika digunakan tidak tepat baik secara fisik maupun konten yang ditonton. Secara fisik, dokter spesialis bedah syaraf itu memaparkan dua penyebab yakni posisi dan durasi. Di mana posisi yang salah dan mengakibatkan tekukan pada leher akan berdampak terhadap gangguan pada tulang belakang leher atau saraf kejepit.

"Gejalanya yang dirasakan adalah sering merasa sakit kepala, leher pegal, pundak berat, kesemutan pada tangn dan kaki serta perasaan tak segar saat bangun tidur," ucapnya.

Hal itu sambung Prof Ridha biasa dirasakan oleh orang tua usia 50 tahun ke atas. Tapi, saat ini kondisi itu banyak dialami kawula muda baik tingkat SD, SMP bahkan SMA.

"Durasi juga faktor penyebab lainnya. Berdasarkan penelitian, Indonesia adalah negara teratas penggunaan gadget terlama di angka enam jam lebih per harinya. Padahal peneliti Australia menyebutkan jika penggunaan maksimal gadget itu adalah dua jam per hari," ujar pria yang juga menjabat sebagai guru besar fakultas Kedokteran USU itu.

Jika itu gejala saraf kejepit itu dibiarkan. Dan kita terus menggunakan gadget berjam-jam lamanya dalam hitungan bulan bahkan hingga bertahun lamanya, maka yang terjadi adalah kematian saraf.

"Kondisi ini fatal. Kita akan mengalami kelumpuhan pada tangan dan kaki, buang air kecil loss atau tidak terasa dan seksualitas kaum pria tidak berfungsi. Yang ada generasi kita ke depan yang hadir adalah generasi cacat," ucapnya.

Kita dalam situasi bonus demografi di mana 70 persen dari jumlah penduduk kita berusia produktif. Jika itu tidak dimanfaatkan sebut Prof Ridha maka Indonesia akan tertinggal dari negara lainnya.

"Adinda sekalian adalah pewaris negeri. Siapkan diri anda menjadi berkualitas yakni sehat, pintar dan berahlak yang baik agar anda bisa bersaing. Jika adinda berkualitas maka adinda juga berpeluang bekerja di luar negeri. Ingat, persaingan ke depan bukan hanya sesama anak negeri, di era global persaingan dengan luar negeri bakal terjadi, bahkan persaingan dengan mesin juga akan kita alami," ungkapnya.

Bahaya lain yang sedang banyak terjadi adalah judi online. Adinda sekalian sambung Prof Ridha akan mengalami kecanduan atau adiksi. Ini akan berujung kriminal atau mengambil langkah cepat dengan melakukan pinjaman online.

"Ketika tidak mampu bayar kita akan frustasi dan ujung-ujungnya melakukan aksi nekat bunuh diri. Problem gadget sekarang semakin kompleks. Buat para guru selaku orang tua, awasi ananda kita dalam penggunaan gadget agar mereka tidak terjerumus. Karena di manapun ananda kita, bahkan saat di ruang terdalam di kediaman kita sekalipun, gadget bisa menembus ruang dan waktu," ucapnya mengakhiri.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala MTs Al Ittihadiyah, Pamonoran Siregar, M.Pdi menyebutkan sosialisasi gadget sehat yang digerakkan Prof Ridha adalah program dan pembelajaran yang luar biasa.

"Gadget tidak mungkin kita hindari di zaman sekaranag ini. Bagaimana menyikapinya dan bisa bermanfaat buat kita. Inilah kenapa kita datangkan Prof Ridha agar bisa memberikan edukasi. Semoga kegiatan ini bermanfaat buat ananda semua," ujarnya.

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi