Tangkahan Tertimbun Pasir, Nelayan Bogak Besar Menanti Janji Alat Berat Bupati Sergai (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Teluk Mengkudu – Puluhan nelayan tradisional di Desa Bogak Besar, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), kini dilingkupi rasa cemas.
Tangkahan atau kuala yang selama ini menjadi tempat bersandar perahu mereka kini tertimbun pasir akibat terjangan ombak besar, memaksa mereka bertaruh nyawa dan harta setiap kali pulang melaut.
Kondisi muara di Dusun V yang kini tertutup total membuat para nelayan terpaksa menambatkan perahu di bibir pantai yang terbuka. Risiko perahu pecah atau hancur dihantam gelombang sewaktu-waktu pun menjadi pemandangan sehari-hari.
Sekretaris Kelompok Nelayan Sepakat Jaya Desa Bogak Besar, Misno, menjelaskan bahwa perubahan drastis ini terjadi sejak November 2025 lalu. Sebelumnya, jalur keluar masuk perahu masih berada dekat dengan pemukiman dan pondok nelayan, sehingga aktivitas bongkar muat hasil laut berjalan aman.
"Sekarang kuala sudah tertutup pasir akibat bencana alam. Kami sudah memohon agar diturunkan alat berat untuk pengerukan, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Kami sangat mengharapkan kehadiran alat berat secepatnya agar tidak kesulitan lagi," ujar Misno, Kamis (12/2/2026).
Menurut Misno, ada sekitar 75 perahu nelayan yang kini keselamatannya terancam. Tanpa kuala yang terlindungi, perahu-perahu tersebut rawan bocor dan rusak akibat terus-menerus dipukul ombak saat ditambatkan di pantai terbuka.
Hal senada diungkapkan oleh Nopember Manik, perwakilan nelayan lainnya. Ia mengeluhkan bahwa urusan administrasi yang diminta pihak terkait sudah dipenuhi, namun solusi yang dijanjikan belum kunjung tiba.
"Kami sudah mengurus surat-surat yang diminta pihak PUPR, tapi katanya ada kendala karena alat berat sedang rusak. Kondisi ini sangat mempengaruhi pendapatan kami," keluh Nopember.
Akibat tertutupnya kuala, nelayan kini bergantung sepenuhnya pada pasang surut air laut. Jika sebelumnya mereka bisa melaut sejak pukul 06.00 WIB, kini mereka harus menunggu air pasang hanya untuk sekadar menarik perahu ke tengah. Sebaliknya, saat pulang, mereka harus bekerja ekstra keras menyeret perahu ke daratan agar tidak hancur dihantam ombak pantai.
Mewakili puluhan rekan sejawatnya, Nopember menyampaikan pesan langsung kepada Bupati Sergai, H. Darma Wijaya. Mereka berharap sang Bupati bersedia turun tangan memberikan atensi.
"Kami mohon kepada Bapak Bupati Sergai agar mendukung kami nelayan kecil. Tolong bantu perbaiki kuala tersebut demi keselamatan dan keberlangsungan mata pencaharian kami sehari-hari," harapnya.
Hingga berita ini diturunkan, para nelayan masih harus berjaga-jaga di pinggir pantai, terutama saat cuaca buruk, demi memastikan perahu yang menjadi satu-satunya aset pencaharian mereka tidak hilang ditelan ombak.
(BAH/RZD)