Harga Plastik Makin Mahal, Pupuk Naik Rp100 Ribu per Minggu (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Sidikalang - Harga bahan kebutuhan pertanian atau sarana produksi (saprodi) terus menanjak di Kabupaten Dairi.
Manajemen UD Tunas Baru toko perlengkapan pertanian, Septian Panggabean di Sidikalang, Selasa (21/4) mengatakan, plastik dan pupuk non subsidi adalah barang paling menanjak.
“Khusus plastik dan pupuk non subsidi, naik terus. Mahal kali,” kata Septian.
Dia mecontohkan, mulsa plastik melambung dari harga Rp240 ribu menjadi Rp330 ribu per gulungan. Polibag melambung dari Rp25 ribu per kilogram ke angka Rp30 ribu dan plastik untuk pembibitan naik dari Rp13 ribu menjadi Rp19 ribu per meter.
“Perubahan harga terasa sejak awal Maret lalu,” kata Septian.
Untuk pupuk, kata Septian, kenaikan cukup kencang. KCl dibanderol dari Rp445 ribu per zak (50 kilogram) dari sebelumnya Rp391 ribu. TSP saat ini berada di angka Rp770 ribu dari sebelumnya Rp690 ribu per zak.
“Pupuk majemuk sejenis NPK, naik Rp50 sampai Rp100 ribu per minggu. Sebentar-sebentar naik,” kata Septian.
Menurutnya, problema tersebut merupakan dampak perang yang mengganggu perekonomian global. Prokduk itu merupakan barang impor.
Di beberapa toko grosir, harga kantongan plastik kresek juga melejit. Warna hitam kategori tipis ditawarkan Rp23 ribu per kilogram sedang warna biru, merah, hijau Rp40 ribu. Kualitas HD, lebih mahal lagi.
Kepala Desa Parbuluan 1 Kecamatan Parbuluan, Parihotan Sinaga menyebut, 100 persen warga di wilayahnya menggantungkan nafkah dari pertanian.
Pun begitu, melihat lonjakan harga, cerita kesejahteraan rakyat kian jauh.
“Kalau seperti ini mahalnya saprodi, prospek pertanian mengarah ke buruk,” kata Parihotan.
Harga mulsa plastik, pupuk dan pestisida selangit, sedang harga jual fluktuatif dann cenderung lesu.
Dijelaskan, harga KCl di daerahnya Rp650 ribu per kemasan 50 kilogram. Sedang SP26 kemasan 25 kilogram seharga Rp350 ribu. Mulsa naik dari Rp250 ribu menjadi Rp275 ribu per gulungan.
“Semua kebutuhan pertanian menanjak tajam. Harga hasil panen, murah. Jelas tidak sebanding,” kata Parihotan.
Diutarakan, harga cabe merah di tingkat petani saat ini Rp18 ribu per kilogram. Kalau disesuaikan dengan lonjakan harga saprodi, cabe merah minimal dijual Rp25 ribu per kilogram.
“Kalau cabe merah Rp25 ribu dan tomat Rp6000 per kilogram itu masih impas. Belum banyak untung buat petani,” kata Parihotan.
(SSR/RZD)