Dewi Puspa, Guru di UPT SD Negeri 31 Tanah Tinggi, Kabupaten Batu Bara, abadikan momen bersama Kepala Sekolah Ardiles Lubis, dalam acara pemanfaatan media pembelajaran sederhana untuk mendorong numerasi siswa berbasis lingkungan yang bahagia. (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Batu Bara - Suasana belajar di UPT SD Negeri 31 Tanah Tinggi, Kabupaten Batu Bara, tak lagi berjalan datar. Di tangan Dewi Puspa, papan tulis bukan lagi satu-satunya pusat perhatian. Ada warna, ada gerak, ada tawa kecil yang mengiringi proses memahami angka dan kata.
Perempuan kelahiran Tanah Tinggi, 19 Oktober 1999 itu bukan hanya menjalankan peran sebagai guru. Ia sedang menata ulang cara belajar murid-muridnya, perlahan, namun terasa nyata dampaknya. Pendampingan Fasilitator Daerah dari Tanoto Foundation, di bawah binaan Tim Lentera yang diketuai Arief Mahdian, menjadi titik penting perubahan tersebut.
Awalnya, Dewi mengakui pembelajaran berjalan dalam pola yang umum: guru menjelaskan, siswa mendengar. Namun pola itu menyisakan kegelisahan. Di tengah derasnya arus informasi, pendekatan konvensional membuat sebagian siswa tertinggal dalam keterlibatan. “Siswa cenderung pasif, padahal mereka punya potensi untuk lebih aktif,” ujarnya.
Perubahan mulai terasa ketika ia mengenal penggunaan media pembelajaran yang lebih variatif. Di kelasnya, angka tak lagi sekadar simbol di buku tulis. Ia menjelma menjadi pengalaman konkret lewat media yang ia ciptakan sendiri: “TOBICA”, singkatan dari toko bilangan cacah.
Media ini dirancang menyerupai toko kecil yang menjual buah dan sayur dari kertas. Di balik setiap gambar, terselip bilangan cacah yang harus dikenali dan diolah oleh siswa. Sederhana, namun efektif. Anak-anak tak hanya belajar berhitung, tetapi juga berinteraksi, memilih, dan memecahkan masalah secara langsung.
“Ketika menggunakan media, siswa jadi lebih antusias. Mereka ingin terlibat, ingin mencoba. Bahkan yang biasanya pasif mulai ikut bergerak,” kata Dewi.
Perubahan itu tak hanya terlihat dari suasana kelas, tetapi juga dari hasil belajar. Pemahaman siswa meningkat, terutama dalam materi yang sebelumnya dianggap sulit seperti matematika dasar. Lembar kerja peserta didik yang dulu sering dikerjakan dengan ragu, kini diselesaikan dengan semangat.
Salah satu momen yang membekas bagi Dewi adalah saat melihat Aliqha Iftha Chairani, siswi yang perkembangannya paling menyentuh hatinya, mulai menunjukkan kepercayaan diri dalam belajar. Meski tidak semua perubahan datang secara instan, kemajuan kecil itu menjadi penguat bagi Dewi untuk terus melangkah.
Namun perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Ia sempat menghadapi situasi ketika ada siswa yang belum lancar membaca, sehingga kesulitan mengikuti pembelajaran berbasis media. Dewi memilih tidak berhenti. Ia memberikan les tambahan, sekaligus terus mencari cara agar metode yang ia gunakan tetap inklusif.
Pendampingan dari Fasda juga tak hanya mengubah metode mengajar, tetapi juga membentuk kepercayaan diri Dewi sebagai pendidik. Ia yang mengaku cenderung introvert, kini terbiasa mempresentasikan ide dan media yang ia kembangkan di depan forum.
“Dulu saya kurang percaya diri. Tapi saat pelatihan, kami diminta mempresentasikan media. Dari situ saya belajar menyampaikan pendapat,” ungkapnya.
Dampak perubahan itu perlahan menular. Rekan sejawatnya, Juningsih, mulai terinspirasi untuk menerapkan metode serupa di kelas. Bagi Dewi, ini menjadi indikator bahwa inovasi kecil bisa berkembang menjadi gerakan bersama.
Di tengah keterbatasan sarana sekolah, Dewi justru menemukan ruang kreativitas. Ia memanfaatkan referensi dari media sosial seperti TikTok, YouTube, hingga Canva untuk mengembangkan ide alat peraga. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Ia juga berupaya menjaga relevansi pembelajaran dengan kehidupan siswa. Permainan tradisional seperti engklek, congklak, hingga egrang dihidupkan kembali dalam materi muatan lokal. Nilai budaya diperkenalkan bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai pengalaman yang dekat dengan keseharian anak.
Bagi Dewi, perubahan dalam pendidikan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Ia bisa lahir dari kelas kecil, dari ide sederhana, dan dari keberanian seorang guru untuk mencoba cara baru.
Kini, setelah merasakan dampak nyata dari pendampingan, Dewi menatap ke depan dengan satu komitmen: menjaga api kreativitas tetap menyala. Ia ingin terus mengembangkan media pembelajaran, tidak hanya untuk matematika, tetapi juga untuk berbagai mata pelajaran lainnya.
Di ruang kelas itu, pelan-pelan, cara belajar sedang berubah. Dan di balik perubahan itu, ada seorang guru muda yang memilih untuk tidak berhenti belajar.
(DEL)