Analisadaily.com, Batu Bara - Perubahan cara mengajar di ruang-ruang kelas Kabupaten Batu Bara mulai terasa nyata. Program pendampingan Fasilitator Daerah (Fasda) dari Tanoto Foundation yang dijalankan bersama tim Lentera di bawah koordinasi Arief Mahdian, mendorong guru bertransformasi dari metode konvensional menuju pembelajaran yang lebih hidup, kontekstual, dan berpusat pada siswa.
Salah satu potret perubahan itu terlihat di UPT SD Negeri 05 Tanjung Kasau. Dewi Artika, guru kelas di sekolah tersebut, merasakan langsung dampak pendampingan yang tidak hanya menyentuh teknik mengajar, tetapi juga pola pikir sebagai pendidik.
“Perubahan terbesarnya ada pada pola pikir. Dulu saya lebih banyak berceramah, siswa hanya mendengar. Sekarang siswa harus aktif terlibat. Pembelajaran jadi lebih menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya, Kamis (16/4).
Pendampingan Fasda, menurut Dewi, tidak sekadar memberikan teori. Guru diajak praktik langsung, mendapatkan umpan balik, hingga didorong untuk berani bereksperimen di kelas. Dari situ, lahir berbagai inovasi sederhana namun efektif.
Ia, misalnya, memanfaatkan bahan-bahan di sekitar sebagai media belajar. Stik es krim digunakan untuk operasi hitung, botol bekas untuk mengenalkan konsep volume, hingga kartu soal berwarna yang menarik perhatian siswa. Bahkan, Dewi menciptakan permainan “Pukul Telur” untuk pembelajaran matematika, yang membuat siswa belajar sambil bermain.
“Anak-anak jadi tidak merasa dipaksa belajar. Mereka seperti sedang bermain, tapi sebenarnya sedang memahami konsep,” katanya.
Dampak paling terasa bukan hanya pada nilai akademik, tetapi juga perubahan sikap siswa. Jika sebelumnya pelajaran matematika kerap dihindari, kini justru dinanti.
“Sekarang mereka antusias, bahkan bertanya kapan pelajaran berikutnya. Nilai rata-rata meningkat, dan jumlah siswa yang belum tuntas berkurang drastis,” ungkap Dewi.
Perubahan itu juga menyentuh sisi personal siswa. Dewi menceritakan seorang siswi yang dulunya pendiam dan selalu tertinggal, kini mulai berani tampil dan menunjukkan peningkatan signifikan.
“Melihat perkembangan seperti itu, rasa lelah langsung terbayar,” tuturnya.
Pendampingan Fasda juga berdampak pada budaya kolaborasi antar guru. Rekan sejawat mulai tertarik, berdiskusi, hingga saling mengobservasi kelas untuk belajar bersama.
“Sekarang kami tidak jalan sendiri-sendiri. Ada semangat untuk maju bersama,” kata Dewi.
Menurutnya, salah satu kekuatan program ini adalah pendekatan yang humanis. Fasda hadir bukan sebagai penilai, melainkan pendamping yang memberikan ruang bagi guru untuk berkembang.
“Mereka tidak hanya mengajar, tapi mendampingi dengan sabar dan memberi kepercayaan bahwa kami bisa berubah,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan sarana, Dewi justru melihatnya sebagai tantangan untuk berinovasi.
“Keterbatasan bukan alasan. Dengan kreativitas, apa pun bisa jadi media belajar. Guru adalah kunci utama,” tegasnya.
Ia pun mulai mengintegrasikan konteks lokal dalam pembelajaran, seperti contoh soal yang berkaitan dengan hasil bumi atau kegiatan sehari-hari masyarakat setempat. Hal ini membuat materi terasa lebih relevan dan mudah dipahami siswa.
Bagi Dewi, titik balik perubahan terjadi saat praktik mengajar yang diamati langsung oleh Fasda. Dari situ ia menyadari bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi seni yang perlu dinikmati dan terus diasah.
Kini, semangat perubahan itu terus dijaga. Ia berkomitmen untuk terus belajar, berbagi dengan rekan guru, dan menjadikan inovasi sebagai budaya di kelas.
Program pendampingan yang digagas Tanoto Foundation bersama tim Lentera ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar. Perubahan bisa berawal dari ruang kelas sederhana, ketika guru didampingi untuk berani mencoba, merefleksi, dan terus berkembang.
Di Batu Bara, perubahan itu sudah mulai terlihat dari kelas yang dulu sunyi menjadi ruang belajar yang penuh tawa dan rasa ingin tahu.











