Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Joshua Asley. (Analisadaily/Irin Juwita)
Analisadaily.com, Medan - Perubahan cuaca yang tidak menentu belakangan ini dinilai dapat meningkatkan risiko anak terserang berbagai penyakit. Namun, dokter spesialis gizi klinik dr. Joshua Asley, Sp.GK, menegaskan bahwa cuaca bukanlah penyebab langsung anak jatuh sakit, melainkan salah satu faktor yang mempermudah penyebaran virus dan bakteri.
Menurut dr. Joshua, selain faktor lingkungan, kondisi tubuh anak juga dipengaruhi pola makan, pola asuh, kualitas istirahat, hingga kebersihan. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi kunci utama agar daya tahan tubuh tetap optimal, terutama saat musim pancaroba.
Ia menjelaskan, penyakit yang kerap menyerang anak pada musim pancaroba antara lain infeksi saluran pernapasan seperti radang tenggorokan dan flu, demam berdarah akibat meningkatnya populasi nyamuk saat musim hujan, hingga diare akibat konsumsi makanan yang kurang higienis.
Untuk meningkatkan sistem imun, dr. Joshua menyarankan orang tua memberikan makanan bergizi seimbang yang kaya protein, buah, dan sayuran. Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi lemak, makanan olahan, serta makanan dan minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat memicu peradangan dalam tubuh.
"Tidak ada satu makanan yang bisa langsung membuat anak kebal penyakit. Yang paling penting adalah pola makan bergizi seimbang setiap hari, mulai dari sumber karbohidrat, protein hewani maupun nabati, serta vitamin dan mineral dari buah dan sayur," katanya.
Ia menambahkan, buah sebaiknya dikonsumsi dalam bentuk utuh atau potong dibandingkan dijadikan jus. Orang tua juga tidak perlu terpaku pada satu jenis buah tertentu karena Indonesia memiliki beragam pilihan buah lokal yang kaya vitamin, seperti pepaya, jeruk, pisang, jambu, dan semangka.
Meski suplemen seperti vitamin A, vitamin C, zat besi, zinc, maupun kalsium terkadang diperlukan, dr. Josua mengingatkan bahwa suplemen bukan pengganti pola makan sehat. Pemberiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan, terutama jika anak terbukti mengalami kekurangan zat gizi atau menunjukkan gejala defisiensi vitamin dan mineral.
Bagi anak yang mengalami picky eater, dr. Joshua mengimbau orang tua tidak memaksa anak makan. Sebaliknya, orang tua perlu terus mengenalkan variasi makanan sehat secara bertahap sambil tetap menyajikan makanan yang disukai anak.
"Jangan langsung menyalahkan anak atau orang tua. Yang penting adalah terus memperkenalkan makanan baru dengan cara yang menyenangkan agar anak terbiasa mengonsumsi makanan bergizi," jelasnya.
Selain asupan gizi, ia menekankan pentingnya aktivitas fisik, tidur yang cukup, paparan sinar matahari, serta membatasi penggunaan gawai hingga larut malam. Menurutnya, seluruh faktor tersebut saling mendukung dalam menjaga sistem kekebalan tubuh anak.
Orang tua juga diminta mewaspadai tanda-tanda penurunan daya tahan tubuh, seperti anak lebih sering sakit dibandingkan teman seusianya, nafsu makan menurun, berat badan turun, tubuh mudah lemas, hingga luka yang sulit sembuh. Jika gejala tersebut muncul, anak sebaiknya segera diperiksakan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui.
Dr. Joshua menilai masih banyak orang tua yang keliru dalam menjaga pola makan anak. Sebagian terlalu membatasi sehingga anak takut mencoba makanan, sementara sebagian lainnya justru membebaskan anak mengonsumsi apa saja dengan alasan dapat ditutupi melalui pemberian vitamin.
"Vitamin bukan solusi untuk pola makan yang buruk. Orang tua tetap harus mengajarkan anak memilih makanan yang sehat dan memberikan suplemen hanya jika memang dibutuhkan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar konsumsi makanan dan minuman manis dibatasi. Menurutnya, makanan manis boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak boleh menjadi kebiasaan karena berisiko menyebabkan obesitas dan kerusakan gigi.
Mengacu pada anjuran Kementerian Kesehatan, konsumsi gula harian sebaiknya tidak berlebihan. "Yang penting bukan hanya anak suka makanan manis, tetapi kebutuhan protein, vitamin, mineral, serta zat gizi lainnya tetap harus terpenuhi," ujarnya.
Menutup keterangannya, dr. Josua mengingatkan bahwa menjaga daya tahan tubuh anak merupakan proses jangka panjang yang harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat musim pancaroba.
"Menjaga imun bukan pekerjaan semalam. Biasakan pola hidup sehat setiap hari, mulai dari makan bergizi seimbang, cukup tidur, aktif bergerak, mendapat sinar matahari, dan bila ada indikasi, lengkapi dengan suplemen. Kebiasaan baik dari orang tua akan menjadi contoh bagi anak untuk menjaga kesehatannya hingga dewasa," pungkasnya. (WITA)











