Film Biopik Pahlawan Nasional Djamin Ginting berjudul Djamin Setia Selamanya tayang 1 Oktober 2026. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Jakarta - Kisah perjuangan Pahlawan Nasional Djamin (Jamin) Ginting akan segera hadir di layar lebar melalui film biopik berjudul Djamin Setia Selamanya. Film produksi Erjege Pictures itu dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
Film ini mengisahkan perjalanan hidup Djamin Ginting, putra Tanah Karo yang lahir di Desa Suka pada 12 Januari 1921. Perjalanan hidupnya digambarkan sejak menempuh pendidikan di Handelsschool pada masa kolonial Belanda hingga bergabung sebagai perwira Gyugun saat pendudukan Jepang.
Seiring perjalanan waktu, Djamin menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia tidak akan lahir dari belas kasihan penjajah. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kabanjahe dan memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan di berbagai wilayah, mulai dari Medan Area, Tanah Karo, Langkat hingga Aceh.
Tak hanya mengangkat kisah perjuangan di medan perang, film ini juga menampilkan sisi personal Djamin melalui hubungannya dengan Likas Tarigan, perempuan yang menjadi sumber semangat dalam perjuangannya. Selain itu, persahabatannya dengan Kadir Saragih, Selamat Ginting, dan Jacob Waas turut menjadi bagian penting dalam menggambarkan nilai loyalitas, pengorbanan, dan persaudaraan di tengah situasi perang.
Peran Djamin Ginting dipercayakan kepada penyanyi sekaligus aktor muda Rafi Sudirman. Film ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan kariernya karena untuk pertama kalinya ia memerankan tokoh pejuang nasional yang memimpin pasukan gerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selain Rafi Sudirman, film ini juga dibintangi Claresta Taufan sebagai Likas Tarigan, Chicco Kurniawan sebagai Kadir Saragih, Jourdy Pranata sebagai Selamat Ginting, Marcell Darwin sebagai Jacob Waas, Unique Priscilla sebagai Tidang Tarigan, Teddy Syach sebagai Lantak Ginting, Arla Ailani sebagai Sarita, serta Sulthan Hamonangan sebagai Ucok.
Kolaborasi para aktor lintas generasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan emosi yang kuat sekaligus memperlihatkan sisi manusiawi para pejuang yang selama ini lebih banyak dikenal melalui catatan sejarah.
Riahna Djamin Ginting, putri almarhum Djamin Ginting yang juga bertindak sebagai Executive Producer, mengatakan film tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada sang ayah sekaligus hadiah bagi generasi muda Indonesia.
"Bagi saya, Djamin Setia Selamanya bukan sekadar sebuah film, melainkan penghormatan untuk ayah saya yang telah mengabdikan hidupnya bagi Indonesia. Saya berharap generasi Z dan milenial dapat melihat bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian anak muda yang peduli, berani bersuara, dan berani mengambil tindakan. Semoga kisah Djamin Ginting mampu menginspirasi lahirnya semangat yang sama di generasi hari ini," ujar Riahna.
Djamin Ginting dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2014 atas jasa dan pengabdiannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namanya juga diabadikan sebagai salah satu jalan arteri terpanjang di Sumatera Utara yang menghubungkan Kota Medan dengan dataran tinggi Tanah Karo.
Melalui film ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal nama Djamin Ginting sebagai nama jalan, tetapi juga memahami jejak perjuangan dan pengorbanannya bagi bangsa.
Sutradara Rako Prijanto mengatakan ketertarikannya mengangkat kisah Djamin Ginting karena sosok tersebut membuktikan bahwa seorang anak muda dengan keberanian dan visi mampu mengubah sejarah.
"Saya berharap Djamin Setia Selamanya tidak hanya menjadi tontonan sejarah, tetapi juga mampu menginspirasi generasi muda untuk berani mengambil keputusan dan menjadi bagian dari perubahan," kata Rako.
Film Djamin Setia Selamanya dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026, menghadirkan kisah perjuangan yang tidak hanya menghidupkan kembali sejarah, tetapi juga mengingatkan bahwa keberanian satu orang dapat mengubah perjalanan sebuah bangsa. (REL/WITA)











