Kades Simungun Berdayakan KDMP Tampung Durian Petani, Dijual Produk Olahan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Sidikalang - Kepala Desa Simungun Kecamatan Siempat Nempu Hilir Kabupaten Dairi, Tupang Sianturi mengatakan, akan mengarahkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk menampung durian hasil panen masyarakat. Koperasi perlu membuat terobosan selain fungsi umum.
“Kita akan berdayakan KDMP menampung durian hasil panen petani lokal,” kata Tupang di Sidikalang, Rabu (5/8).
Menurutnya, hal itu salah satu langkah strategis demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peluang terbuka lebar mengingat koperasi didukung Agrinas dari sisi permodalan. Selain itu, kehadiran truk sebagai fasilitas koperasi kian membuka ruang.
“Kita akan ajukan ke Agrinas untuk memperoleh suntikan modal menampung durian,” kata Tupang.
Diterangkan, selama ini posisi tawar petani sangat lemah terhadap tauke. Retak sedikit tidak laku. Busuk sedikit, tidak mau.
“Retak sedikit, atau busuk sedikit, tauke tak mau angkut,” ujar Tupang.
Selanjutnya, bila buah berukuran super atau ekstra super, hitungannya tetap 1 angkat (satuan di kampung). Bila bentuknya kecil, 3 buah dihitung 1 angkat.
Sebaliknya, di pasaran, harga buah super tentu melejit dibanding ukuran biasa. Padahal, beli dari petani tetap angka normal. Ini jelas merugikan petani. Kondisi sedemikian telah berlangsung puluhan tahun.
“Di tingkat petani, buah ukuran super tetap dihitung 1 angkat. Tetapi, saat dijajakan ke konsumen, naik beberapa kali lipat. Dipamer lagi,” kata Tupang.
Tupang menyebut, produk dari petani akan dibeli per kilo termasuk kulit. Nantinya dikupas di pelataran koperasi. Kemudian, daging buah dipacking siap saji.
Model ini sudah banyak diterapkan memakai freezer (pendingin). Harga freezer Rp20 juta berkapasitas 1 ton. Makanan tetap segar selama 2 tahun asalkan proses pengolahan higienis.
Diungkapan, Simungun adalah salah satu desa sentra durian di Kabupaten Dairi. Ketika panen raya, setidaknya 300 mobil pik up diangkut setiap hari ke Medan dan kota lainnya.
“Punya 20 batang saja, masyarakat bisa mengantongi uang puluhan juta. Ngak terhitung berapa banyak populasi buah istimewa itu di kampung,” kata Tupang.
(SSR/RZD)