Oleh: Arief Rahman Nur Fadhilah
Analisadaily.com, Medan - Seorang anak kelas satu SD baru beberapa minggu masuk sekolah. Ia dihadapkan pada deretan angka yang harus dihafalkan. Guru menunjuk satu per satu. Anak itu menunduk, menghitung dalam hati, lalu melihat teman di sebelahnya yang sudah lebih dulu mengangkat tangan.
Ketika gilirannya tiba, ia ragu, salah menjawab, teman-temannya tertawa kecil. Pelajaran terus berjalan. Guru melanjutkan ke soal berikutnya.
Tetapi bagi seorang anak, pengalaman seperti itu bisa sangat membekas. Perlahan, muncul keyakinan: “Aku memang tidak pintar matematika.”
Kita terlalu mudah menerima hal itu sebagai fakta. Anak yang lambat berhitung dianggap kurang tekun. Anak yang berkali-kali salah dianggap kurang teliti. Anak yang enggan mencoba dianggap kurang percaya diri.
Padahal, sebelum menyimpulkan mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: sudahkah kita memberinya pengalaman belajar yang membuat matematika masuk akal baginya?
Matematika Tidak Dimulai dari Angka
Selama ini, matematika sering diperkenalkan kepada anak melalui angka, simbol, aturan, dan hafalan. Tidak ada yang salah dengan angka atau hafalan. Masalah muncul ketika simbol dan prosedur menjadi satu-satunya pintu masuk untuk memahami matematika.
Padahal, anak sudah berjumpa dengan matematika jauh sebelum sekolah. Saat berbagi makanan dengan saudaranya, saat menghitung kelereng bersama temannya, saat menebak berapa langkah dari pintu ke halaman.
Dalam pengalaman sederhana itu, anak mulai berhadapan dengan jumlah, ukuran, pola, dan perbandingan. Angka kemudian memberi bahasa dan struktur untuk memahami pengalaman tersebut.
Karena itu, belajar matematika seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengerjakan soal. Anak juga perlu memahami untuk apa pengetahuan itu digunakan.
Di sinilah perbedaan antara mengerjakan matematika dan menggunakan matematika menjadi penting. Tujuan akhirnya bukan agar anak sekadar mampu menghasilkan jawaban yang benar, tetapi agar dapat menggunakan pengetahuan matematikanya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Anak Terlihat Bisa, tetapi Belum Benar-benar Paham
Praktik pembelajaran kita masih didominasi pola guru menjelaskan, memberikan contoh, lalu murid mengerjakan soal yang serupa.
Cara ini tentu bukan sesuatu yang selalu salah. Namun, masalah muncul ketika kemampuan sebatas pada meniru contoh.
Anak dapat mengerjakan soal karena bentuknya familiar. Tetapi ketika angka dan konteksnya berubah, ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Pengetahuan yang berhasil digunakan dalam satu situasi belum tentu dapat diterapkan pada situasi yang berbeda.
Padahal, justru kemampuan menggunakan pengetahuan dalam konteks baru itulah yang semakin penting dalam kehidupan nyata.
Karena itu, numerasi perlu dibangun melalui kesempatan untuk memaknai apa yang sedang mereka hitung.
Jangan Buru-buru Menyalahkan Daya Juang Anak
Ketika anak mengalami kesulitan, kita terlalu cepat meminta mereka lebih rajin dan pantang menyerah. Padahal, sebelum menuntut anak berusaha lebih keras, kita perlu memastikan bahwa cara belajarnya memang memberi kesempatan untuk memahami.
Anak yang terus mengalami kegagalan membutuhkan kesempatan untuk mengalami keberhasilan. Dan itu tidak selalu membuat soal menjadi lebih mudah. Kadang, yang dibutuhkan adalah desain pembelajaran yang
tepat.
Praktik semacam itu sebenarnya sudah muncul dalam berbagai bentuk di sekolah dan komunitas. Di Batu Bara, misalnya, guru menggunakan miniatur “Warung Kejujuran” untuk belajar berhitung melalui simulasi berbelanja.
Di Balikpapan, model “Halte Pintar” mengajak murid bermain dengan simulasi jual-beli untuk belajar sesuai kemampuan mereka.
Di Semarang, murid menjelajahi situs bersejarah dan menghitung persoalan nyata di lapangan, sebuah pendekatan yang terbukti meningkatkan pemahaman mereka dari 20 persen menjadi 41,4 persen.
Ketiga praktik tersebut memiliki satu benang merah sama, anak memahami matematika melalui pengalaman nyata.
Angka menjadi sesuatu yang memiliki makna dan matematika tidak lagi sekadar kumpulan simbol yang harus dihafalkan.
Dari Praktik Baik Menjadi Kebiasaan Belajar
Tantangannya sekarang adalah bagaimana praktik-praktik tersebut tidak berhenti sebagai inovasi di satu sekolah, satu kelas, atau satu daerah. Di sinilah Gerakan Numerasi Nasional memiliki peran penting. Upaya untuk memperkuat numerasi tidak cukup hanya dengan memastikan anak lebih banyak berhadapan dengan angka atau mengerjakan lebih banyak soal. Semangat numerasi perlu hadir dalam pengalaman belajar sehari-hari.
Karena itu, prinsip bermain dan bermakna seharusnya bukan menjadi tambahan setelah konsep matematika selesai diajarkan, namun menjadi pintu masuk agar lebih mudah dipahami.
Pada akhirnya, kita tidak perlu membuat matematika menjadi lebih mudah. Tetapi kita dapat mulai dari sesuatu yang lebih dekat: mengubah pengalaman seorang anak ketika pertama kali berjumpa dengan matematika.
Mungkin suatu hari, ketika guru bertanya, “Siapa yang bisa menjawab?”, anak yang dulu selalu menunduk justru mengangkat tangannya. Bukan karena matematika tiba-tiba menjadi lebih mudah. Tetapi karena perkenalannya dengan angka dimulai dengan tawa, bukan air mata. Saat itulah matematika benar-benar berhenti menakutkan.
*penulis merupakan Tanoto Fellow
(DEL)











