Chitra Faramida, Guru di UPT SD Negeri 22 Barung-Barung, Kabupaten Dahari Selebar, Batu Bara, berinovasi dengan media pembelajaran MADING. (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Batu Bara - Sebuah perubahan besar tumbuh dari tangan seorang guru di UPT SD Negeri 22 Barung-Barung, Batu Bara yang percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Dialah Chitra Faramida, guru kelahiran Dahari Selebar, 2 April 1994, yang perlahan mengubah cara siswa memandang pembelajaran literasi dan numerasi.
Perjalanan Chitra menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bermula ketika ia mendapatkan pendampingan dari Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation. Pendampingan tersebut menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya dalam mengajar.
Sebelumnya, Chitra mengaku lebih banyak menggunakan metode pembelajaran satu arah dan teoritis. Namun, setelah mendapatkan pendampingan, ia mulai menerapkan pembelajaran yang lebih interaktif dengan menyesuaikan kemampuan nyata siswa atau teaching at the right level.
“Cara mengajar saya berubah total menjadi lebih interaktif. Saya kini lebih fokus pada kemampuan siswa, menggunakan alat peraga konkret, dan membuat suasana kelas jauh lebih hidup serta menyenangkan,” ujarnya Kamis (23/7).
Perubahan itu membuat Chitra semakin yakin bahwa matematika tidak harus menjadi pelajaran yang menakutkan. Dengan kreativitas, konsep yang sulit dapat dibuat lebih mudah dipahami oleh siswa.
Salah satu inovasi yang ia ciptakan adalah media pembelajaran “MADING” atau Matematika Diagram Batang. Media tersebut dibuat dari bahan bekas yang mudah ditemukan di sekitar sekolah. Melalui alat sederhana itu, siswa dapat memahami konsep diagram batang secara lebih nyata dan menarik.
“Konsep literasi dan numerasi yang awalnya abstrak dan ditakuti siswa berubah menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami,” katanya.
Keberhasilan terbesar bagi Chitra bukan hanya terlihat dari peningkatan nilai, tetapi dari perubahan sikap siswa. Anak-anak yang sebelumnya pasif mulai berani mencoba, bertanya, dan menikmati proses belajar.
Salah satu siswa yang memberikan kesan mendalam bagi Chitra adalah Mhd. Rizqi Ardiansyah. Sebelumnya, Rizqi kurang tertarik dengan matematika dan tertinggal dibandingkan teman-temannya. Namun, melalui metode multisensori yang menyenangkan, perlahan ia mulai menyukai matematika dan lebih percaya diri mengerjakan soal.
Selain Rizqi, ada pula kisah Nazwa Suci Ramadani yang mengalami kesulitan memahami perkalian. Ia bahkan sering menangis karena frustrasi ketika harus menghafal perkalian. Melihat kondisi tersebut, Chitra mengubah pendekatan dengan menggunakan stik warna-warni sebagai media bermain sambil belajar.
Pendekatan yang sabar dan konkret membuat rasa takut Nazwa terhadap matematika perlahan hilang. Kini, Nazwa menjadi salah satu siswa yang aktif dan percaya diri saat mengikuti tantangan numerasi di kelas.
“Perubahan dari tangisan frustrasi menjadi senyum percaya diri itu adalah hadiah terbesar bagi saya sebagai seorang guru,” ungkap Chitra.
Inovasi Chitra juga mulai menginspirasi rekan sejawatnya. Ernawati, guru kelas 1 di sekolah yang sama, mulai berdiskusi dan menerapkan media pembelajaran kreatif setelah melihat perubahan suasana kelas serta antusiasme siswa.
Bagi Chitra, kreativitas guru tidak bergantung pada kelengkapan fasilitas. Justru dari keterbatasan, seorang pendidik dapat menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan anak.
“Keterbatasan fasilitas tidak boleh membatasi masa depan anak-anak. Kreativitas gurulah yang menjembatani keterbatasan tersebut,” ujarnya.
Inspirasi Chitra datang dari berbagai sumber, mulai dari lingkungan sekitar sekolah, kehidupan sehari-hari siswa, hingga referensi digital yang kemudian ia sesuaikan dengan kondisi sekolah.
Pendampingan Fasda juga mengajarkan Chitra bahwa proses mengajar harus selalu disertai refleksi. Saat melakukan simulasi mengajar bersama Fasda, ia menyadari bahwa kesalahan bukan kegagalan, melainkan ruang untuk memperbaiki diri.
Kini, Chitra berkomitmen menjaga semangat inovasi dengan terus melakukan refleksi, berbagi praktik baik melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), dan menciptakan media pembelajaran yang relevan bagi perkembangan siswa.
(DEL)