Buku dan Baksos Warnai Peringatan Ke-67 Sofyan Tan

Buku dan Baksos Warnai Peringatan Ke-67 Sofyan Tan
Buku dan Baksos Warnai Peringatan Ke-67 Sofyan Tan (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Medan — Pembagian sembako dan peluncuran buku mewarnai perayaan ulang tahun Anggota DPR RI, dr. Sofyan Tan ke-67, Jumat (25/9/2026). Rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini diawali dengan peluncuran buku berjudul Jangan Berhenti, Pak.

Buku tersebut merangkum kesaksian dan catatan perjalanan pengabdian Sofyan Tan yang ditulis oleh tim Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan.

Selain peluncuran buku, perayaan ulang tahun ini juga diisi dengan aksi sosial berupa pembagian bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Sebanyak 200 paket sembako disalurkan kepada masyarakat umum di Desa Kampung Lalang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, bersama mahasiswa Pamas dr. Sofyan Tan Universitas Prima Indonesia.

Selanjutnya, bantuan berupa 67 paket sembako juga diserahkan kepada 67 penarik becak di sekitar wilayah Medan Sunggal, bertempat di halaman Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka. Jumlah 67 paket sembako tersebut disesuaikan secara simbolis dengan usia Sofyan Tan saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) ini menyampaikan bahwa hadiah terbesar dalam hidupnya adalah keberhasilan anak-anak kurang mampu dalam mengenyam pendidikan.

"Kado yang paling manis bagi saya bukan kue atau hadiah, tetapikarya-karya manis yang ditunjukkan melalui keberhasilan anak-anak didik dan lulusan kita yang sudah dibantu," ujar Sofyan Tan.

Di usianya yang ke-67 tahun, Sofyan Tan juga menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses pendidikan. Saat ini, YPSIM menaungi tujuh lembaga pendidikan dan berencana membangun Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai lembaga pendidikan ke-8 bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Sebelumnya, Kepala Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan, Finche Kosmanto, SE, M.Psi, mengatakan buku tersebut lahir untuk merekam sisi lain Sofyan Tan yang tidak selalu terlihat di ruang publik.

Mereka menyaksikan bagaimana Sofyan hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan, menemui anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berjuang mendapatkan pendidikan, serta berusaha membuka jalan bagi mereka yang hampir kehilangan harapan.

Namun, di balik sosok yang terlihat tegar, ada manusia yang juga bisa lelah, terluka, dan resah. Dari situlah pertanyaan “Apakah saya harus berhenti?” pernah muncul. Menurut Finche, pertanyaan itu bukan tanda menyerah. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut lahir dari hati seseorang yang masih begitu peduli. Karena itu, kalimat “Jangan Berhenti, Pak. Masih banyak yang menunggu” menjadi napas utama buku tersebut.

Kalimat itu bukan berarti Sofyan Tan harus selamanya menjadi anggota DPR. Bukan pula tentang mempertahankan sebuah jabatan. Pesannya jauh lebih sederhana dan mendasar, yakni jangan pernah berhenti berbuat baik dan membuka jalan bagi mereka yang membutuhkan.

Sebab, jauh sebelum menjadi anggota DPR dan bahkan ketika suatu saat tidak lagi berada di parlemen, Sofyan Tan telah memberikan banyak hal bagi keluarga kurang mampu, terutama melalui pendidikan.

Buku tersebut dirangkum dari kesaksian orang-orang di Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan, yakni Lisnawati Ginting, Pandapotan Tamba, Maya Erlina Rangkuti, Sri Widagdo, M. Rinaldi Khair, Dini Dayana, Putri, Samuel, dan Aldi.

Mereka tidak menempatkan Sofyan Tan sebagai manusia tanpa cela. Justru buku itu memperlihatkan bahwa di balik pengabdian panjang terdapat manusia yang bisa lelah dan sesekali bertanya kepada dirinya sendiri

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi