Memerdekakan Anak melalui Ekosistem Pembelajaran yang Berkelanjutan

Memerdekakan Anak melalui Ekosistem Pembelajaran yang Berkelanjutan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karo, Leonard Bastian Girsang. (Analisadaily/istimewa)

Oleh: Leonard Bastian Girsang, S.STP., M.Si

Analisadaily.com, Karo - Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati kemerdekaannya dengan penuh rasa syukur. Namun, kemerdekaan sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan seluruh potensinya. Bagi saya, makna kemerdekaan itu dimulai dari anak-anak.

Anak yang memperoleh gizi yang baik, pengasuhan yang penuh kasih, perlindungan yang memadai, layanan kesehatan yang berkualitas, dan pendidikan yang sesuai tahap perkembangannya adalah anak yang benar-benar merdeka. Sebaliknya, ketika seorang anak kehilangan kesempatan untuk tumbuh optimal sejak usia dini, sesungguhnya kita sedang kehilangan sebagian masa depan bangsa.

Karena itu, pembangunan manusia tidak boleh dimulai ketika anak masuk sekolah dasar, tapi harus dimulai sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan. Di sinilah pentingnya pendekatan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Memerdekakan Anak Berarti Membangun Ekosistem

Selama ini, pendidikan masih sering dipahami sebagai urusan sekolah. Padahal, proses belajar anak dimulai jauh sebelum anak mengenal ruang kelas. Di rumah, anak belajar berbicara, membangun rasa percaya diri, mengenal kasih sayang, belajar berinteraksi, dan membentuk karakter.

Di Posyandu dan fasilitas kesehatan, anak memperoleh layanan kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang. Di PAUD, anak mulai mengembangkan kemampuan sosial, bahasa, motorik, serta kesiapan belajar.

Semua proses tersebut saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. Karena itu, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh guru atau sekolah, tetapi oleh kualitas seluruh ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak.

Inilah esensi PAUD HI. Pendekatan ini memandang anak secara utuh melalui integrasi layanan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan. Dengan pendekatan ini, setiap anak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal sesuai tahap usianya. Pendekatan seperti inilah yang kita perlukan apabila ingin mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

PAUD HI adalah Investasi Pembangunan Daerah

Pengalaman di Kabupaten Karo menunjukkan bahwa tantangan pembangunan manusia tidak pernah berdiri sendiri. Masih terbatasnya layanan PAUD dan daycare, prevalensi stunting yang mencapai 17,6 persen pada 2025, serta capaian numerasi Sekolah Dasar berdasarkan Rapor Pendidikan Tahun 2025 yang masih berada pada skor 50,78, menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kualitas pengasuhan, kesehatan, maupun kesiapan belajar anak.

Karena itu, penyelesaiannya pun tidak dapat dilakukan secara sektoral. Pemerintah daerah perlu membangun kolaborasi lintas perangkat daerah agar setiap kebijakan saling memperkuat. Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan sektor kesehatan, perlindungan anak, pemberdayaan masyarakat, maupun pembangunan keluarga.

Atas dasar pemikiran tersebut, Pemerintah Kabupaten Karo bersama Tanoto Foundation terus memperkuat implementasi PAUD HI sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyelenggaraan Workshop Pengasuhan Responsif dan Stimulasi Anak Usia Dini yang melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Forum ini menjadi ruang belajar bersama untuk menyamakan pemahaman bahwa investasi pada anak usia dini tidak cukup dilakukan melalui penyediaan layanan pendidikan, tetapi juga melalui penguatan kapasitas orang tua, koordinasi lintas sektor, dan penyediaan layanan yang benar-benar menjawab kebutuhan anak.

Diskusi tersebut juga menunjukkan bahwa implementasi PAUD HI masih menghadapi tantangan. Pemahaman masyarakat sering kali masih memandang PAUD hanya sebagai pendidikan prasekolah, padahal pendekatan ini jauh lebih luas. Dibutuhkan penguatan kapasitas, materi pengasuhan yang kontekstual, serta koordinasi lintas sektor yang lebih erat agar setiap anak memperoleh layanan yang utuh dan berkelanjutan.

Dari Program Menuju Kebijakan

Membangun ekosistem tentu tidak cukup melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat sesaat. Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang mampu menjamin keberlanjutan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Karo bersama Tanoto Foundation dan berbagai mitra pembangunan juga tengah menyusun rancangan Peraturan Bupati tentang Literasi dan Numerasi. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa investasi pada masa usia dini berlanjut ketika anak memasuki sekolah dasar.

Inilah yang menjadi semangat pembangunan pendidikan di Kabupaten Karo: setiap fase perkembangan anak harus saling terhubung dalam satu ekosistem yang berkesinambungan. PAUD HI bukan sekadar program pemerintah, melainkan strategi pembangunan manusia.

Momentum Hari Kemerdekaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan anak bukan hanya soal memperoleh akses pendidikan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar optimal, terlindungi, dan berkembang sesuai potensinya.

Karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk bergerak bersama, menjadikan PAUD HI sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Saya juga mengajak dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, tenaga kesehatan, guru, serta seluruh keluarga untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pengembangan anak usia dini.

Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak sekolah yang kita bangun hari ini, tetapi oleh seberapa serius kita menyiapkan anak-anak sejak awal kehidupannya.

Jika kita ingin mewariskan Indonesia yang lebih maju, lebih sehat, dan lebih berdaya saing, maka tidak ada investasi yang lebih strategis daripada memastikan setiap anak memperoleh awal kehidupan yang terbaik.
Karena pada akhirnya, makna kemerdekaan yang paling hakiki adalah ketika setiap anak Indonesia benar-benar memiliki kebebasan untuk tumbuh, belajar, dan menggapai masa depannya secara utuh.*

*Penulis merupakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karo.

Baca Juga

Rekomendasi