Dalam Kondisi Sakit, Bupati Dairi Jalankan Tugas Sebagai Irup

Dalam Kondisi Sakit, Bupati Dairi Jalankan Tugas Sebagai Irup
Bupati Dairi Vickner Sinaga bersama anggota LVRI di Stadion Utama Sidikalang, Senin (17/8). (Analisadaily/Sarifuddin Siregar)

Analisadaily.com, Sidikalang - Bupati Kabupaten Dairi, Vickner Sinaga, menjalankan tugas menjadi Inspektur Upacara (Irul) pada Peringatan Detik-Detik Proklamasi ke-81 di Stadion Utama Sidikalang, Senin (17/8). Diketahui, fisik top manajemen ini dalam kondisi sakit.

Mengenakan pakaian kebesaran warna putih, Vickner menyerahkan baki berisi bendera kepada anggota Paskibra, Griselda Mathania Tampubolon, pelajar SMAN 1 Sidikalang.

Selanjutnya dikibarkan bersama Bilyam Aritonang binaan SMAN 1 Sidikalang, Jeremia Lumban Gaol, Sevta Asniey Sinaga, siswa SMKN 1 Parbuluan bersama Paskibra.

Prasatya Yudhatama Simanjuntak asal SMAN 1 Sidikalang menjadi Komandan Pleton (Danton). Posisi komandan upacara diemban Letda Inf Salman K Rizky.

Top manajemen ini berusaha berdiri tegap saat penghormatan bendera merah putih. Suara tepuk tangan terdengar dari tribun usai pengibaran berjalan baik.

Vickner juga tetap berdiri kala anggota Komisi 3 DPR RI, Hinca Panjaitan membacakan teks proklamasi.

Pada bagian lain, ajudan tampak sigap membantunya agar bisa duduk di kursi khusus.

“Hinca menjadi pembaca teks proklamasi lantaran bertepatan kunjungan ke daerah pemilihan. Itu sudah dibicarakan dengan Ketua DPRD, Sabam Sibarani,” kata Asisten Pemerintahan, Agel Siregar.

Kapolres AKBP Otniel Siahaan dan pejabat daerah, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) bersama unsur pemuka hadir pada agenda nasional tersebut.

Tipan Padang (100) beralamat di Kuta Rih Desa Bintang Mersada mengatakan, menyaksikan kejamnya perlakuan kolonial Belanda dan Jepang kepada rakyat.

“Waktu Proklamasi Kemerdekaan, umur saya sudah 20 tahun. Saya lihat kekejian itu,” kata Tipan.

Tipan bercerita tentang pembukaan jalan ruas Sidikalang-Aceh. Kala itu, tentunya belum semulus sekarang. Gajinya sebagai pejuang sempat berhenti sehingga dia berjualan di Aceh agar kebutuhan hidup terpenuhi.

“Gaji sebagai pejuang sempat berhenti. Jadi, saya jualan di Aceh,” kata Tipan.

(SSR/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi