Analisadaily.com, Medan - Ketika produktivitas karyawan menurun, perusahaan sebaiknya tidak buru-buru menyalahkan pekerja. Bisa jadi, ada persoalan kesehatan yang selama ini tidak disadari dan mulai memengaruhi kemampuan mereka dalam bekerja.
Karena itu, mencari tahu penyebab penurunan produktivitas menjadi langkah penting. Salah satunya melalui pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan dokter spesialis kedokteran okupasi.
Hal tersebut mengemuka dalam media gathering kesehatan yang digelar Columbia Asia Hospital Medan. Forum tersebut membahas kaitan antara kondisi metabolik pekerja dan produktivitas perusahaan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keluhan kesehatan yang kerap dianggap sepele oleh pekerja. Padahal, keluhan tersebut bisa saja sudah tercermin dalam hasil pemeriksaan kesehatan rutin, jauh sebelum berkembang menjadi penyakit kronis.
Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Columbia Asia Hospital Medan, dr. Muhammad Rizqi Nasution, MKK, SpOk, menjelaskan, kedokteran okupasi memiliki keterkaitan erat dengan pekerja, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga penyusunan program kesehatan di lingkungan perusahaan.
Menurut dia, dokter okupasi dapat menilai berbagai potensi risiko di tempat kerja dan merancang program pemeriksaan kesehatan sesuai dengan jenis pekerjaan. Risiko tersebut antara lain paparan kebisingan, debu yang dapat mengganggu pernapasan, hingga faktor ergonomi.
“Misalnya, pekerja yang terlalu sering menunduk berisiko mengalami nyeri leher. Pencahayaan yang kurang baik dapat mengganggu mata. Duduk terlalu lama, lebih dari dua jam, juga dapat menyebabkan nyeri pinggang dan gangguan otot serta rangka,” jelasnya.
Jika tidak ditangani, berbagai gangguan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi produktivitas pekerja. Pencegahannya, kata Rizqi, dapat dilakukan dengan menghilangkan sumber bahaya, mengganti metode kerja yang berisiko, melakukan rekayasa teknis, hingga menyesuaikan waktu kerja.
“Setiap dua jam dapat dilakukan istirahat sejenak dengan peregangan. Perusahaan juga dapat menyesuaikan meja dan kursi serta menambahkan alat pendukung, seperti penyangga monitor, agar pekerja lebih nyaman,” ujarnya.
Rizqi menyarankan perusahaan maupun pekerja melakukan medical check-up (MCU) yang tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi juga disesuaikan dengan risiko pekerjaan. Selain itu, lingkungan kerja perlu dievaluasi secara berkala, termasuk tingkat kebisingan dan faktor lain yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Penilaian kesehatan juga diperlukan ketika pekerja kembali bekerja setelah mengalami kecelakaan kerja atau penyakit berat. Bagi pekerja, ia mengimbau agar kebugaran tubuh tetap dijaga dan pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin. Sementara perusahaan perlu menjalankan MCU secara berkala dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan dengan program kesehatan yang tepat.
“Ketika ditemukan pekerja yang mengalami gangguan kesehatan, perlu dibuat program untuk menurunkan angka kesakitan. Menjaga kesehatan akan meningkatkan pendapatan perusahaan,” katanya.
Gangguan Metabolik Bisa Diam-Diam Mengganggu Produktivitas
Penurunan produktivitas di tempat kerja memiliki banyak penyebab. Tidak semuanya dapat terlihat secara langsung.
Rasa lelah yang tidak kunjung hilang meski sudah cukup tidur, sulit berkonsentrasi saat bekerja, hingga stamina yang menurun sering dianggap sebagai dampak pekerjaan yang padat. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan kesehatan metabolik.
Tekanan darah tinggi, kadar gula darah dan kolesterol yang tidak terkendali, serta obesitas dapat berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Kondisi tersebut baru disadari ketika mulai memengaruhi kualitas hidup dan kemampuan seseorang dalam bekerja.
Kesehatan metabolik berkaitan dengan kemampuan tubuh mengelola energi, gula darah, lemak, dan tekanan darah. Gangguan pada aspek-aspek tersebut umumnya berkembang perlahan sehingga sering tidak disadari.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 2,2 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan Riskesdas 2018 yang sebesar 2,0 persen.
Kementerian Kesehatan juga menempatkan hipertensi dan diabetes sebagai perhatian khusus karena keduanya merupakan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, yang banyak menyerang kelompok usia produktif.
Rizqi mengatakan, kondisi metabolik dapat berdampak langsung pada kemampuan seseorang bekerja secara optimal.
“Kondisi seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, maupun gangguan kolesterol tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kronis, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi, daya tahan tubuh, hingga kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya secara optimal,” ujarnya.
Menurut Rizqi, perusahaan dapat mengambil langkah sederhana untuk menjaga kesehatan pekerja. Di antaranya melalui pemeriksaan kesehatan berkala yang ditindaklanjuti, edukasi pola makan, peningkatan aktivitas fisik, pengelolaan stres, serta pendampingan medis bagi pekerja yang memiliki faktor risiko.
Dia menegaskan, upaya tersebut bukan untuk memberikan label kepada karyawan, melainkan membantu mereka memahami kondisi tubuh dan memperoleh penanganan lebih awal.
“Menjaga kesehatan karyawan bukan hanya upaya melindungi individu, tetapi juga investasi yang berdampak pada keberlanjutan dan produktivitas perusahaan,” katanya.
Kesehatan Pekerja sebagai Investasi
CEO Columbia Asia Hospital Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, menilai perusahaan perlu melihat kesehatan pekerja sebagai bagian penting dari produktivitas individu dan kinerja perusahaan.
“Melalui layanan kesehatan kerja yang komprehensif—mencakup medical check-up, deteksi dini risiko metabolik, serta pendampingan kesehatan berkelanjutan—kami ingin menjadi mitra dunia usaha dalam membangun tenaga kerja yang sehat dan produktif,” ujarnya.
Columbia Asia Hospital Medan menyediakan layanan kesehatan kerja bagi perusahaan, mulai dari medical check-up karyawan, skrining risiko metabolik, konsultasi dengan dokter spesialis kedokteran okupasi, hingga tindak lanjut bagi pekerja dengan hasil pemeriksaan di luar batas normal.
Bagi pekerja, pesannya sederhana: rasa lelah yang terus berulang layak diperiksa, terutama jika disertai perubahan berat badan, mudah haus, sering buang air kecil, pusing, atau daya tahan tubuh yang menurun.
Keluhan tersebut tentu tidak dapat dijadikan dasar untuk mendiagnosis penyakit sendiri. Namun, bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan perhatian lebih.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan pekerja bukan hanya tentang mencegah penyakit. Lebih jauh, kesehatan yang terjaga membantu seseorang tetap bugar, produktif, dan mampu menjalankan pekerjaannya secara optimal. Bagi perusahaan, pekerja yang sehat juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha. (MUL)
(DEL)











