Rumah Berdinding Papan, Kuliah Anak Terancam Putus Harapan: Tangis Ayah di Medan Terganjal Desil Tinggi (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan – Nafas Muhammad Surya Simatupang tersengal. Setiap kali menyelesaikan satu kalimat, buruh harian lepas itu harus menarik nafas panjang, seolah mengumpulkan kembali tenaga yang tersisa. Namun bukan semata lelah yang membuat tubuhnya terlihat begitu berat. Ada beban lain yang jauh lebih menguras perasaan, harapan anaknya untuk bisa kuliah.
Senin (31/8) itu, Surya datang bersama putranya, Muhammad Al Fadri Simatupang, ke Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan di Medan. Mereka datang membawa satu harapan sederhana, semoga data desil keluarga mereka berubah sehingga Al Fadri memiliki kesempatan mendapatkan beasiswa KIP Kuliah.
Harapan itu kembali diuji ketika Al Fadri diminta memeriksa data terakhir. Hasilnya masih sama, Desil 6-10. Kategori yang membuat keluarganya dinilai mampu dan tidak masuk dalam kelompok penerima bantuan.
Surya terdiam. Matanya berkaca-kaca. Setelah berkali-kali berusaha memperbaiki data sejak Juli, ia akhirnya hanya mampu berserah.
“Tinggal berserah diri saja ini, Nak. Apabila tidak ada perubahan (desil), kita jalani lah nasib ini,” ucapnya lirih menahan air mata.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang ayah, di baliknya tersimpan kecemasan yang panjang. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar perubahan angka dalam sebuah sistem. Di balik angka itu ada masa depan seorang anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Surya mengaku sudah berulang kali berusaha memperbaiki data. Ia mendatangi kepala lingkungan, kemudian Kantor Dinas Sosial, hingga mencoba sendiri mengisi data perubahan desil melalui aplikasi berbasis web yang difasilitasi Badan Pusat Statistik sejak awal Agustus. Tetapi sampai hari itu, desil keluarganya belum berubah.
Meski pasrah, Surya tetap meminta Al Fadri memeriksa data setiap hari. Barangkali hari itu berubah, atau mungkin esok dan entah sampai kapan sambil berharap ada keajaiban yang membuka jalan bagi putranya untuk mengenakan almamater perguruan tinggi.
Ada satu hal yang paling berat bagi Surya, pulang membawa kabar buruk kepada istrinya. “Sedih kali nanti mamaknya ini. Mamaknya sudah mengharapkan kali,” katanya sambil mengusap wajah yang mulai basah oleh air mata.
Di sampingnya, Al Fadri pun tak kuasa menahan tangis. Pemuda itu seakan baru kembali melihat dengan lebih jelas betapa panjang perjuangan ayahnya. Selama ini ia tahu ayahnya bekerja keras. Tetapi hari itu, ia melihat sendiri bagaimana seorang ayah berjuang hanya agar anaknya memperoleh kesempatan untuk belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik. Yang membuat Al Fadri semakin bingung, kondisi keluarga menurutnya, jauh dari gambaran keluarga mampu sebagaimana tercermin dalam data desil 6-10.
Sebelumnya, tim Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan bahkan telah datang langsung melakukan survei ke rumah mereka di Jalan Kapten Muslim, Dwikora, Medan Helvetia, Kota Medan. Rumah yang ditempati Surya dan keluarganya bukanlah rumah milik sendiri. Mereka masih menyewa.
Dindingnya terbuat dari papan yang telah lapuk dan dicat putih. Lantainya hanya semen, sebagian mulai retak dan pecah. Kondisi dapur dan kamar mandi pun jauh dari gambaran kehidupan keluarga yang berkecukupan.
Sehari-hari Surya bekerja sebagai buruh harian lepas. Jika tidak mendapatkan panggilan kerja, ia berusaha mencari penghasilan sebagai pengemudi ojek online. Namun pekerjaan itu pun belakangan semakin sulit dilakukan karena kondisi tubuhnya yang sering sakit-sakitan. Sementara istrinya bekerja sebagai pembantu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, pendidikan Al Fadri menjadi harapan besar keluarga. Bukan karena mereka ingin hidup mewah. Bukan pula karena mereka menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin anaknya memiliki kesempatan yang mungkin tidak pernah mereka miliki, duduk di bangku perguruan tinggi dan mengejar masa depan melalui pendidikan.
Surya bukan satu-satunya orang tua yang datang dengan kegelisahan serupa. Hari itu, puluhan keluarga lainnya juga berdatangan ke Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan. Mereka membawa cerita yang hampir sama, yakni anak-anak yang ingin kuliah, tetapi harapannya terhambat karena masih tercatat dalam desil tinggi.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat lebih dari seribu calon mahasiswa yang terkendala persoalan desil dan masih menunggu perubahan data agar berpeluang memperoleh KIP Kuliah.
Di antara mereka ada Purnama Siregar. Ia datang bersama putrinya, Christy Natalia Nababan, yang juga berharap dapat menjadi penerima KIP Kuliah. Hampir sebulan mereka menunggu. Namun angka desil belum juga berubah.
“Udah hampir sebulan kami tunggu, nggak berubah juga desilnya. Masih bisanya anakku ini kuliah?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Pertanyaan itu menggantung. Sebab bagi keluarga seperti Surya dan Purnama, waktu bukan sekadar angka pada kalender. Setiap hari yang berlalu adalah semakin dekatnya tahun ajaran baru, sementara harapan untuk kuliah masih tergantung pada satu perubahan data.
Dan bagi anak-anak mereka, kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan gelar. Itu adalah jalan keluar. Jalan untuk memutus rantai keterbatasan. Jalan untuk membuktikan bahwa kemiskinan orang tua tidak harus menjadi batas bagi masa depan anak.
Sementara bagi para orang tua, perjuangan itu sederhana, selama masih ada kemungkinan, mereka akan terus mengetuk pintu. Bahkan ketika akhirnya hanya mampu berkata, “tinggal berserah diri.”
Sebab seorang ayah boleh lelah. Seorang ibu boleh menangis. Tetapi harapan seorang anak untuk menggapai pendidikan, bagi mereka, terlalu berharga untuk begitu saja dilepaskan.
(REL/RZD)