Cara Aman Pilih Aplikasi Jual Beli BTC: Cek Ini Sebelum Transaksi Pertama

Cara Aman Pilih Aplikasi Jual Beli BTC: Cek Ini Sebelum Transaksi Pertama
Ilustrasi (Internet)

Banyak orang mulai tertarik masuk ke dunia kripto karena mendengar cerita orang lain untung besar dari Bitcoin. Tapi begitu mau coba beli sendiri, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: aplikasi mana yang aman dipakai? Bagaimana kalau ternyata platformnya bermasalah di kemudian hari?

Wajar kalau pertanyaan ini muncul. Bitcoin memang jadi aset kripto dengan kapitalisasi terbesar di dunia, sehingga sering jadi pintu masuk bagi pendatang baru. Tapi memilih aplikasi jual beli BTC tidak cukup hanya berdasarkan popularitas nama atau ramainya testimoni di media sosial.

Ada beberapa hal yang perlu diperiksa dulu — mulai dari status izinnya sampai struktur biayanya.

Seberapa Besar Sebenarnya Pergerakan Harga Bitcoin?

Sebelum bicara soal memilih aplikasi, ada baiknya Anda dulu paham seberapa liar harga BTC hari ini bisa bergerak. Ini penting supaya Anda tidak kaget dan bisa menyesuaikan modal dari awal, alih-alih menaruh dana besar tanpa gambaran risikonya.

Pada 28 Agustus 2026, Bitcoin berada di kisaran $80.407 atau sekitar Rp1,42 miliar (dengan asumsi kurs Rp17.740). Dalam 24 jam terakhir aset ini naik 1,97%, dan dalam sepekan naik 9,14%, dengan kapitalisasi pasar sekitar $1,33 triliun.

Rentang tahunannya jauh lebih lebar. Data pasar lokal mencatat kisaran 52 minggu antara Rp820 juta sampai sekitar Rp1,377 miliar, dengan perubahan sekitar minus 22% dalam dua belas bulan terakhir.

Data harga bersifat historis dan berubah setiap saat mengingat pasar kripto berjalan tanpa jeda.

Apa Saja yang Perlu Diperiksa Sebelum Memilih Aplikasi?

Empat poin berikut mencakup sisi legalitas sampai sisi teknis penyimpanan.

1. Status Izin dan Infrastruktur Pasar

Poin pertama bersifat mendasar. Sejak 10 Januari 2025, pengaturan dan pengawasan aset kripto berada di tangan Otoritas Jasa Keuangan setelah sebelumnya ditangani Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi.

Ekosistemnya juga melibatkan bursa aset keuangan digital dan lembaga kliring tersendiri. Platform yang sah beroperasi di dalam kerangka tersebut dan tercantum dalam daftar resmi regulator.

2. Struktur Biaya yang Dipublikasikan Terbuka

Poin kedua menyangkut perhitungan hasil. Misalnya, pada salah satu platform yang cukup dikenal di Indonesia seperti Ajaib Kripto, biaya maker tercatat 0,111% dan biaya taker 0,222%.

Terdapat pula komponen pajak dan biaya lembaga penyelenggara pasar. Untuk pasangan rupiah, tambahannya sekitar 0,0111% pada sisi beli dan 0,2211% pada sisi jual, sehingga total beban perlu dihitung sejak awal.

3. Kelengkapan Riwayat dan Bukti Potong

Poin keempat berkaitan dengan administrasi. Pajak Penghasilan final dipotong otomatis oleh platform pada sisi penjualan, dengan tarif 0,21% untuk transaksi melalui platform dalam negeri.

Karena pemotongan berlangsung otomatis, riwayat transaksi dan bukti potong menjadi dokumen penting. Aset kripto sendiri tetap wajib dilaporkan sebagai harta dalam Surat Pemberitahuan Tahunan.

Bagaimana Menyusun Rencana Transaksi pada Aset Volatil?

Pasar kripto berjalan tanpa jeda, sehingga rencana yang disusun lebih awal menjadi pengaman utama.

Tentukan lebih dulu porsi dana yang bersedia ditempatkan. Karena rentang pergerakan tahunannya sangat lebar, porsi kecil pada tahap awal memberi ruang belajar tanpa mengganggu keuangan sehari hari.

Tetapkan pula batas waktu pemantauan. Tanpa batasan yang disepakati sendiri, pasar yang berjalan 24 jam mudah membuat pemantauan berubah menjadi berlebihan dan melelahkan.

Terakhir, catat biaya pada setiap putaran transaksi. Perbedaan tarif maker dan taker membuat gaya transaksi yang berbeda menghasilkan beban yang berbeda pula dalam sebulan.

Mulai dari Nominal Kecil, Kenali Dulu Ritmenya

Transaksi pertama pada aset dengan volatilitas tinggi sebaiknya diperlakukan sebagai pengenalan. Sebaiknya, jangan terlebih dahulu mengejar hasil besar.

Ajaib Kripto menyediakan layanan perdagangan aset kripto yang berada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan, dengan struktur biaya maker dan taker serta rincian pajak yang dipublikasikan secara terbuka.

Katalog asetnya dikelompokkan ke dalam berbagai kategori, mulai dari Layer 1, Layer 2, DeFi, hingga stablecoin, sehingga Anda dapat menyusun daftar pantau yang terarah sambil mengenali karakter pergerakan pasar kripto terlebih dahulu.

(Adv)

Baca Juga

Rekomendasi