Acara yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI ini berlangsung di Four Points Hotel, Jalan Gatot Subroto, Medan, pada Sabtu, 5 September 2026. (Analisadaily/Reza Perdana)
Analisadaily.com, Medan - Pengembangan tanaman bambu kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Tanaman ini resmi difokuskan sebagai komoditas masa depan berbasis teknologi rekayasa material modern yang menyimpan keunggulan luar biasa dari aspek ekonomi, kesehatan, hingga ekologi.
Tegasan tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) bertema Pemanfaatan Bambu sebagai Bahan Baku untuk Berbagai Produk Bernilai Tinggi.
Acara yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI ini berlangsung di Four Points Hotel, Jalan Gatot Subroto, Medan, pada Sabtu, 5 September 2026.
"Ketika berbicara mengenai bambu, orang sering berkata bahwa hidup kita sebaiknya seperti bambu: memiliki sikap yang lentur, tetapi bisa menghasilkan rezeki secara terus-menerus. Sekali menanam bambu, kita dapat memanennya seumur hidup," ujarnya.
Pohon bambu sendiri idealnya dipanen pada usia 3 hingga 5 tahun, dengan masa optimum pada usia 4 tahun. Budi daya tanaman ini relatif mudah karena hanya memerlukan sinar matahari minimal 6 jam sehari serta area tumbuh yang cukup lembap, sehingga sangat subur berkembang di sepanjang tepi sungai.
Dari aspek konsumsi, tunas bambu atau rebung merupakan salah satu makanan sehat dengan kandungan kalori relatif rendah, yakni sekitar 27 kalori per 100 gram. Jika seseorang mengonsumsi 1 kilogram rebung, jumlah kalorinya hanya sekitar 270 kalori.
Angka tersebut setara dengan energi yang terbuang saat berjalan kaki sejauh 7 hingga 8 kilometer, jauh lebih rendah dibanding porsi makanan cepat saji seperti ayam goreng tepung yang mencapai 900 hingga 1.000 kalori.
"Mengonsumsi rebung tidak membuat berat badan cepat naik. Rebung kaya akan serat yang membantu melancarkan pencernaan dan memberikan rasa kenyang lebih lama," tuturnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa rebung mengandung vitamin A, B, C, serta mineral penting seperti fosfor dan kalium yang membantu menjaga kesehatan kulit agar tetap cerah serta memperkuat tulang.
Bagi perempuan yang memasuki masa menopause dengan risiko osteoporosis tinggi akibat penurunan kalsium dan fosfor, makanan berbahan rebung sangat direkomendasikan. Bahkan, kandungan di dalamnya terbukti bermanfaat untuk mengontrol kadar gula darah dan menjaga kesehatan jantung.
Selain manfaat kesehatan, bambu memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Secara historis, bubur serat bambu merupakan bahan baku penemuan kertas di Tiongkok. Hingga saat ini, bambu dimanfaatkan sebagai bahan baku mebel, kerajinan anyaman, hingga papan olahan pengganti tripleks yang adem dan kokoh untuk dinding maupun lantai.
Potensi bambu ini telah dibuktikan langsung oleh Sofyan Tan selama hampir 20 tahun melalui pendirian penginapan ekowisata Ecolodge di kawasan Bukit Lawang. Tempat tersebut memiliki restoran berbentuk rumah kapal berstruktur bambu yang pernah diliput oleh majalah penerbangan Garuda.
Saat ini, ia juga sedang menyelesaikan proyek kawasan ekowisata di Pancur Batu yang membangun fasilitas restoran, rumah-rumah bambu, serta jembatan bambu yang dirancang menjadi salah satu jembatan bambu terpanjang di dunia.
Nilai ekonomi bambu juga merambah ke bagian daunnya. Masyarakat Tionghoa memanfaatkan daun bambu berukuran besar untuk membungkus bakcang, yaitu beras ketan berisi daging atau varian vegetarian berbentuk limas.
Pada festival musim panas, permintaan akan daun bambu sangat tinggi, di mana satu porsi bakcang isian spesial bisa bernilai tinggi di pasaran. Hal ini membuktikan nilai ekonomis nyata dari seluruh bagian bambu, mulai dari rebung, batang, hingga daunnya.
Secara lingkungan dan ekologi, tanaman bambu memiliki peran vital. Karakter akarnya yang kuat dan batangnya yang lentur mampu memecah gelombang serta menahan laju air. Saat bencana tsunami terjadi di kawasan pantai Nagan Raya Aceh, area yang terlindungi rumpun bambu terbukti mampu menahan dampaknya.
Begitu pula saat banjir bandang menghantam Bukit Lawang beberapa tahun silam, rumpun bambu di tepi sungai berhasil menahan empasan material kayu besar sehingga rumah warga di belakangnya tetap terlindungi.
"Karakter bambu yang lentur namun kokoh ini mengajarkan filosofi hidup: ketika menghadapi kekerasan atau kesulitan, hadapilah dengan kelenturan dan kesabaran," pungkasnya.
Keterlibatan Sofyan Tan dan yayasannya dalam pemanfaatan bambu telah dirintis sejak tahun 1999. Selama lebih dari 26 tahun, ia mempelajari dan membuktikan sendiri manfaat besar tanaman tersebut. Pelaksanaan bimbingan teknis ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi para peserta untuk mulai berinvestasi jangka panjang bagi anak cucu melalui budi daya dan pemanfaatan bambu.
Pada kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Dr. Sarah Augustina, S.Hut., M.Si., memaparkan secara rinci berbagai aspek teknis, riset, hingga peluang pendanaan industri berbasis bambu.
Peneliti alumni S1, S2, dan S3 Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan IPB University yang aktif di BRIN sejak 2023 tersebut berkantor pusat di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. H. Soekarno, Cibinong, Bogor.
Di bawah Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, para peneliti bertindak sebagai pelaksana (
executing agent) untuk merintis teknologi rekayasa biomassa menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Guna menggarap potensi bambu secara terintegrasi, BRIN bersama IPB University mendirikan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biomassa dan Bioproduk Bambu Indonesia bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR/PKP), serta Yayasan Bambu Lestari.
Berdiri sejak tahun 2023 hingga 2026, PKR Bambu berfokus pada kegiatan hulu ke hilir. Kegiatan ini meliputi pembibitan dan penanaman bambu di Sukabumi, Jawa Barat, serta pemetaan potensi melalui survei sebaran bambu di Cianjur, Jawa Barat, dan Banyumas, Jawa Tengah.
Konsorsium tersebut juga melakukan diseminasi riset melalui publikasi ilmiah, kunjungan dan pendampingan industri bambu di Cirebon dan Lombok, program pelatihan Bambu Academy bersama Kementerian Perindustrian, serta pendampingan pengolahan pascapanen bagi kelompok masyarakat dan pengrajin.
Secara global, terdapat sekitar 1.600 jenis bambu yang tersebar di wilayah tropis, subtropis, hingga
tropical monsoon. Jenis-jenis ini terbagi dalam tiga kelompok utama, yaitu
Arundinarieae untuk iklim sedang,
Bambuseae untuk jenis berkayu di wilayah tropis, serta
Olyreae untuk jenis terna atau herba.
Indonesia menyumbang 11,5 persen dari total jenis bambu di dunia dengan sekitar 161 spesies dari 24 genus. Empat genus besar yang mendominasi kawasan Nusantara adalah
Gigantochloa,
Dendrocalamus,
Schizostachyum, dan
Bambusa, dengan sebaran terbanyak di Bali, Jawa, Papua, Sulawesi, dan Sumatera.
Data BPS menunjukkan pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini masih didominasi untuk produk kerajinan tangan (
handicraft) dan furnitur. Khusus di Sumatera Utara, tercatat terdapat 73 spesies bambu dari 10 genus yang didominasi oleh genus
Bambusa,
Gigantochloa sebanyak 26 spesies, dan
Schizostachyum sebanyak 19 spesies. Sebagian besar spesies dari genus
Gigantochloa di Sumatera Utara bersifat endemik.
Beberapa spesies khas yang ditemukan di Sumatera Utara antara lain
Bambusa spinosa,
Bambusa tuldoides,
Bambusa vulgaris,
Dendrocalamus laetus,
Dinochloa malayana, dan
Gigantochloa scortechinii. Sementara itu, jenis bambu yang paling umum dikenal masyarakat setempat adalah Bambu Apus, Bambu Tali, dan Bambu Betung.
Ragam pemanfaatan bambu sangat luas, mulai dari bahan konstruksi rumah dan jembatan, peralatan rumah tangga, alat pertanian, instrumen musik seperti angklung, pangan berupa rebung, obat-obatan, hingga bahan energi alternatif.
BRIN sendiri telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra industri potensial, seperti UMKM CV. Eska Bersaudara pimpinan Iwan Sung. UMKM ini berhasil menyulap boboko atau bakul nasi tradisional menjadi produk tas fashion bernilai seni tinggi.
Produknya telah dipasok ke merek fashion internasional seperti H&M, Zara, hingga ritel perabot IKEA, diekspor ke Belanda, serta meraih penghargaan
Best Good Design di Indonesia dan Jepang pada tahun 2019 untuk produk sedotan bambu dan tahun 2020 untuk produk wadah makanan bambu.
"BRIN membantu mitra ini melalui teknologi delignifikasi," paparnya.
Proses delignifikasi dilakukan dengan menghilangkan kandungan zat lignin pada bambu untuk mengubah warna alami bambu yang kekuningan atau hijau menjadi putih bersih, sehingga memudahkan pewarnaan variatif sesuai kebutuhan pasar fashion.
Selain itu, BRIN bermitra dengan pelaku usaha di Bandung seperti Pak Adam untuk menerapkan teknologi lembaran bambu pada pembuatan
casing pelindung instrumen musik seperti gitar, drum, dan biola, hingga produk jam tangan dan peralatan kamar mandi.
Aplikasi bambu utuh juga diterapkan untuk struktur vila dan restoran di kawasan Lombok dan Labuan Bajo. Dr. Sarah menekankan pentingnya proses pengawetan (
preservation) awal pada bambu konstruksi agar tahan terhadap serangan hama bubuk atau kumbang kayu, sehingga usia pakainya bisa bertahan hingga puluhan tahun.
Kendala utama bambu selama ini terletak pada bentuk geometrisnya yang bundar dan berongga. Penggunaannya dalam bentuk bundar biasanya terbatas untuk stager konstruksi atau kebutuhan adat budaya. Oleh karena itu, untuk industri modern, bambu dipotong menjadi selat,
strand, partikel, atau serbuk.
Jenis produk komposit bambu meliputi
Oriented Strand Board (OSB) Bambu dari serpihan bambu yang dicampur perekat dan dikempa panas 3 sampai 5 lapis,
Laminated Bamboo Lumber atau
Glue-Lam dari bilah bambu yang direkatkan bersama balok kayu hibrida, serta
Particle Board Bambu dari serbuk bambu yang dipres untuk papan furnitur seperti lemari dan kabinet.
Karena proses pencacahan bambu menjadi partikel kecil memerlukan biaya operasional tinggi dan mengurangi efisiensi, BRIN memperkenalkan inovasi Teknologi Pemipihan Bambu (
Flattened Bamboo). Inovasi ini mengubah batang bambu bulat menjadi lembaran rata lurus menyerupai vinir kayu dengan ketebalan sekitar 0,3 cm.
Tahapan proses pemipihan bambu dimulai dari pengulitan (
bark removal) untuk membersihkan kulit luar lonjoran batang bambu. Selanjutnya dilakukan pelunakan atau pengukusan (
pre-softening/steaming) pada suhu 160 derajat Celsius selama 3,5 jam, baik secara fisik maupun kimiawi menggunakan bantuan larutan alkali seperti Natrium Hidroksida (NaOH) atau Kalium Hidroksida (KOH).
Batang bambu yang telah lunak kemudian dikempa atau dipres menggunakan mesin kempa panas (
hot press) pada suhu 170 hingga 180 derajat Celsius hingga terbentuk lembaran lurus rata. Proses diakhiri dengan pengeringan (
drying) hingga mencapai kadar air standar, sehingga lembaran bambu pipih siap digunakan sebagai bahan baku industri pengganti kayu.
(RZD/RZD)