Praktisi Mengajar FKG USU, drg. Martyn Tekankan Pelayanan Kedokteran Gigi yang Humanis

Praktisi Mengajar FKG USU, drg. Martyn Tekankan Pelayanan Kedokteran Gigi yang Humanis
Praktisi Mengajar FKG USU, drg. Martyn Tekankan Pelayanan Kedokteran Gigi yang Humanis (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan – Pelayanan kedokteran gigi tidak hanya menuntut ketepatan diagnosis dan keterampilan klinis, tetapi juga membutuhkan empati, komunikasi yang baik, kejujuran, serta sikap yang menghargai martabat pasien. Pendekatan humanis dinilai penting agar setiap tindakan klinis tidak hanya berorientasi pada hasil perawatan, tetapi juga pada pengalaman pasien selama menerima pelayanan.

Hal tersebut disampaikan drg. Martyn, M.K.M., M.H. dalam Program Praktisi Mengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara (FKG USU) melalui materi “Pelayanan Kepada Pasien dalam Perspektif Buddha Dhamma: Implementasi Praktis dan Nilai Humanis dalam Praktik Dokter Gigi Sehari-hari.” Kegiatan ini merupakan bagian pembelajaran Mata Kuliah Agama Buddha yang diampu Meng Lie Amran, S.Ag., M.Pd.
Selain aktif sebagai dosen dan praktisi klinis, drg. Martyn berpraktik di Royal Dental Center, RSU Mahawira Prima Indonesia, dan Klinik Pratama Ika. Latar belakang akademiknya memadukan kedokteran gigi, kesehatan masyarakat, manajemen pelayanan kesehatan, serta hukum kesehatan, dengan minat akademik pada biomaterial kedokteran gigi, dental public health, pendidikan klinik, dan patient-centered care.
“Pelayanan klinis yang baik tidak hanya presisi secara teknis, tetapi juga manusiawi dalam sikap,” kata drg. Martyn yang juga merupakan Koordinator Laboratorium dan Clinical Skill Laboratory (CSL) Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Institut Kesehatan Helvetia. Menurutnya, komunikasi, respons terhadap kecemasan, penghargaan terhadap pilihan pasien, dan rasa aman selama perawatan turut menentukan kualitas pelayanan.
Dalam pemaparannya, ajaran Buddha Dhamma dikaitkan dengan praktik kedokteran gigi sehari-hari, terutama melalui konsep Brahma Vihara yang mencakup Metta atau cinta kasih, Karuna atau welas asih, Mudita atau turut berbahagia, dan Upekkha atau keseimbangan batin. Keempat prinsip tersebut ditempatkan sebagai landasan sikap dalam membangun hubungan dokter dan pasien yang lebih manusiawi.
Metta dapat diwujudkan melalui pelayanan yang ramah, santun, dan setara kepada pasien, sedangkan Karuna tercermin melalui kepedulian terhadap rasa sakit maupun ketidaknyamanan pasien. Mudita mendorong dokter turut mengapresiasi kemajuan dan keberhasilan perawatan, sementara Upekkha membantu dokter tetap tenang, objektif, dan profesional ketika menghadapi komplikasi, keluhan, atau situasi klinis yang tidak berjalan sesuai harapan.
Pembahasan juga menyinggung relevansi Panca Sila Buddhis dengan moralitas profesi kedokteran gigi, seperti keselamatan pasien, pengendalian infeksi, kejujuran, serta kehati-hatian dalam mengambil keputusan klinis. Perspektif etika dan hukum yang disampaikan drg. Martyn sejalan dengan pengembangan akademiknya karena saat ini ia sedang menempuh pendidikan Sarjana Hukum (S.H.) di Universitas Al Washliyah Medan, setelah menyelesaikan Magister Hukum.
“Dokter gigi harus mampu menempatkan kepentingan dan keselamatan pasien sebagai dasar dalam mengambil keputusan klinis. Profesionalisme tidak semata-mata diukur dari banyaknya tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan menentukan tindakan yang benar-benar diperlukan pasien,” ujar drg. Martyn, Ketua Seksi Organisasi dan Hubungan Antar Profesi PDGI Cabang Deli Serdang. Prinsip ini juga menekankan pentingnya menghindari overtreatment.
Aspek informed consent turut menjadi perhatian dalam pembahasan. Pasien perlu memperoleh penjelasan mengenai diagnosis, prognosis, alternatif perawatan, manfaat, dan risiko tindakan dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal tersebut juga dikaitkan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan, mulai dari pandangan dan pikiran yang benar, ucapan yang baik, tindakan profesional, hingga perhatian serta konsentrasi dalam memberikan pelayanan.
Pendekatan mindful dentistry turut diperkenalkan sebagai praktik kedokteran gigi dengan kesadaran penuh terhadap tindakan yang sedang dilakukan. Dokter perlu menjaga fokus, mengelola kondisi emosional, dan menghindari bekerja secara terburu-buru, khususnya pada prosedur yang membutuhkan ketelitian tinggi. Sikap tersebut diharapkan membantu mempertahankan kualitas teknis sekaligus menciptakan pengalaman perawatan yang lebih aman dan nyaman bagi pasien.
Ajaran Buddha Dhamma tersebut tidak hanya relevan dalam hubungan dokter dan pasien, tetapi juga dalam hubungan dengan perawat, staf, serta rekan sejawat. Konsep Dasa Raja Dhamma turut dikaitkan dengan kepemimpinan klinis melalui prinsip kemurahan hati, integritas, kejujuran, kelembutan, pengendalian diri, kesabaran, dan keadilan. Penerapannya dinilai penting dalam membangun kerja sama tim serta lingkungan pelayanan kesehatan yang profesional dan harmonis.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi tetap menjadi bagian penting dalam peningkatan kompetensi. Sejalan dengan hal tersebut, drg. Martyn saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Kedokteran Gigi (M.DSc.) di Universitas Hasanuddin, Makassar. Menurutnya, kemajuan ilmu dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan aspek kemanusiaan agar pasien tetap dipandang sebagai manusia, bukan sekadar objek tindakan medis.
Pada bagian akhir pemaparannya, para mahasiswa diingatkan agar kemampuan klinis yang dibangun selama pendidikan selalu disertai karakter, kepedulian, dan kepekaan terhadap penderitaan pasien. “Jadilah dokter gigi yang tidak hanya mahir memegang contra-angle handpiece, tetapi juga memiliki kelembutan batin untuk menyembuhkan penderitaan manusia,” pesan drg. Martyn kepada mahasiswa sebagai penegasan pentingnya keseimbangan antara kompetensi dan kemanusiaan.
Sementara itu, Meng Lie Amran, S.Ag., M.Pd., selaku dosen Mata Kuliah Agama Buddha di FKG USU, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. “Kami mengucapkan terima kasih kepada drg. Martyn yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada mahasiswa. Materi yang disampaikan menunjukkan bahwa ajaran Buddha Dhamma dapat diterapkan secara nyata dalam pelayanan kepada pasien dan kehidupan profesional seorang dokter gigi,” ujarnya.
Melalui kegiatan Praktisi Mengajar tersebut, mahasiswa FKG USU diharapkan memperoleh perspektif yang lebih luas bahwa profesionalisme seorang dokter gigi tidak hanya tercermin dari keterampilan melakukan tindakan klinis. Kompetensi tersebut juga perlu disertai kemampuan membangun komunikasi, menjaga etika, menghargai pasien, serta menghadirkan pelayanan yang aman, penuh empati, bertanggung jawab, dan humanis dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari.
(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi