Rempah Lokal Bersiap Mendunia, KAI Kembangkan Manufaktur Botanikal

Rempah Lokal Bersiap Mendunia, KAI Kembangkan Manufaktur Botanikal
Rempah Lokal Bersiap Mendunia, KAI Kembangkan Manufaktur Botanikal (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Mesin dan bahan baku bekerja dalam satu rangkaian yang jauh lebih panjang daripada sekadar membuat minuman herbal di rumah produksi ini, tepatnya di Jalan Pukat Banting 2, Medan Tembung, Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Rempah tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Sebagian diolah menjadi produk konsumen, sebagian dikembangkan menjadi konsentrat dan botanical ingredients. Sementara kebutuhan pelaku usaha lain dijawab melalui pengembangan produk dan manufaktur.
Namanya PT Kebaikan Alam Indonesia (KAI), merupakan perusahaan manufaktur makanan dan minuman botanikal yang mengembangkan berbagai produk berbasis bahan alam. Salah satu merek konsumennya adalah ARAMU.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana bisnis berbasis rempah mulai bergerak dari sekadar menjual produk jadi menuju rantai nilai yang lebih luas: dari bahan baku, pengolahan, pengembangan botanical ingredients, produk konsumen, hingga solusi manufaktur untuk bisnis lain.
Owner PT KAI, Agustine, mengatakan pengembangan lini bisnis tersebut berangkat dari kebutuhan pasar yang semakin beragam. "Jadi kita kan dulu cuma lini produksi ready to drink sama tea bag. Nah, yang tea bag itu sekarang kita sudah banyak varian, sudah ada enam variannya. Terus kita ada kembangkan lini bisnis sirup,” ujarnya di rumah produksi tersebut, Kamis (10/9/2026).
Sirup menjadi salah satu bentuk pengembangan produk botanikal KAI untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe atau HOREKA. Konsepnya bukan sekadar menyediakan minuman siap konsumsi, melainkan membuat bahan yang lebih praktis digunakan pelaku usaha dalam mengembangkan menu. "Kenapa kami kembangkan sirup? Karena sekarang sebenarnya restoran, kafe mereka pengen jualan jamu juga. Karena wellness, pangan-pangan fungsional, minuman fungsional itu sebenarnya meningkat,” katanya.
Dalam konteks tersebut, istilah jamu masih menjadi bagian dari kategori produk yang dikenal masyarakat. Namun, pengembangan KAI bergerak lebih luas ke ranah botanikal, termasuk konsentrat dan bahan berbasis tanaman yang dapat digunakan kembali oleh pelaku usaha.
Menurut Agustine, salah satu persoalan yang ingin dijawab adalah proses pengolahan minuman berbasis rempah yang relatif merepotkan apabila seluruhnya dilakukan sendiri di dapur usaha.
“Kesulitannya bikin produk ini kan ribet banget. Mau parut lah, bikin kotor dapur lah. Nah, jadi kita kasih solusi. Kita bikin, kayak ini kunyit asam. Kalau membuatnya mesti parut-parut kunyit, ini tidak usah pakai itu, kayak bikin sirup saja. Tapi rasanya tetap mirip seperti yang kita masak sendiri. Jadi dia tetap rasa alami,” ujarnya.
Dari kebutuhan itu, KAI membangun model bisnis yang tidak hanya berorientasi pada produk konsumen. Perusahaan juga mengembangkan bahan setengah jadi serta solusi pengembangan produk bagi pelaku usaha.
Di lokasi yang sama, ARAMU Origin Flagship dikembangkan sebagai tempat demonstrasi produk sekaligus pusat pelatihan bagi pelaku HOREKA. "Para pebisnis HOREKA itu tidak tahu mau racik kayak mana, menu dasarnya kayak mana. Nah, inilah kita training centernya kita bikin di sini. Sambil kita jual-jual ecer, tapi lebih difungsikan sebenarnya ini tempat demo produk kita,” kata Agustine.
Model tersebut memperpanjang rantai nilai bisnis KAI. Produk tidak hanya keluar dari pabrik dalam bentuk barang jadi, tetapi juga dapat hadir sebagai bahan yang digunakan kembali dalam proses pengembangan produk perusahaan lain.
Salah satu lini yang dikembangkan KAI adalah botanical ingredients untuk kebutuhan industri.
Agustine mencontohkan perusahaan manufaktur yang ingin menghadirkan cita rasa herbal dalam produknya. Untuk membangun proses ekstraksi sendiri, perusahaan harus menyiapkan lini produksi, keahlian, sekaligus investasi. “Kalau mereka mau bikin permen rasa herbal, mereka harus bangun lini produksi ekstraksi herbal. Dan itu tidak gampang. Karena ekstraksi herbal dengan bikin ekstraksi buah itu beda. Namun pasti butuh skill, butuh investasi,” katanya.
KAI kemudian mengambil posisi di bagian yang membutuhkan keahlian tersebut dengan mengembangkan ekstrak botanikal yang dapat digunakan manufaktur. “Kalau kita di PT Kebaikan Alam Indonesia, kita bikin ekstraknya. Jadi mereka tidak usah bikin ekstraksi. Mereka cukup campurkan ekstrak kita ke bahan-bahan permen mereka yang biasa, sudah jadi permen herbal. Jadi menghemat,” ujar Agustine yang juga memiliki website yakni aramuofficial.com.
Dengan demikian, bisnis KAI bergerak pada dua sisi sekaligus. ARAMU menjadi merek yang berhadapan langsung dengan konsumen, sementara KAI membangun kapasitas sebagai manufaktur yang dapat memasok bahan dan mengembangkan produk untuk pelaku usaha lain melalui skema B2B.
Ruang kerja samanya juga mencakup private label. Pelaku usaha dapat mengembangkan produk dengan bentuk, kemasan, maupun merek yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. "Kalau orang suka produk terus dia bilang, ‘Bisa dibikin jadi saset enggak?’ Bisa. ‘Bisa diganti botolnya enggak?’ Bisa juga. Mau bikin merek sendiri? Bisa juga kita bikin,” ujar Agustine.
Kebutuhan yang lebih sederhana pun dapat dikerjakan, mulai dari bahan yang digiling menjadi bubuk hingga bahan botanikal yang dipersiapkan sebagai komponen produk. "Kalau mau digiling jadi bubuk saja bisa kita bikin. Ada orang kan keperluannya dia mau bahan campuran apa gitu untuk produknya, dia mau minta kita cuma bikin simplisia atau giling jadi bubuk, bisa juga kita kerjain,” katanya.
“Jadi kita ada B2B-nya juga ceritanya,” sambung Agustine.
Di belakang pengembangan manufaktur tersebut terdapat satu agenda yang menjadi bagian penting dari arah bisnis KAI: hilirisasi rempah dari kawasan Danau Toba.
Ia melihat masih terdapat ruang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas rempah yang selama ini banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. "Kita mengusung temanya itu, kita mau hilirisasi rempah dari Danau Toba,” katanya.
Menurutnya, rempah dari kawasan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh melalui pengolahan dan pemanfaatan senyawa aktifnya. "Selama ini sebenarnya rempah-rempah dari Danau Toba ini, senyawa aktifnya itu kan bagus banget. Tapi kebanyakan kan dijual mentah saja. Tidak diolah dulu, tidak dikasih nilai tambah,” ujarnya.
Sejumlah bahan baku utama yang digunakan KAI berasal dari kawasan Danau Toba, dengan jahe merah menjadi salah satu bahan penting. Selain itu terdapat kunyit, temulawak, serai, dan rosella yang sedang dioptimalkan dalam pengembangan produk. "Bahan utama yang kita gunakan itu jahe merah. Jahe merah di kawasan Danau Toba itu the best. Kemudian kita pakai kunyit, kemudian temulawak, ada serai, sama rosella satu lagi. Jadi kita lima macam itu yang kita optimalkan,” katanya.
Namun, pengembangan berbasis Danau Toba tidak berarti seluruh bahan baku KAI berasal dari kawasan tersebut. Jenis dan ketersediaan bahan tetap menentukan sumber pasokannya.
Untuk sebagian bahan utama yang dikembangkan, KAI menjalin kerja sama dengan petani dan pengepul lokal. “Enggak, kita masih kerja sama sama petani lokal, sama pengepul lokal,” ujar Agustine.
Skema tersebut menempatkan hilirisasi bukan hanya sebagai proses mengubah bahan mentah menjadi produk, tetapi juga sebagai upaya membangun hubungan antara manufaktur dengan rantai pasok lokal.
Pengembangan bisnis berjalan beriringan dengan penguatan standar produksi. Jika sebelumnya legalitas keamanan pangan KAI bertumpu pada BPOM dan sertifikasi halal, perusahaan kini telah memiliki HACCP dan GMP. "Dulunya itu kan kita cuma sekadar BPOM sama halal. Sekarang kita sudah ada HACCP dan GMP,” katanya.
Menurut Agustine, standar tersebut menjadi salah satu bagian yang dibutuhkan ketika perusahaan mengembangkan pasar internasional. “Biasanya permintaan luar negeri itu mereka harus minta bukan sekadar BPOM, halal yang diminta. Mereka harus minta itu ada HACCP-nya. Jadi kita sudah punya HACCP standar kita. Standar produksi ini, keamanan pangan ini, kita sudah standar produksi yang bisa untuk ekspor. Sertifikasi HACCP tersebut sudah kita peroleh pada 2025,” ujarnya.
Pengalaman produk ARAMU berada di luar negeri sebenarnya sudah terjadi melalui mekanisme hand carry. Konsumen telah membawa produk ke sejumlah negara, termasuk Singapura, Malaysia, Australia, Filipina, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Eropa. “Kalau hand carry sudah banyak negara. Singapura, Malaysia, Australia juga ada. Kita ke Filipina juga ada, sampai dengan ke Amerika juga ada, Eropa juga ada. Itu semua hand carry,” kata Agustine.
Namun, pengalaman tersebut berbeda dengan ekspor resmi. KAI kini tengah membuka jalur pasar internasional melalui proses penjajakan dan pemenuhan persyaratan di negara tujuan seperti Malaysia dan Afrika Selatan. "Malaysia masih proses persyaratan sebelum pengiriman, sedangkan Afrika Selatan masih penjajakan serius," terangnya.
Langkah pembukaan pasar juga ditempuh melalui forum perdagangan dan business matching. Pada Oktober 2026, KAI direncanakan mengikuti Trade Expo Indonesia 2026 melalui UMKM binaan Bank Indonesia. “Kita sudah ikut itu tiga tahun berturut-turut. Tahun ini kita ikut lagi. Jadi kita ikut melalui UMKM binaan Bank Indonesia,” ujarnya.
Bahkan, pihaknya juga akan mengikuti ISEF 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia. "Di sana kita diperkenalkan lagi di business matching lagi sama network-nya Bank Indonesia,” katanya.
Bagi Agustine, business matching menjadi salah satu saluran untuk mempertemukan perusahaan dengan calon mitra dan pembeli dari luar negeri. “Kita kebanyakan dapat buyer-nya dari business matching. Makanya kemarin yang IMT-GT ini kita juga ikut business matching-nya. Kenalan-kenalan dulu, siapa tahu ada peluang,” ujarnya.
Menurutnya, peluang kerja sama dari forum semacam itu cukup terbuka, meski realisasinya tetap membutuhkan waktu dan proses administratif. "Rata-rata kalau kita ada kesempatan business matching, itu rata-rata jadi. Cuma urusan waktu saja untuk pengurusannya,” serunya.
Ekspansi pasar internasional juga berlangsung ketika penjualan retail domestik dalam setahun terakhir dinilai mengalami perlambatan.
Agustine mengatakan perlambatan tersebut bukan berarti perhatian masyarakat terhadap produk wellness dan pangan botanikal menghilang. Kondisi ekonomi justru menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli pasar retail.
“Kalau kita untuk tren wellness ini, setahun belakangan ini, untuk retail sebetulnya agak menurun. Menurunnya bukan karena orang enggak peduli kesehatan, tapi karena memang perekonomian agak lesu setahun belakangan ini,” katanya.
Di sisi lain, KAI juga melihat pasar wellness dan produk berbasis herbal di luar negeri masih memiliki ruang pertumbuhan.
Selain membuka peluang pasar sendiri, KAI juga mengembangkan bisnis manufaktur dengan memasok bahan dan produk bagi perusahaan lain. Produk yang dihasilkan pelanggan B2B tersebut selanjutnya dapat masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Di tengah ekspansi KAI ke ranah manufaktur dan botanical ingredients, ARAMU sebagai merek consumer tetap memiliki produk yang menjadi andalan. "Yang paling besar, kita tetap produk hero kita dari awal, Aramu empon-empon ini,” kata Agustine.
ARAMU empon-empon menggunakan tiga rimpang utama, yakni jahe merah, kunyit, dan temulawak. "Biasanya kalau produk yang kita katakan herbal, wellness, biasanya itu pakai rimpangnya satu atau dua saja. Ini kita pakai tiga, yaitu jahe merah, kunyit dan temulawak dalam satu kemasan,” ujarnya.
Produk itu masih menjadi salah satu produk yang paling dikenal pelanggan loyal ARAMU. "Sampai sekarang masih hero product, yang paling dimengerti sama customer loyal kami, yang di-repeat order ulang-ulang itu Aramu empon-empon,” katanya.
Sementara itu, produk yang mulai menunjukkan perkembangan adalah bandrek. "Hero kedua sekarang yang mulai naik itu si bandrek,” ujar Agustine.
Bandrek dikembangkan dalam sejumlah bentuk, mulai dari sirup, pasta hingga tea bag. Produk tea bag tersebut dipasarkan melalui supermarket dan toko oleh-oleh. "Yang paling jalan itu produknya si bandrek. Otomatis orang beli karena orang kayaknya tipikal suka bandrek,” katanya.
Pengembangan produk juga diarahkan pada pola konsumsi yang lebih fleksibel. Sirup botanikal, misalnya, dapat digunakan sebagai campuran teh, susu, maupun kopi. "Sirup ini bisa dicampur teh, susu, kopi,” kata Agustine.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi cara KAI menjangkau konsumen muda yang lebih akrab dengan format minuman seperti kopi dan milk tea. “Sekarang kan trennya Gen Z. Sedangkan Gen Z ini lebih familiarnya dengan kopi atau milk tea. Jadi kita mencoba bagaimana supaya produk kita ini bisa masuk ke target market Gen Z,” ujarnya.
Salah satu bentuknya adalah Aramu Brew Bandrek yang dapat digunakan sebagai campuran kopi. “Kalau kopi itu kita suka campurnya dengan Aramu Brew Bandrek, yang bandrek sirup ini,” katanya.
Dari sisi formulasi rasa, Agustine mengatakan perusahaan berupaya mempertahankan karakter botanikal tanpa membuat rasa terlalu manis.
"Walaupun herbalnya itu dia pekat, tapi kita tidak menggunakan gula yang terlalu banyak. Jadi dia masih manis-manis gitu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut, menurut dia, mencoba mencari titik tengah antara konsumen yang mulai mengurangi gula dan konsumen yang belum terbiasa dengan rasa pahit. "Sekarang kan orang menghindari. Disuruh minum pahit, enggak ada gula sama sekali, sengsara, enggak keminum. Disuruh minum gula banyak takut sekarang. Jadi kita bikin yang moderate,” katanya.
Kekuatan ARAMU tidak hanya dibangun melalui produk consumer. Pengalaman mengembangkan produk juga menjadi bagian dari kemampuan KAI untuk membantu perusahaan lain.
Melalui lini yang disebut Botanical Solution, KAI menawarkan bahan baku botanikal yang dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk sesuai kebutuhan bisnis. "Untuk orang yang dia mau mengembangkan produk, dia mau mengembangkan produk dari bahan baku botanical kita, mau dibikin ekstrak, kita ada bikin,” katanya.
Kerja sama dapat dimulai dari bahan dasar, pengolahan, pengemasan, hingga pengembangan merek. KAI juga menerima kebutuhan pengolahan bahan sederhana.
Sementara produk consumer ARAMU dipasarkan melalui kanal digital dan jaringan offline. Penjualan online dilakukan melalui marketplace, sedangkan secara offline produk masuk ke supermarket dan toko oleh-oleh. "Kalau produk retail mayoritasnya online. Kita ada masuk ke supermarket, ada masuk ke toko oleh-oleh,” kata Agustine.
Distribusinya telah menjangkau sejumlah daerah, termasuk Batam, Pekanbaru, dan Jakarta. "Di Batam, di Pekanbaru, kemudian Jakarta, itu masuk ke supermarket,” ujarnya.
Meski distribusi telah berada di sejumlah wilayah, fasilitas produksi tetap berada di Medan. "Kalau di Batam dan Pekanbaru itu toko, distribusi saja di sana. Kita pabrik semua tetap di sini,” katanya.
Dalam pengembangan produknya, KAI memanfaatkan bentuk bahan kering maupun cair. Pilihan bentuk tersebut disesuaikan dengan kebutuhan produk, karakter rasa, dan tujuan penggunaannya. "Pengolahan untuk yang bahan kering lebih sederhana. Namanya untuk rasa yang lebih bold, itu tetap yang cair,” ujar Agustine.
Produk minuman yang dikembangkan di lokasi produksi menggunakan bentuk cair ketika dibutuhkan karakter rasa yang lebih kuat. "Yang abang minum ini produknya kita semua pakai yang cair. Karena kalau enggak cair, aromanya enggak terlalu. Bukan aromanya sih, rasanya itu dia enggak terlalu bold,” katanya.
Sementara bentuk kering menawarkan keunggulan dari sisi kemudahan distribusi dan daya tahan. "Kalau yang kering dengan yang basah, ekspornya beda. Yang basah tetap lebih singkat, yang kering lebih panjang,” katanya.
KAI juga mengembangkan produk berbentuk pasta yang memiliki daya simpan lebih panjang. "Yang panjang itu produk pastanya. Dia bisa tahan tiga tahun,” ujar Agustine.
Produk pasta tersebut juga ditempatkan sebagai produk dengan segmen premium. "Ini barang premium. Harganya beda dia sama yang kering,” katanya.
Bagi KAI, tantangan dalam membawa produk botanikal ke pasar internasional bukan hanya menyangkut legalitas dan distribusi. Karakter rasa juga harus dipertahankan agar identitas bahan tetap terasa. "Biasanya kalau produk diekspor, rasa aslinya hilang. Nah kalau kita ini, kita mencoba bikin supaya rasa aslinya masih tetap ada,” ujarnya.
Di tengah pengembangan lini manufaktur, KAI sebenarnya telah memiliki gagasan untuk memperluas bisnis melalui skema kemitraan.
Menurut Agustine, konsep tersebut berpeluang dikembangkan seiring meningkatnya minat terhadap minuman berbasis botanikal. “Ini sebenarnya bisa dikembangkan jadi kemitraan. Cuma karena lini bisnis kita masih banyak yang lagi berkembang, ini kita hold dulu,” katanya.
Konsep minuman botanikal dalam format yang lebih kekinian dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas. "Sekarang orang sudah sadar minuman herbal kesehatan itu. Jadi ini kalau kita bikin jadi minuman kekinian ini laku kali,” ujarnya.
Namun, ekspansi melalui kemitraan untuk sementara belum dijalankan karena perusahaan masih harus memperkuat sumber daya internal. "Memang karena kita perusahaan berkembang juga, orangnya juga agak terbatas yang ngurusin. Jadi untuk kemitraan kita hold dulu. Kita belum, karena belum bisa ngurus. Tapi ke depannya memang ada rencana mau jadikan kemitraan di mana-mana,” katanya.
Pada akhirnya, tantangan KAI bukan lagi semata-mata bagaimana menghasilkan produk berbasis rempah. Tantangannya adalah bagaimana memperluas pengenalan terhadap kemampuan manufaktur yang sedang dibangun. "Sebenarnya tujuan kita minta diulas supaya orang lebih kenal sama kita,” ujar Agustine.
Ia mengatakan masih banyak masyarakat yang mengenal ARAMU sebatas produk minuman herbal, sementara kemampuan perusahaan telah berkembang ke berbagai lini. "Kita bisnisnya sudah komprehensif sebenarnya. Sudah lengkap, tapi kurang dikenal. Kadang orang enggak ngerti. Orang kira saya sekarang masih jualan jamu. Padahal kita sebenarnya pengembangannya sudah cukup luas,” kata Agustine.
Perubahan posisi tersebut terlihat dari rantai bisnis yang dibangun KAI: ARAMU sebagai merek consumer, fasilitas manufaktur sebagai fondasi produksi, botanical ingredients sebagai bagian dari solusi B2B, serta jaringan petani dan pengepul lokal sebagai bagian dari rantai pasok bahan baku. “Kita sudah mau ekspor. Kita bisa suplai ke pabrik-pabrik,” ujarnya. ()
(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi