Kuliah di ITB Bukan Cuma Akademik: Saat Orang Tua Jadi ‘Jangkar Emosional’ Mahasiswa

Kuliah di ITB Bukan Cuma Akademik: Saat Orang Tua Jadi ‘Jangkar Emosional’ Mahasiswa
Kuliah di ITB Bukan Cuma Akademik: Saat Orang Tua Jadi ‘Jangkar Emosional’ Mahasiswa (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Medan - Menjadi orang tua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan hanya soal memastikan anak mendapatkan pendidikan terbaik.

Di balik perjalanan akademik mereka, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi mahasiswa, mulai dari tekanan perkuliahan hingga persoalan ekonomi.

Kondisi tersebut mendorong para orang tua mahasiswa ITB untuk membangun ruang bersama melalui Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM) ITB.

Ketua IOM ITB Sumatera Utara, Ray B. Sitorus, S.Si., MM, mengatakan IOM ITB menjadi wadah bagi para orang tua untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi, hingga menguatkan satu sama lain dalam mendampingi anak-anak mereka selama menjalani pendidikan di ITB.

“Ini satu wadah bagi orang tua yang anak-anaknya mahasiswa di ITB. Jadi lebih kepada support system. Bagaimana orang tua bisa saling menguatkan, saling curhat atau sharing masalah-masalah anaknya di kampus,” ujar Ray B. Sitorus.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi mahasiswa ITB cukup beragam dan dapat muncul sejak awal perkuliahan hingga menjelang kelulusan.

Tekanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga persoalan ekonomi maupun kondisi psikologis mahasiswa.

“Karena ada fenomena-fenomena yang kita tadi. Ada kejadian-kejadian yang belakangan terjadi. Stres itu ada. Mulai dari baru masuk sampai mau lulus pun, mau skripsi kan stres juga itu,” katanya.

Karena itu, menurut Ray, pertemuan orang tua tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang untuk memahami persoalan yang dihadapi mahasiswa.

Ray menjelaskan, pertemuan orang tua mahasiswa ITB bukan kali pertama digelar.

Kegiatan serupa rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat dukungan kepada mahasiswa.

Tak hanya memberikan dukungan secara moril, IOM ITB juga memiliki program bantuan bagi mahasiswa yang mengalami kendala ekonomi.

Melalui semangat gotong royong para orang tua, IOM ITB menghimpun dana yang kemudian disalurkan dalam berbagai bentuk bantuan pendidikan dan kebutuhan mahasiswa.

Saat penerimaan mahasiswa baru, misalnya, IOM ITB berhasil menghimpun dana yang diperuntukkan bagi program bantuan mahasiswa.

Bantuan tersebut tidak hanya dalam bentuk pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), tetapi juga mencakup bantuan biaya hidup bulanan, laptop, tugas akhir hingga bantuan kebutuhan makanan.

“Jadi tidak hanya satu kategori. Ada beberapa jenis program bantuannya. Ada bantuan UKT, uang kehidupan bulanan, ada laptop, ada juga bantuan tugas akhir,” jelas Ray.

Bahkan, IOM ITB memiliki program bank beras yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan.

Program tersebut menjadi bagian dari kepedulian para orang tua terhadap mahasiswa ITB yang membutuhkan dukungan selama menjalani pendidikan.

Dalam proses penyaluran bantuan, IOM ITB juga melakukan seleksi terhadap mahasiswa yang mengajukan bantuan.

Sekitar 300 mahasiswa disebut telah mengikuti proses wawancara untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan mereka.

Kuliah di ITB Bukan Cuma Akademik: Saat Orang Tua Jadi ‘Jangkar Emosional’ Mahasiswa
“Yang kurang mampu dan banyak kesulitan dana, itu yang kita bantu,” ungkapnya.

Keberadaan IOM ITB sendiri tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Masing-masing wilayah memiliki wadah orang tua mahasiswa, meski tingkat keaktifannya berbeda-beda.

Untuk Sumatera Utara, IOM ITB disebut menjadi salah satu wilayah yang cukup aktif menggelar kegiatan dan membangun kebersamaan antarorang tua mahasiswa.

Menurut Ray, dukungan tersebut penting karena tantangan mahasiswa dapat muncul kapan saja, mulai dari masa awal perkuliahan hingga menjelang penyelesaian tugas akhir.

Dengan adanya komunitas orang tua, persoalan yang dihadapi mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi beban keluarga masing-masing.

Ketua Panitia, Didik Subarma, S.Kep., Ners, M.K.M, mengatakan gathering diminati anggota karena memberikan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dalam suasana yang lebih santai.

Menurutnya, melalui pertemuan tersebut, anggota tidak hanya bertemu dan bersilaturahmi, tetapi juga dapat bertukar informasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan organisasi maupun pengalaman masing-masing.

“Gathering ini cukup diminati anggota karena menjadi tempat untuk saling berbagi informasi. Jadi bukan hanya sekadar berkumpul, tetapi ada komunikasi dan pertukaran informasi antaranggota,” ujar Didik.

Dalam kegiatan tersebut, IOM ITB juga menghadirkan psikolog serta sejumlah pembicara yang memiliki pengalaman sebagai mahasiswa maupun alumni ITB.

Salah satunya Sahat Marthin P. Sinurat, ST, MT, alumni ITB yang turut membagikan pengalaman selama menjalani masa perkuliahan di kampus tersebut.

Pengalaman Sahat menjadi gambaran langsung mengenai dinamika yang dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan di ITB.

Ia berbagi cerita mengenai kehidupan mahasiswa, tantangan akademik, serta berbagai pengalaman yang dihadapi selama menjalani proses pendidikan.

Menurutnya, mahasiswa perlu memperbanyak relasi, memperdalam ilmu, sekaligus membangun karakter.

“Kembangkan diri, perbanyak teman, perdalam ilmu dan karakter,” ujar Sahat.

Ia juga mengingatkan generasi muda untuk menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kehilangan jati diri, individualisme, hingga pengaruh lingkungan yang negatif.

Dalam materinya, Sahat menekankan enam aspek penting dalam pengembangan diri, yakni connection, confidence, competence, contribution, character, dan caring.

Sahat mengatakan kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membangun relasi, kepercayaan diri, kompetensi, kontribusi, karakter dan kepedulian.

Pesan tersebut menjadi bagian dari upaya IOM ITB Sumatera Utara memberikan perspektif kepada orang tua dalam mendampingi mahasiswa selama menjalani pendidikan.

Psikolog Dr. Sunarto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan mahasiswa saat ini menghadapi medan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

“Tuntutan zaman menuntut mahasiswa menjadi sempurna sejak semester pertama. Kompetisi bukan lagi antar-teman sekelas, tetapi sudah global dan digital,” ujar Dr. Sunarto dalam kegiatan pertemuan orang tua mahasiswa ITB.

Menurutnya, dukungan kepada mahasiswa tidak cukup hanya melalui fasilitas fisik maupun kebutuhan akademik. Mereka juga membutuhkan rasa aman secara emosional.

“Dukungan fasilitas fisik saja tidak lagi cukup tanpa adanya keamanan emosional,” katanya.

Dr. Sunarto menyebut terdapat sejumlah tantangan mental yang perlu dipahami orang tua ketika mendampingi mahasiswa Gen Z di kampus.

Di antaranya burnout akademik, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain atau comparison, imposter syndrome, fear of missing out (FOMO), hingga fenomena masking ketika mahasiswa menyembunyikan kondisi sebenarnya agar terlihat baik-baik saja.

Selain itu, mahasiswa juga menghadapi future anxiety, yakni kecemasan terhadap masa depan, serta persoalan kesepian atau loneliness epidemic.

“Orang tua perlu memahami medan tempur mental Gen Z di kampus. Mereka tidak hanya membutuhkan tempat untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga membutuhkan jangkar rasa aman,” ungkapnya.

Menurutnya, keluarga dapat menjadi salah satu tempat mahasiswa mendapatkan rasa aman tersebut. Kehadiran orang tua sebagai pendengar dan tempat bercerita dinilai penting agar mahasiswa tidak merasa menghadapi berbagai tekanan seorang diri.

Karena itu, keberadaan komunitas seperti Ikatan Orang Tua Mahasiswa (IOM) ITB dinilai dapat menjadi ruang bagi orang tua untuk saling berbagi pengalaman dan memahami tantangan yang dihadapi anak selama menjalani pendidikan.

Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya membantu mahasiswa mencapai prestasi akademik, tetapi juga mampu menjalani masa perkuliahan dengan kondisi emosional yang lebih sehat hingga menyelesaikan pendidikan.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi