Belajar dari Lubuk Sidup: Menyaksikan Pemulihan Desa Pasca Banjir Bandang di Aceh Tamiang

Belajar dari Lubuk Sidup: Menyaksikan Pemulihan Desa Pasca Banjir Bandang di Aceh Tamiang
Belajar dari Lubuk Sidup: Menyaksikan Pemulihan Desa Pasca Banjir Bandang di Aceh Tamiang (Analisadaily/Istimewa)

Oleh: Mahasiswa Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Universitas Sumatera Utara

Analisadaily.com, Aceh Tamiang – Mahasiswa Program Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan Studio Perencanaan dan Perencanaan Tata Ruang di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pada 2–3 Mei 2026.

Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman lapangan kepada mahasiswa dalam memahami kondisi wilayah pascabencana sekaligus mengkaji berbagai aspek perencanaan pembangunan dan tata ruang secara langsung.

Selama dua hari, mahasiswa melakukan observasi lapangan, wawancara dengan perangkat desa dan masyarakat, serta pemetaan menggunakan teknologi drone untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi wilayah pascabencana.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori perencanaan di ruang kelas, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana masyarakat menghadapi dan bangkit dari dampak bencana.

Desa Lubuk Sidup merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang pada akhir tahun 2025. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman warga dan berbagai fasilitas umum. Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah rusaknya jembatan penghubung desa yang menghambat mobilitas warga serta mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Saat berada di lokasi, mahasiswa menyaksikan langsung jejak bencana yang masih terlihat jelas pada lanskap desa. Sisa material kayu yang terbawa arus banjir masih ditemukan di sejumlah titik, sementara beberapa area yang sebelumnya menjadi permukiman kini berubah menjadi lahan terbuka akibat kuatnya aliran air yang menerjang kawasan tersebut.

Kerusakan juga tampak pada sejumlah infrastruktur desa, termasuk bangunan kantor desa yang mengalami kerusakan akibat banjir. Kondisi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai besarnya dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat serta pentingnya upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana dalam proses pembangunan wilayah.

Meski demikian, semangat masyarakat untuk bangkit kembali sangat terasa. Salah satu pusat aktivitas warga saat ini adalah Masjid Nurussalam yang menjadi tempat berkumpul, berkoordinasi, dan melaksanakan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan pascabencana. Kehadiran hunian sementar abagi warga terdampak juga menunjukkan bahwa proses pemulihan terus berjalan dengan dukungan berbagai pihak.

Selain mempelajari dampak sosial dan ekonomi bencana, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran penerapan teknologi dalam perencanaan wilayah. Melalui pemetaan drone dan analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), mahasiswa melakukan identifikasi kondis isempadan sungai, perubahan tutupan lahan, serta lokasi fasilitas umum yang terdampak bencana.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar permukiman di Desa Lubuk Sidup berkembang mengikut ikoridor sungai. Pola perkembangan tersebut memberikan kemudahan akses terhadap sumber daya air, namun pada saat yang sama meningkatkan tingkat kerentanan masyarakat terhadap ancaman banjir dan erosi. Temuan ini menjadi salah satu bahan penting dalam merumuskan rekomendasi perencanaan wilayah yang lebih adaptif terhadap risiko bencana.

Kegiatan lapangan ini memberikan pemahaman bahwa pembangunan wilayah tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik semata, tetapi juga harus memperhatikan aspek ketahanan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Perencanaan yang baik harus mampu mengurangi tingkat kerentanan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman di masa mendatang.

Bagi mahasiswa PWD USU, Desa Lubuk Sidup bukan sekadar lokasi penelitian. Desa ini menjadi ruang belajar yang memperlihatkan secara nyata hubungan antara kondisi lingkungan, kehidupan masyarakat, kebijakan pembangunan, dan pentingnya perencanaan tata ruang yang berkelanjutan. Di balik kerusakan yang ditinggalkan bencana, terdapat pelajaran berharga tentang ketangguhan, gotong royong, serta kemampuan masyarakat untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka.

Kunjungan lapangan ini menjadi pengingat bahwa setiap peta yang disusun, setiap analisis yang dilakukan, dan setiap rencana pembangunan yang dirancang pada akhirnya harus bermuara pada tujuan yang sama, yaitu mewujudkan wilayah yang lebih aman, tangguh, berkelanjutan, dan layak huni bagi seluruh masyarakat.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi