Tim Dosen Fakultas Keperawatan USU Gelar "Family Healing"

Tim Dosen Fakultas Keperawatan USU Gelar
Tim Dosen Fakultas Keperawatan USU Gelar "Family Healing" (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Tapanuli Selatan - Tim Pengabdian Masyarakat skema Kesehatan dari Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan pendampingan keperawatan jiwa komunitas terhadap masyarakat terdampak banjir di Kecamatan Angkola Barat, kabupaten Tapanuli Selatan, pada Sabtu (2/5/2026).

Pengabdian yang bertajuk "Family Healing" yang turut menggandeng TP PKK Angkola Barat itu bertujuan mengantisipasi ancaman gangguan kesehatan jiwa ringan pada masyarakat. Seperti kecemasan akut (anxiety), stres pasca-trauma (PTSD), dan ketidakpastian emosional pada keluarga terdampak bencana alam.

Kegiatan yang dilaksanakan tersebut berdasarkan Surat Tugas LPPM USU Nomor: 10146/UN5/KaLPPM/LPPM/PM.0105/2026 dipimpin oleh Mahnum Lailan Nasution, S.Kep., Ns., M.Kep., bersama anggota tim dosen ahli, Wardiyah Daulay, S.Kep., Ns., M.Kep dan Sri Eka Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kep.

"Keluarga adalah unit terkecil sekaligus benteng pertahanan utama dalam menghadapi krisis. Melalui Family Healing, kami melatih para ibu dan kader PKK agar memiliki kapasitas mandiri untuk mengenali, menyaring, dan mengelola stres psikososial pasca-bencana secara internal. Tanpa harus menunggu bantuan profesional yang sering kali terkendala jarak," jelas Ketua Tim Pengabdi Mahnum Lailan Nasution kepada awak media ini, Rabu (1/7/2026) terkait kegiatan yang sudah dilaksanakan tersebut.

Dikatakan Mahnum sebelum dilakukan intervensi, tim pengabdi melakukan skrining kesehatan fisik dan pengisian kuesioner Generalized Anxiety Disorder (GAD-7) terhadap 114 warga terdampak. Berdasarkan data demografi, mayoritas peserta adalah perempuan (88.6%) pada rentang usia produktif dan lansia.

"Tim menemukan adanya korelasi kuat antara beban psikologis dengan keluhan fisik warga pasca-banjir. Sebanyak 45.6% warga mengeluhkan sakit kepala/pusing kronis dan 47.3% di antaranya teridentifikasi memiliki tekanan darah di atas normal (Hipertensi Derajat 1, 2, dan 3) yang dipicu oleh stres dan kekhawatiran akan banjir susulan," jelas Mahnum.

Melalui instrumen GAD-7, lanjutnya, manifestasi kecemasan yang paling mendominasi adalah perasaan gelisah atau amat tegang (13.2% hampir setiap hari) dan perasaan takut seolah-olah sesuatu yang mengerikan akan terjadi (33.3% dalam separuh waktu).

Dikatakan Mahnum pengabdian tersebut meliputi: Psikoedukasi Kesehatan Jiwa & Deteksi Dini, Pelatihan Manajemen Stres, Simulasi Psychological First Aid (PFA), dan Modul Saku "Ibu Tangguh".

"Intervensi ini terbukti berdampak positif signifikan. Hasil post-test menunjukkan pergeseran respons kecemasan warga ke arah yang lebih ringan dan terkontrol. Penurunan paling drastis terlihat pada indikator ketidakmampuan mengendalikan rasa khawatir," pungkasnya. (MC)

(MC/WITA)

Baca Juga

Rekomendasi