Analisadaily.com, Langkat - Empat profesor Universitas Sumatera Utara (USU) dari berbagai disiplin ilmu berkolaborasi memperkuat kapasitas kader kesehatan dan masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah kesehatan pascabanjir di Kabupaten Langkat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui kemitraan dengan Puskesmas dan desa sebagai upaya membangun ketahanan kesehatan masyarakat di wilayah yang rentan terdampak bencana banjir. Pada bulan April - Mei 2026, tim pengabdian melaksanakan program “Penguatan Layanan Kesehatan Primer Pascabencana Melalui Pemberdayaan Kader Kesehatan untuk Mendukung SDGs No. 3 dan Astacita” di wilayah kerja UPT Puskesmas Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.?
Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS bersama Prof. Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A., Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), Prof. Dr. dr. Rina Amelia, MARS, FISPH., FISCM., Sp.KKLP, Puan Maharani, S.Hum., M.A serta mahasiswa USU.
Dengan kepakaran manajemen sumber daya keperawatan dan teknologi informasi keperawatan, kedokteran klinis, kedokteran komunitas dan keluarga, serta antropologi sosial.
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Universitas Sumatera Utara melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat dalam mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan masyarakat pascabencana banjir di Sumatera Utara.
Selama pelaksanaan kegiatan, sebanyak 100 kader kesehatan mengikuti pelatihan intensif deteksi dini penyakit pascabanjir, melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemantauan kesehatan masyarakat, serta pendampingan keluarga berisiko tinggi, dan edukasi kesehatan kepada warga masyarakat.
Dalam pengabdian masyarakat ini didukung dengan media pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan daya ingat peserta, berupa buku saku kesehatan keluarga yang berisi panduan deteksi dini penyakit, pencegahan penyakit pascabanjir, perilaku hidup bersih dan sehat, serta langkah-langkah penanganan awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kapasitas kader yang signifikan. Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pengetahuan dan kompetensi kader dalam mengenali dan menangani masalah kesehatan pascabencana.
Prof. Dr. Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS Sebagai Ketua Tim menjelaskan bahwa penguatan kapasitas kader kesehatan merupakan strategi penting untuk membangun ketahanan kesehatan masyarakat di wilayah rawan bencana.
"Banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga berbagai persoalan kesehatan yang dapat berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, kami berupaya memperkuat kapasitas kader kesehatan sebagai garda terdepan di masyarakat agar mampu melakukan deteksi dini, edukasi, pendampingan keluarga, hingga pelaporan kasus secara cepat dan tepat. Program ini merupakan bentuk nyata kolaborasi perguruan tinggi, puskesmas, dan masyarakat dalam penguatan layanan kesehatan primer yang tangguh menghadapi bencana," ujar Prof. Reni.
Dalam kegiatan pelayanan kesehatan, tim menemukan berbagai kasus kesehatan yang bervariasi dengan dominasi penyakit diare, penyakit kulit seperti kutu air dan kurap, DBD, ISPA, serta penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, dan asam urat.
Temuan tersebut memperkuat pentingnya deteksi dini dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan di wilayah yang berisiko mengalami banjir berulang.
Program ini juga mengadopsi inovasi hasil riset dan paten yang dikembangkan tim pengabdian, yaitu sistem peningkatan kemandirian masyarakat dalam mendeteksi status kesehatan serta sistem pemantauan kesehatan berbasis telenursing.
Melalui pemanfaatan teknologi komunikasi, kader kesehatan dan tenaga kesehatan dapat melakukan pemantauan kondisi masyarakat secara lebih cepat dan berkelanjutan. Melalui inovasi tersebut, kader dapat melaporkan kondisi kesehatan masyarakat secara cepat dan berkala kepada tenaga kesehatan.
Salah seorang kader kesehatan mengaku memperoleh banyak manfaat dari pelatihan yang diberikan.
"Melalui pelatihan ini kami mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang cara mengenali tanda-tanda penyakit pascabanjir, melakukan kunjungan rumah, dan mendampingi warga yang membutuhkan bantuan kesehatan. Sekarang kami lebih siap membantu masyarakat dan berkoordinasi dengan Puskesmas ketika menemukan kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut," ungkapnya.
Menurut tim pengabdian, kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan adaptif terhadap bencana.
Keberadaan kader yang terlatih diharapkan mampu mempercepat deteksi masalah kesehatan, meningkatkan kepatuhan pengobatan, memperkuat edukasi kesehatan keluarga, serta memperluas jangkauan layanan promotif dan preventif hingga ke tingkat rumah tangga.
Melalui kegiatan ini, Universitas Sumatera Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam menerapkan hasil penelitian dan inovasi untuk menjawab permasalahan nyata di masyarakat. Program pengabdian ini diharapkan menjadi model penguatan layanan kesehatan primer berbasis komunitas yang dapat direplikasi di daerah lain yang memiliki risiko bencana serupa.
(REL/BR)











