Tim USU Berdayakan Santri di Langkat: Manfaatkan Lengkuas Merah Jadi Sabun dan Salep Perawatan Kulit

Tim USU Berdayakan Santri di Langkat: Manfaatkan Lengkuas Merah Jadi Sabun dan Salep Perawatan Kulit
Tim USU Berdayakan Santri di Langkat: Manfaatkan Lengkuas Merah Jadi Sabun dan Salep Perawatan Kulit (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Langkat — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan pemberdayaan di Pondok Pesantren Khoirotul Usroh, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Minggu (26/8/2026).

Kegiatan ini menggabungkan edukasi kesehatan kulit pascabencana dengan pelatihan pembuatan sabun transparan dan salep berbahan lengkuas merah (Alpinia purpurata).

Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat USU tahun 2026 yang diketuai Sri Yuliasmi, S.Farm., M.Si., Apt., dengan anggota Jane Melita Keliat, S.Si., M.Si., Prof. Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan, DAP&E, MPH, Sp.ParK, dan Bayu Eko Prasetyo, S.Farm., M.Sc., Apt. Serta melibatkan mahasiswa Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Fakultas Vokasi USU.

Kegiatan tersebut difokuskan pada peningkatan pengetahuan santri dan santriwati mengenai kesehatan kulit, terutama pada kondisi pascabencana banjir. Peserta mendapat penjelasan mengenai gangguan kulit yang dapat muncul, pentingnya menjaga kebersihan diri, serta langkah sederhana mencegah masalah kulit melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

Selain edukasi kesehatan, tim USU juga memperkenalkan potensi lengkuas merah sebagai bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk perawatan kulit. Lengkuas merah dipilih karena dekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang lebih praktis serta bernilai guna.

Kegiatan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi. Para peserta juga mengikuti demonstrasi dan praktik langsung pembuatan sabun transparan serta salep berbahan ekstrak lengkuas merah. Mereka diperkenalkan pada tahapan persiapan bahan, pencampuran, pembuatan produk, hingga pengemasan dan pelabelan.

Pelatihan pembuatan salep lengkuas merah diikuti 58 santri. Sedangkan pelatihan pembuatan sabun transparan lengkuas merah diikuti oleh 48 santriwati. Sebelum kegiatan dimulai, peserta mengisi kuesioner untuk melihat pengetahuan awal mereka mengenai kesehatan kulit, pemanfaatan lengkuas merah, serta penggunaan sabun dan salep.

Setelah seluruh rangkaian edukasi dan praktik selesai, peserta kembali mengisi post-test sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Sebagai bagian dari kegiatan, seluruh peserta juga mendapatkan produk sabun transparan dan salep lengkuas merah. Produk tersebut menjadi media edukasi yang dapat membantu peserta mengenal lebih dekat pemanfaatan bahan alam dalam bentuk produk yang sederhana dan mudah digunakan.

Keterlibatan peserta terlihat selama sesi diskusi, demonstrasi, dan praktik. Santri dan santriwati tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah bahan alam menjadi produk perawatan kulit. Pendekatan praktik seperti ini diharapkan membuat materi lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi tim pengabdian USU, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan perguruan tinggi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Edukasi kesehatan kulit dipadukan dengan keterampilan pemanfaatan bahan alam agar masyarakat memperoleh manfaat yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi keterampilan yang berguna.

Sejalan Dengan SDGs

Kegiatan pengabdian masyarakat ini turut mendukung sejumlah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, antara lain:

SDG 3 – Kehidupan Sehat dan Sejahtera — Edukasi kesehatan kulit pascabencana banjir membantu santri dan santriwati mengenali risiko gangguan kulit serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.

SDG 4 – Pendidikan Berkualitas — Pelatihan disampaikan melalui pendekatan teori sekaligus praktik langsung, sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

SDG 5 – Kesetaraan Gender — Program melibatkan santri dan santriwati secara setara dalam pelatihan pembuatan salep dan sabun transparan, membuka akses keterampilan yang sama bagi peserta laki-laki maupun perempuan.

SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi — Keterampilan mengolah lengkuas merah menjadi sabun dan salep membuka potensi kewirausahaan berbasis bahan alam lokal bagi peserta di masa mendatang.

SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab — Pemanfaatan lengkuas merah, tanaman lokal yang mudah didapat, sebagai bahan baku produk perawatan kulit mendorong pengolahan sumber daya alam secara efisien dan bernilai tambah.

SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan — Kolaborasi antara perguruan tinggi (USU) dan lembaga pendidikan keagamaan (Pondok Pesantren Khoirotul Usroh) menjadi contoh sinergi lintas sektor dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, tim berharap santri, santriwati, dan pengajar Pondok Pesantren Khoirotul Usroh semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan kulit sekaligus mampu melihat potensi bahan alam di sekitar sebagai sumber produk yang bermanfaat.

Ke depan, pendampingan akan terus diperkuat agar pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat diterapkan secara lebih mandiri. Pengembangan sabun transparan dan salep lengkuas merah juga akan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan mutu, keamanan, stabilitas produk, pengemasan, dan ketentuan yang berlaku sebelum dikembangkan lebih luas.

(MC/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi