Dari Udang Rebon, Tumbuh Harapan Perempuan Pesisir Kelantan

Dari Udang Rebon, Tumbuh Harapan Perempuan Pesisir Kelantan
Sejumlah pelajar SMP kawasan Kelantan mendengarkan sesi demo membuat belacannyang digelar PT Pertamina GAS ONSA. analisadaily/qodrat alqadri (Analisadaily/qodrat al qadri)

Analisadaily.com, Langkat - Butuh sekitar tiga jam perjalanan darat dari pusat Kota Medan, untuk bisa singgah di Desa Kelantan. Hari itu Kamis, 24 September 2026, saya dan beberapa rombongan diundang langsung oleh PT. Pertamina Gas (Pertagas) Operation North Sumatra Area (ONSA), untuk melihat langsung binaan mereka yang kini berdaya dalam mengolah udang rebon menjadi belacan.

Butuh sekitar tiga jam perjalanan darat dari pusat Kota Medan, untuk bisa singgah di Desa Kelantan. Hari itu Kamis, 24 September 2026, saya dan beberapa rombongan diundang langsung oleh PT. Pertamina Gas (Pertagas) Operation North Sumatra Area (ONSA), untuk melihat langsung binaan mereka yang kini berdaya dalam mengolah udang rebon menjadi belacan.

Di layar ponsel pintar yang tersambung GPS, Suhu luar ruangan Brandan saat itu menunjukkan 32 derajat. Matahari tampak senyum menyambut kami yang saat itu melanjutkan perjalanan menyebrang laut menggunakan sampan kecil, orang setempat menyebutnya "tambang".

Memiliki luas 3,4 hektare, Desa Kelantan yang saat ini dihuni 1.709 jiwa sepenuhnya berada di atas perairan. Rumah-rumah warga dibangun di atas pancang kayu yang tertanam ke dasar sungai.

Karenanya untuk bisa keluar masuk desa yang berjarak sekitar 91 kilometer arah utara dari Kota Medan ini, warga sepenuhnya memanfaatkan jalur transportasi air berupa perahu kayu yang disebut tambang.

Perjalanan 5 menit menyebrang laut, sandarlah tambang kami di salah satu dermaga kecil. Disana sudah berdiri dengan senyum lepas Maesaroh, Nana, Aini, Rafeah, Fatimah, bersama beberapa warga lainnya.

Kami disambut, dengan hangat. Khas perkenalan ala masyarakat pesisir yang terkenal ramah, kami pun mulai mendengarkan kisah beberapa perempuan pesisir kelantan ini.

Berawal dari usaha rumahan, Maesaroh mengolah udang kecepe dengan cara tradisional. Udang dijemur, ditumbuk, difermentasi semalam, kemudian dijemur kembali hingga menjadi belacan. Hasilnya dikemas sederhana dan dipasarkan dari pasar ke pasar, bahkan hingga ke luar daerah melalui kerabat.

Perjalanan usaha itu tak selalu mudah. Keterbatasan peralatan, kemasan seadanya, hingga pemasaran yang masih bergantung pada jaringan keluarga membuat usaha belacan sulit berkembang. Upaya membangun pabrik bersama keluarga pada 2011 pun tak bertahan lama.

"Kalau saya sudah lama mulai bikin-bikin belacan ini, walau proses buat nya lama, ya harus kita jalani, tekuni, karena dari sini pula kami dapat rejeki nya, suami kan melaut, dari sini lah ada tambah-tambahannya," kata Maesaroh

Tidak berbeda dengan Nana (54), dirinya juga mengaku sangat terbantu dengan adanya bisnis belacan yang mereka tekuni, walau terkadang terkendala bahan baku yang sulit dan mahal.

"Kami selalu buat belacan, yang beli sementara ini ya tetangga-tetangga disini saja, beli nya pun dari pesan singkat WhatsApp (WA). Kadang dipesan dua kilo paling sedikit, paking banyak pernah ada pesan 30 kilogram, semua kami syukuri. Dan bersyukur sekarang sudah dibina sama Pertamina Gas kami, " kata Nana

Harapan baru mulai tumbuh ketika Pertamina Gas (Pertagas) Operation North Sumatra Area (ONSA) memberikan pendampingan melalui program pemberdayaan masyarakat. Maesaroh bersama sembilan perempuan lainnya kini tergabung dalam Kelompok Kelantan Berandan Jaya, sebuah kelompok pengrajin belacan yang mendapat bantuan peralatan produksi, penguatan kelembagaan, serta pendampingan pengembangan kemasan dan pemasaran.

Program ini menyasar masyarakat Desa Kelantan, sebuah permukiman pesisir yang berada di atas perairan dan sangat bergantung pada hasil laut. Ketidakpastian cuaca dan pasang surut membuat hasil tangkapan nelayan tidak selalu dapat diandalkan. Di tengah kondisi itu, belacan khas berbahan udang rebon dan garam menjadi potensi ekonomi lokal yang selama ini belum tergarap maksimal.

External Relation West Region PT Pertagas, Silma Auliya Rahma, menyebutkan, program ini dibuat atas dasar kondisi geografis Desa Kelantan yang unik sekaligus rentan. Yaitu kawasan pemukiman yang tidak memiliki wilayah daratan sama sekali dan berada di atas perairan.

Keterisolasian ini membuat akses masyarakat terhadap pelayanan publik menjadi sangat terbatas. Ditambah lagi, kondisi pasang surut air laut yang kian tidak menentu akibat perubahan cuaca berdampak langsung pada penurunan hasil tangkapan nelayan.

“Di sisi lain, masyarakat memiliki potensi warisan kuliner turun-temurun berupa belacan khas berbahan 100% udang rebon asli dan garam tanpa pemadat. Sayangnya, potensi ekonomi tersebut belum optimal karena pengolahan yang masih sangat tradisional, kemasan yang tidak standar, serta ketergantungan pada tengkulak dengan harga jual rendah,” sebut Silma.

Dijelaskan Silma, program pendampingan ini dirancang berlangsung selama 5 tahun (2026-2031). Mulai dari pengembangan hingga mencapai fase penyerahan pengelolaan penuh (phasing over) kepada BUMDes/Pemerintah Desa.

Saat ini program sedang memasuki tahun pertama pelaksanaan intervensi (fase inisiasi) yang mencakup penyerahan bantuan perlengkapan dan peralatan produksi yang lebih memadai serta higienis, perbaikan kualitas kemasan produk (packaging upgrade) agar berdaya saing di pasar modern.

Melalui pendampingan yang dirancang berlangsung hingga 2031, Pertagas berharap usaha belacan dapat berkembang menjadi sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat, khususnya perempuan pesisir.

Bagi Maesaroh, dan beberapa oerempuan belacan lainnya pendampingan ini bukan sekadar tentang peralatan dan kemasan yang lebih baik. Ada harapan agar usaha yang telah dijalaninya selama dua dekade bisa tumbuh lebih besar, memiliki pasar yang lebih luas, dan memberi penghasilan lebih pasti bagi keluarganya.

Dari tangan para perempuan Desa Kelantan, belacan bukan sekadar warisan kuliner pesisir. Di dalamnya tersimpan ketekunan, kemandirian, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Penulis:  Qodrat Al-qadri
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi