Menjaga Silaturahim

Imam Ja’far al-Shadiq mengisahkan, “Ayahku (Imam Muhammad al-Baqir) menceritakan dari ayahnya, Imam al-Sajjad mengatakan, “Wahai anakku, jangan bergaul, berbicara dan menjalin hubungan persahabatan dengan lima kelompok manusia.” Lalu Imam Muhammad al-Baqir bertanya, “Wahai ayah, siapkah mereka ?” Lalu beliau mengatakan, pertama, jangan bergaul dengan seorang pendusta. Ia bagaikan fatamorgana, menjauhkan sesuatu yang dekat dan mendekatkan sesuatu yang jauh.

Kedua, jangan bergaul dengan orang fasik dan pendosa. Sebab ia akan menjualmu dengan segenggam (makanan) atau lebih sedikit. 

Ketiga, jangan bergaul dengan orang bakhil. Sebab, ia tidak akan memberi hartanya padamu di saat kamu terdesak kebutuhan.

Keempat, jangan bergaul dengan orang dungu. Sebab (dikarenakan kedunguannya), ia akan membahayakanmu justru ketika ia hendak membantumu.

Kelima, janganlah bergaul dengan orang yang memutuskan tali silaturahim. Sebab, aku menemukan orang itu terkutuk dalam tiga ayat al-Qur’an.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka .” (QS Muhammad: 22-23).

“Dan orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dengan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (QS al-Ra’d: 25).

“Yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi.Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Baqarah: 27).

Pada hadis yang lain Rasulullah Saw bersabda,”Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan, adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah). 

***

Ayat dan hadis di atas menggarisbawahi pentingnya makna silaturahim dalam kehidupan. Silaturahim tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.

Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung menjadi tersambung atau terikat. Sementara menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan kemudian dikumpulkan menjadi sesuatu yang utuh. 

Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus." (HR Bukhari).

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini sesuatu yang biasa dilakukan oleh siapa saja. Namun, sanggupkah mental kita ber-silaturahmi kepada mereka yang tidak pernah mengunjungi kita, lalu kita dengan sengaja mengunjunginya? Atau orang yang pernah menyakiti hati kita lalu kita ber-silaturahim kepadanya? Rata-rata kita tidak siap untuk ini, padahal inilah sebenarnya arti dari ‘menyambung’ tersebut yaitu menyambung dari sesuatu yang telah putus. Di sini diperlukan kedewasaan mental dan keluasan hati untuk mencairkan dendam yang mungkin selama ini bermukim di hati kita. 

Orang yang selalu bersilaturahim mendapatkan beberapa manfaat antara lain”

“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (HR Muslim) “Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

“Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.” (HR Imam Tirmidzi) “Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.” (HR Imam Muslim)

Jika dirangkum, maka paling tidak ada 6 manfaat silaturahmi itu yaitu: (1) Diluaskan rezekinya. (2) Dikenang kebaikannya. (3) Dipanjangkan umurnya. (4) Khusnul khatimah (5) Kecintaan dalam keluarga dan (6) Kunci masuk syurga

Luar biasa manfaat dari silaturahim ini. Syangnya tidak banyak orang yang suka bersilaturahim. Karena itu, marilah kita selalu ber-silaturahim, baik itu dengan keluarga, teman, tetangga dan orang-orang yang pernah dekat dengan kita.

()

Baca Juga

Rekomendasi