Analisadaily.com, Pematangsiantar - Di salah satu ruang kelas SMP Swasta Mars, Pematangsiantar, suara siswa yang berdiskusi dan tertawa kini menjadi pemandangan yang biasa. Tidak ada lagi wajah-wajah bosan yang hanya menatap papan tulis sambil menyalin materi. Di balik perubahan suasana itu, ada sosok guru muda bernama Sri Wahyuningsih, S.M., yang berhasil mengubah cara pandang terhadap pembelajaran Informatika.
Lahir di Pematangsiantar pada 26 Juni 1998, Sri Wahyuningsih mengajar mata pelajaran Informatika untuk siswa kelas VII hingga IX. Sebagai guru yang tumbuh di era digital, ia memahami bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi bagaimana membuat siswa mampu berpikir, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Namun perjalanan itu tidak selalu mudah.
Pada awal mengajar, Sri mengakui dirinya masih menggunakan metode konvensional. Pembelajaran berlangsung melalui ceramah, buku paket, dan presentasi PowerPoint. Sementara itu, keterbatasan perangkat komputer di sekolah sering menjadi alasan mengapa pelajaran Informatika terasa kurang menarik bagi siswa.
“Dulu saya berpikir Informatika harus menggunakan laptop. Akibatnya, siswa cepat bosan karena merasa tidak bisa praktik,” kenangnya.
Titik balik terjadi ketika ia mengikuti pendampingan Fasda Tanoto Foundation. Dalam salah satu sesi praktik mengajar yang menyenangkan, Sri mendapat pengalaman yang mengubah cara berpikirnya sebagai pendidik.
Ia menyadari bahwa esensi Informatika bukanlah perangkat komputer, melainkan kemampuan berpikir logis dan sistematis.
“Dari situ saya sadar ternyata selama ini saya terlalu bergantung pada media. Padahal yang paling penting adalah bagaimana mengembangkan cara berpikir anak,” ujarnya.
Sejak saat itu, pola pikirnya berubah. Baginya, tidak adanya laptop bukan lagi hambatan untuk mengajarkan Informatika. Ia mulai menerapkan pendekatan Computational Thinking atau berpikir komputasional tanpa komputer. Siswa diajak memahami konsep pemecahan masalah melalui aktivitas sederhana yang melibatkan logika, kolaborasi, dan kreativitas.
Perubahan tersebut kemudian melahirkan berbagai inovasi di kelas.
Sri mulai mengembangkan pembelajaran berbasis permainan. Dengan memanfaatkan PowerPoint interaktif dan berbagai situs permainan edukatif di internet, ia mengemas materi Informatika menjadi lebih menarik dan dekat dengan dunia siswa.
Suasana kelas pun berubah drastis. Anak-anak yang sebelumnya pasif kini berani mencoba, aktif berdiskusi, dan lebih bersemangat mengikuti pelajaran.
Bagi Sri, keberhasilan tidak selalu diukur dari angka rapor atau prestasi akademik semata. Antusiasme siswa menjadi indikator paling nyata bahwa metode yang diterapkannya berhasil.
“Yang paling membuat saya bangga adalah melihat mereka senang belajar. Mereka berani mencoba hal baru dan lebih aktif di kelas,” katanya.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya datang dari seorang siswa bernama Hotman Lie. Sebelum metode baru diterapkan, Hotman dikenal sebagai siswa yang kurang bersemangat mengikuti pembelajaran dan sering terlihat malas mengerjakan tugas.
Namun perlahan, perubahan mulai terlihat.
Setelah pembelajaran berbasis permainan dan aktivitas interaktif diterapkan, Hotman justru menjadi salah satu siswa yang aktif di kelas. Ia rajin mengerjakan tugas dan menunjukkan minat yang lebih besar terhadap pelajaran.
“Melihat perubahan itu membuat saya merasa usaha yang dilakukan tidak sia-sia,” ujar Sri.
Cerita serupa juga datang dari Irene, siswi kelas IX yang awalnya merasa takut menggunakan komputer. Saat pembelajaran pengolahan data menggunakan Microsoft Excel, Sri memberikan pendampingan secara bertahap dan mendorong Irene untuk mencoba sendiri.
Hasilnya di luar dugaan. Rasa takut itu berubah menjadi rasa ingin tahu. Irene mulai menikmati proses belajar dan semakin percaya diri menggunakan komputer.
Bagi Sri, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa setiap siswa memiliki potensi yang dapat berkembang ketika diberi kesempatan dan pendekatan yang tepat.
Semangat untuk terus berinovasi juga lahir dari dukungan lingkungan sekitar. Antusiasme siswa dan rekan kerja menjadi sumber motivasi yang membuatnya terus mencoba berbagai metode pembelajaran baru.
Ia menilai Fasda Tanoto Foundation memiliki peran besar dalam membangun kepercayaan dirinya sebagai guru.
“Fasda membuat saya lebih percaya diri untuk menerapkan ide-ide baru dalam pembelajaran,” ungkapnya.
Dampak inovasi yang dilakukan Sri ternyata tidak hanya dirasakan oleh siswa. Rekan-rekan guru di sekolah juga mulai terinspirasi untuk mencoba pendekatan serupa di kelas masing-masing. Perlahan, budaya pembelajaran yang lebih kreatif mulai tumbuh.
Menurut Sri, perubahan memang harus dimulai sekarang. Ia melihat siswa SMP saat ini hidup di tengah dunia digital yang bergerak sangat cepat. Jika pembelajaran Informatika hanya berisi teori, maka siswa akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan di masa depan.
“Anak-anak hidup di era digital. Kalau mereka hanya hafal teori tetapi tidak bisa berpikir sistematis atau memecahkan masalah, itu sangat disayangkan,” katanya.
Karena itu, ia percaya kreativitas guru menjadi kunci, bahkan ketika sarana masih terbatas.
“CPU terbaik itu sebenarnya otak anak, bukan komputer. Kardus, kertas, spidol, bahkan tubuh anak sendiri bisa menjadi media belajar. Kalau kita menunggu fasilitas lengkap baru bergerak, generasi ini akan tertinggal,” tegasnya.
Inspirasi untuk menciptakan berbagai alat peraga dan metode pembelajaran ia peroleh dari berbagai sumber, mulai dari media sosial seperti TikTok dan YouTube hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Ke depan, Sri telah menyiapkan langkah yang lebih besar melalui program yang ia beri nama “Informatika Tanpa Batas”. Melalui program tersebut, ia ingin mengajak guru dari berbagai mata pelajaran berkolaborasi menciptakan kegiatan pembelajaran yang terintegrasi dengan konsep Informatika.
Selain itu, ia juga berencana membentuk kelompok belajar guru sebagai ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Baginya, pendampingan Fasda mungkin suatu saat akan selesai, tetapi semangat belajar tidak boleh berhenti.
“Harapan saya, guru-guru tetap bisa belajar secara mandiri dan saling menginspirasi. Karena perubahan pendidikan tidak lahir dari satu orang, tetapi dari banyak guru yang mau terus bertumbuh,” pungkasnya.











